Jumat, 29 November 2019

SHALAT OBAT DARI SEGALA OBAT



SHALAT OBAT DARI SEGALA OBAT
PENDALAMAN TERAPI SHALAT BAHAGIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Trainer “Pendalaman Terapi Shalat Bahagia”

Sholat merupakan obat dari segala obat. Mengapa demikian? Karena sholat merupakan obat dari suatu masalah. Entah itu masalah jasmani maupun rohani. Sholat dapat membuat kita tenang, meredam amarah, tempat segala curahan larah, tempat cucuran air mata, tempat mengadu suatu masalah. Karena sholat merupakan bentuk interaksi hamba dengan sang pencipta.
 Dalam Islam, shalat terbagi dua; shalat yang wajib atau biasa disebut shalat fardhu dan shalat sunnah". Shalat yang wajib ialah shalat yang lima waktu; Shubuh, Dzuhur, „Ashar, Maghrib, dan Isya‟. Allah berfirman dalam al-Qur‟an
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. an Nisa: 103)
Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratan yang ada. Dalam kesempatan lain dia juga menjelaskan tentang apa itu shalat. Dalam kajian ini Mohammad Ali Aziz (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”), mengatakan: “Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam, itu shalat mbak, adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepadanya serta menumbuhkan didalam jiwanya rasa kebesaran, kesempurnaan dan kesuasaannya atau mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua-duanya”.
Islam adalah adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta ini. Dalam islam kita diperkenalkan adanya sebuah kepercayaan, kewajiban, larangan, serta berbagai pelajaran yang dapat kita tuangkan dalam kehidupan ini. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini.
Shalat merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Menunaikan sholat adalah salah satu bentuk keimanan yang ditunjukkan  seorang Muslim kepada sang penciptanya. Meninggalkannya jelas merupakan kerugian besar, karena hal tersebut merupakan rukun Islam yang tak lain adalah dasar keimanan. Perintah melaksanakan shalat secara langsung diperintahkan Allah SWT. kepada Rasulullah Saw saat perjalanan isra’ mi’raj. Hal tersebut juga sudah tertuang dalam kitab suci al Quran. Kita semua diperintahkan untuk mengerjakan shalat, namun bukan hanya sekedar melaksanakan shalat, akan tetapi Iqamu Ash-Shalat (mendirikan shalat), karena ayat-ayat perintah shalat ratarata memerintahkan untuk Iqamu Ash-Shalat. Seperti contoh ayat berikut ini.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang rukuk.(QS. al-Baqarah: 43)
Menurut Ibnu Abbas: “Iqamu Ash-Shalat itu menyempurkan rukuk, sujud, tilawah, kekhusyukan, dan tetap dalam keadaan seperti itu.” Adapun menurut Dhohak: “Iqamu ash-Shalat itu menjaga waktu-waktu shalat, wudlu, rukuk, dan sujudnya.” Adapun menurut Asy-Syaukany Iqamu ash-Shalat itu bermakna alMudawamah (berkesinambungan) melaksanakan shalat. Mungkin, itulah sebabnya mengapa Allah menyatakan,
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ
“Celakalah orang-orang yang shalat.” (QS. al-Ma‟un: 4).
 Perlu kita cermati bahwa yang akan celaka pada ayat ini yaitu orang-orang yang hanya sekedar melakukan shalat tanpa Iqamu ash-Shalat. Hal ini diperjelas pada ayat selanjutnya yang berbunyi:
الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ  فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ۙ
“Yaitu orang-orang Saahuun (yang lalai) dari shalatnya, mereka pun berbuat riya (dalam melakukannya).” (QS. al-Ma‟un: 5-6)
Ayat diatas menjelaskan bahwa Kata Saahuun pada ayat tersebut bisa bermakna lalai ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, pikiran dan hatinya tidak berkonsentrasi atau tidak khusyuk, ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang shalat, akibat godaan setan. Nabi saw besabda, “Apabila dikumandangkan adzan, setan lari terbirit-birit, bahkan terkentut-kentut, sampai ia tidak mendengar adzan itu. Apabila adzan selesai, setan datang lagi. Dan apabila dikumandangkan iqamat, setan lari lagi. Dan apabila selesai iqamat, setan datang lagi dan menyelinap dalam jiwa manusia dan berkata, “Ingatlah ini, ingatan itu.” Sehingga orang itu tidak tahu lagi berapa raka‟at ia shalat” (HR. al-Bukhari). Saahuun juga bisa bermakna melalaikan tata laksana shalat, tidak mengikuti contoh yang ditujukan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana sabda Nabi saw: “Shalatlah kalian seperti kalian melihat (mendapatkan) aku shalat” (HR Bukhari). Menurut Ibnu Abbas Saahuun bisa dimaknai shalatnya orang-orang munafik yaitu mereka hanya shalat jika terlihat oleh orang lain.
Penjelasan diatas menjelaskan bahwa pentingnya sholat dalam sebuah kehidupan. Melaksanakan sholat saja tidaklah cukup apabila kita tidak menerapkan ajaran yang telah diajarkan nabi. Kita semua tahu, bahkan mungkin kita semua sering melakukannya secara tidak sengaja. Saat kita melaksanakan ibadah sholat banyak hal-hal yang lewat begitu saja dalam pikiran kita. Apa yang kita lupa terkadang muncul dalam ingatakan kita saat kita melakukan ibadah sholat, banyak hal-hal yang melintas lewat sehingga membuat sholat kita merasa kurang khitmat dan menikmati komunikasi kita dengan sang Khaliq. Oleh karena itu, perlu adanya usaha serta niat dalam diri kita untuk mengubah sebuah kebiasaan kecil yang sengaja maupun tidak itu, agar kita dapat merasakan luar biasanya nikmat melakukan komunikasi dengan Allah SWT. Salah satunya dengan melaksanakan Pendalaman Terapi Shalat, seperti yang diajarkan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”)
Dalam shalat bahagia beliau juga menekankan bahwa shalat adalah salah satu cara dimana seseorang dapat mengingat segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita, begitu pula dalam shalat bahagia ini, yang mana dalam shalat yang paling utama adalah tidak mengesampingkan syarat-syarat sah, rukun-rukun shalat, sarat wajib shalat, sebab kualitas shalat juga sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Kemudian dalam shalat juga di utamkan seseorang yang menjalankannya harus dengan khusyuk sekaligus tumakninah. Shalat bahagia juga dapat diartikan sebagai usaha seorang hamba untuk mengingat Allah SWT. Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa jumlah orang yang kurang bahagia tidak berkurang sekalipun kesejahteraan lahiriah meningkat. Ada saja yang mengganggu pikiran. Dalam hal ini beliau Muhammad Ali Aziz menggolongkan atau menamai kriteria-kriteria sebuah kebahagian dengan menggunakan shalat sebagai metode mencapai kebahagiaan dengan T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana‟ah) dan hal itu merupakan terapi mental yang ditekankan pada Shalat Bahagia.
Pada umumnya peshalat yang khusyuk dijamin hidup bahagia, sebab seorang yang menghadapi semua cuaca kehidupan dengan keimanan, kepasrahan dan penuh keriangan (ridla) atas semua takdir Allah. Dengan pembiasaan shalat secara tumakninah: tenang, sabar dan tidak tergesa-gesa, peshalat khusyuk bisa menghadapi semua gelombang kehidupan dengan tumakninah pula. Muslim yang benar adalah muslim periang, karena ia hidup dengan qanaah (menerima yang ada), tidak tersiksa oleh deretan daftar keinginan. Kebahagiaan bersifat subyektif. Jika peshalat khusyuk misalnya terkena suatu penyakit, atau orang tersebut ditakdirkan buta, secara obyektif ia menderita, karena tidak bisa bekerja dan menikmati hidup.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha:14)
Shalat Bahagia memberikan jalan keluar. Terapi Shalat Bahagia merupakan cara seseorang untuk mencapai sebuah kebahagiaan melalui shalat. Seperti halnya jika kita menghayati bunyi adzan yakni hayyaala shalah (mari kita melaksanakan shalat) kemudian hayyaalah falah (mari kita meraih kebahagiaan). Jadi, disitu sudah jelas bahwa memang shalat menghantarkan kita menuju kebahagiaan. Oleh karena itu, didalam Terapi Shalat Bahagia ini terdapat beberapa doa dan renungan dalam gerakan shalat. Secara garis besar, ada enam garis gerakan utama dalam shalat yaitu; berdiri, rukuk, bangun dari rukuk, sujud, duduk diantara dua sujud dan tasyadud. Masing-masing gerakan ini harus dilakukan dengan tenang dan penuh penghayatan atau T2Q (Tawakkal, Tuma‟ninah dan Qana‟ah). Penghayatan dilakukan dengan cara diam sejenak sebelum dan sesudah membaca doa untuk merenungi tiap-tiap doa pada setiap gerakan. Tarik nafas, tahan sebentar, keluarkan nafas pelan-pelan. Setelah berhasil meresapi berbagai penghayatan secara mendalam, baru dilanjutkan gerakan shalat berikutnya Berikut ini adalah poin-poin penghayatan dan renungan pada setiap gerakan shalat:
1.      Takbiratul ikhram (berdiri)
Memiliki kata kunci SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul ikhram merupakan awal dari aktifitas ibadah. Pada posisi ini, perokaat membaca doa pembuka (iftitah), surat al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur‟an. Setelah selesai dari pemujaan doa dan pengesahan Allah, disyariatkan bagi pelaku shalat untuk memohon jaminan dari Allah agar dikabulkan semua permintaan dan sembahan dengan membaca amin sebagaistempel pengesahan sekaligus penutup
2.      Rukuk
Memiliki kata kunci TURUT (Tunduk dan Menurut. Gerakan wajib berikutnya yaitu dengan membungkukkan badan dengan kedua tangan di lutut, dan wajah diarahkan ke tempat sujud. Posisi rukuk ini akan membengkokkan tulang belakang untuk menggerakkan, melembutkan otot-otot, melemaskan tulang-tulang yang kejang dan kaku, dan mengendorkan ruas-ruas tulang belakang, supaya tulang belakang kembali sesuai anatomi.
3.      I’tidal
Memiliki kata kunci HADIR (Hak pujian dan Takdir). Posisi ini adalah dengan bangkit dari rukuk) dan makna filosofinya, ada dua hal penting yang perlu dihayati dalam posisi ini, yaitu Hak pujian dan Takdir. Kita tidak dibenarkan mengharap pujian manusia dalam pekerjaan apapun. Hak pujian hanya milik Allah. Dengan demikian, menghapus harapan pujian orang berarti menutup sumber kecemasan dan kekecewaan. Begitupun dengan takdir, Tidak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semuanya terjadi atas Rencana Besar. Dengan keyakinan itu, seorang muslim memiliki daya tahan yang dahsyat menghadapi kegagalan. Ia juga bisa menahan diri dari amarah kepad orang lain yang menyebabkan kegagalan itu, sebab ia percaya dengan yakin bahwa semua yang terjadi sebagai kehendak Allah.
4.      Sujud
Memiliki kata kunci MASJID (Maaf, Sinar, Jiwa dan raga). Sujud adalah posisi paling agung dalam shalat setelah rukuk. Dalam sujud, orang tidak bisa menoleh kemanapn kecuali menghadap Allah. Rukuk adalah simbol penghambaan, sedangkan sujud simbol kedekatan. Sujud merupakan pembeda muslim dan setan, sebab setan selalu menolak melakukannya. Sujud juga posisi terdekat antara manusia dan Allah.
5.      Duduk antara dua sujud
Memiliki kata kunci  AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera dan Iman). kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dalam sikap duduk ini, salah satu saraf pangkal paha yang besar berada di atas kedua tumit kaki. Tumut dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal. Dengan demikian, tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha yang besar itu, sehingga saraf pangkal paha itu terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan dari penyakit saraf pengkal paha yang menyebabkan rasa sakit, nyeri, sehingga tidak dapat berjalan.
6.      Tasyahud
Memiliki kata kunci SOSIAL (Solawat, Persaksian dan Tawakkal). Posisi duduk ini disebut “tasyahud” karena di dalamnya ada bacaan “syahadat”, sebuah ikrar keimanan, “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah”. Hal tersebut menjelaskan bahwa kita harus menerima apapun takdir Allah dengan ikhlas, ridla dan senang hati, serta bertawakal kepada Allah.
Dengan metode-metode dan penerapan inilah shalat bahagia itu di gunakan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dengan tanpa mengurangi nilai-nilai penting dan kesakralan sebuah ibadah sholat. Dari pembahasan di atas menunjukan bahwasanya shalat adalah sebuah kewajiaban bagi semua umat islam, pada dasarnya shalat juga sebagai sebuah prosesi ritual yang dilakukan oleh orang yang beriman sebagai wujud penghambaannya terhada Allah SWT. Dalam shalat, hal paling utama dan paling penting adalah tentang diterimanya shalat, dan hal yang menentukan shalat seseorang itu diterima ialah menjalakan rukun, syarat-syarat sah dan wajibnya shalat dengan benar sesuai syariatnya. Begitu pula dengan shalat bahagia yang ditemukan oleh Muhammad Ali Aziz, Shalat bahagia adalah sebuah metode dimana metode tersebut menggunkan shalat sebagai cara memperoleh dan mendapatkan sebuah kebahagiaan, sekaligus metode ini juga menggunakan shalat sebagai proses penyembuhan bagi seseorang yang sakit, namun dalam metode ini tidak serta merta menghilangkan atau mengindahkan nilai-nilai kesakralan sebuah prosesi shalat. Sebab dalam metode shalat bahagia ini, kebahagiaan, ketenangan, kesembuhan, keikhlasan hanyalah sebuah hadiah dari prosesi penghambaan manusia kebada Tuhannya yang benar. Dan pada dasarnya metodemetode yang digunakan dalam shalat bahagia itu bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan dalam shalat, meskipun seperti itu shalat bahagia juga mendapat ketenangan di dunia, sebab ketika seseorang manusia atau hamba itu benar dalam shalatnya, dalam ibadahnya maka benar pula dalam kehidupannya, serta dijamin pula kehidupannya oleh Allah SWT dan dilandasi dengan usaha.

Alfa Chumaidah
Gresik, 30 November 2019

Selasa, 01 Oktober 2019

Kisah-kisah dalam al Qur'an



KISAH-KISAH DALAM AL QUR’AN


Dosen Pengampu: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Asisten Dosen: Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2019


KATA PENGANTAR

   Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta junjungan besar Nabi Muhammad SAW sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “KisahKisah Dalam Al Qur’an” ini tepat pada waktunya.
    Kemudian dari pada itu, saya selaku penyusun makalah ini mengucapkan terimakasih atas bantuan, dukungan  serta bimbingan dalam pembuatan makalah ini. Mengingat hal itu, dengan segala hormat saya sampaikan rasa terimakasih kepada : 
1.       Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen pengampuh  penyusunan makalah ini. 
2.       Teman-teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. Atas bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut saya hanya dapat berterimahkasih dan berdoa memohon pada yang maha kuasa semoga jerih payah mereka menjadi amal sholeh di mata Allah SWT. Amin.   
    Dan dalam penyusunan makalah ini saya sadar betul bahwa masih terdapat banyak  kesalahan dan kekeliruan serta perlu adanya perbaikan . Oleh karena itu,saya mengharapkan adanya saran serta kritik yang membangun. 
   Saya tetap berharap bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi seluruh pembaca. Amin Ya  Robbal’Alamin. 
       
Surabaya, 31 Agustus 2019 

Penyusun

   DAFTAR ISI






BAB I

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kisah 

   Kisah berasal dari kata “al qashashtu atsarahu” yang artinya “saya mengikuti atau mencari jejaknya”. Kata al qashash adalah bentuk masdar. 
 Seperti firman Allah Swt. Dalam surat al kahfi : 64. 
قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا
    Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduannya kembali, mengikuti jejak mereka semula.[1] Qashash adalah mashdar dari qashsha yang berarti mencari bekasan atau mengikuti bekasan (jejak). Qashash bermakna urusan, berita, khabar dan keadaan. Qashash juga berarti berita-berita yang berurutan [2]
   Sedangkan menurut terminology, Qashashul Quran adalah pemberitaan al-Quran tentang nabi-nabi terdahulu, umat yang telah lalu, pribadi atau tokoh pada masa lalu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa yang lalu termasuk yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW.[3]
  Adapun maksud dari pengulangan kisah dalam al quran adalah  pemberitaan al quran tentang hal yang terjadi oleh umat yang telah lalu.  
Al quran banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Kisah dalam al quran lebih mengedepankan aspek pelajaran dibanding peristiwanya. Karena tidak ada kisah yang terperinci dalam al quran. Disamping  itu, kisah-kisah al quran juga berfungsi untuk meluruskan kesalahan kisa-kisah dalam kitab taurat dan injil karena ulah ahli agama mereka. Beberapa kisah telah  disebutkan dalam taurat, injil serta al quran. Namun, ada kisah yang hanya di sebutkan dalam al quran, seperti kisah Ashabul kahfi. [4] Al Quran memiliki susunan gaya Bahasa yang sangat indah yang berlainan dengan susunan dalam Bahasa arab. Susunan gaya Bahasa dalam al Quran Karim tidak bisa disamai oleh apapun. Al Quran bukan syair dan bukan pula susunan prosa. Hal itu telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh sastra dan para ahli pidato, seperti Walid bin Mughirah, Uthbah bin Rabi’ah, dan sastrawan lain yang terkenal.[5]

B.     Pengulangan Kisah dalam Al qur an 

Allah SWT menurunkan al Qur’an untuk menjadi undang-undang bagi umat manusia, menjadi petunjuk, sebagai tanda atas kebesaran Rasul, serta penjelasan atas kenabian dan kerasulannya. Juga sebagai dalil yang kuat di hari kemudian dimana akan dikatakan bahwa al Qur’an itu benar-benar diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Terpuji.[6]
Al quran mengandung segala aspek yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Alquran bukan hanya memuat tentang kisah-kisah umat terdahulu saja, diantaranya menurut manna' al qattan ada 3 macam :  Kisah para nabi, kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak di pastikan kenabiannya, serta kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw.[7]
Pertama: Kisah para nabi 
Kisah ini mengandung ajakan kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh allah kepada mereka untuk menperkuat kenabiannya, menghentikan orang-orang yang menentangnya. 
a.       Kisah nabi Nuh dalam surat Hud: 41 dan 48– 49
وَقَالَ ٱرۡكَبُواْ فِيهَا بِسۡمِ ٱللَّهِ مَجۡرٜىٰهَا وَمُرۡسَىٰهَآۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ
Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya". Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
   قِيلَ يَٰنُوحُ ٱهۡبِطۡ بِسَلَٰمٖ مِّنَّا وَبَرَكَٰتٍ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ أُمَمٖ مِّمَّن مَّعَكَۚ وَأُمَمٞ سَنُمَتِّعُهُمۡ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ. تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهَآ إِلَيۡكَۖ مَا كُنتَ تَعۡلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوۡمُكَ مِن قَبۡلِ هَٰذَاۖ فَٱصۡبِرۡۖ إِنَّ ٱلۡعَٰقِبَةَ لِلۡمُتَّقِينَ
Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan  (dałam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.” Itulah sebagian dari berita-berita ghaib yang  kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.
b.      Kisah nabi Muhammad saw dalam surat Al- ‘Ankabūt ayat 48 
وَمَا كُنتَ تَتۡلُواْ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَٰبٖ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِيَمِينِكَۖ إِذٗا لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya”. 
a.            Kisah nabi Ibrahim dalam surat Al-Anbiya: 69
قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",
b.      Kisah nabi Musa dalam surat Asy-Syu’ara Ayat 63
فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. 
Kedua : Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak di pastikan kenabiannya.
a.       Kisah dua orang putera Adam dalam surat al maidah ayat 27  
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَيۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
b.      Kisah Qarun dalam surat al-Qashash ayat 81
فَخَسَفۡنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلۡأَرۡضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٖ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُنتَصِرِينَ
 “Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”  
Ketiga : kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw.
1.       perang badar 
2.       Perang Tabuk dalam surat at Taubah ayat 81 
فَرِحَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ بِمَقۡعَدِهِمۡ خِلَٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ وَكَرِهُوٓاْ أَن يُجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَالُواْ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ
 Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui. 
3.       Isra' Mi'raj dalam al Quran surat al Isra’ ayat 1 
سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” 

C.      Manfaat Kisah-Kisah dalam al Qur an 

Al quran banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Dengan jelas al Qur’an menunjukkan fakta bahwa Sang Pencipta segala rupa dan bentuk itulah yang berada di balik setiap urusan di dunia ini[8]
Dalam al quran terkandung banyak kisah dalam segala aspek kehidupan yang dapat kita ambil ibrah, manfaat serta faedahnya untuk kita terapkan dalam kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan. Bukan hanya kisah para utusan Allah SWT. serta umat terdahulu yang dapat kita pakai serta tiru dan mengeksploitasi kisah tersebut agar mendarah daging dalam kehidupan kita. Namun, dalam mushaf yang diturunkan pada Nabi saw. tersebut berisi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang banyak di teliti oleh generasi yang haus akan ilmu pengetahuan.
Dalam suatu ayat al Qur’an dikatakan bahwa di setiap masyarakat, Tuhan mengutus nabi-nabinya sendiri.[9]
Oleh karena itu, sungguh sangat beruntungnya kita ini sebagai umat islam, umat yang di manjakan Allah Swt. dengan ilmu pengetahuan, umat yang di karuniahi utusan-utusan dari para nabi dan rosul pilihan untuk membimbing jalan kita dari gelapnya kebodohan ke dalam masa kejayaan yang terang akan sifat dan budi pekerti serta ilmu pengetahuan agama maupun umum, umat yang dikaruniahi pegangan hidup dengan banyak kisah dari para pendahulu serta berbagai pendapat dalam hadist, ijma' maupun qiyas yang memperjelas pemahaman kita pada al quran.  
Diantara manfaat kisah-kisah dalam al quran antara lain: 
1.        Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah swt dan menjelaskan pokok-pokok syariat yang di bawa oleh para nabi. QS. al anbiya': 25
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". 
2.      Meneguhkan hati Rasulullah dan umatnya atas agama Allah swt. memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya. Surat Hud: 120
وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. 
3.      Membenarkan para nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya.  

4.      Menampilkan kebenaran muhammad dalam dakwanya dengan apa yang diberitakannya tentang hal ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi 
5.      Menyingkap kebodohan ahli kitab dengn cara membeberkan keterangan yang semula mereka sembunyikan, kemudian menantang mereka dengan menggunakan ajaran kitab mereka sendiri yang masih asli, yaitu sebelum kitab itu di ubah dan diganti. Misalnya firman allah :  
كُلُّ ٱلطَّعَامِ كَانَ حِلّٗا لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسۡرَٰٓءِيلُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ مِن قَبۡلِ أَن تُنَزَّلَ ٱلتَّوۡرَىٰةُۚ قُلۡ فَأۡتُواْ بِٱلتَّوۡرَىٰةِ فَٱتۡلُوهَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’kub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum Taurat), maka bawahlah Taurat itu, lalu bacalahia jika kamu orangorang yang benar.” (Ali Imran: 93) 
6.      Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar, mempengaruhi jiwa Firman Allah dalam surat Yusuf: 111
لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[10]

D.    Hikmah Pengulangan Kisah dalam al Qur an

Al Qur’an banyak mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang di berbagai tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebut dala Qu’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Di antara hikmahnya ialah:
1.      Menjelaskan ke-balagah-an Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Sebab di antara keistimewaan balagah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai macam bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang itu dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwahnya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.
2.      Menunjukkan kehebatan mukjizat Qur’an dalam tingkat paling tinggi
3.      Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi betapa besarnya perhatian.
4.      Perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu diungkapkan. Maka sebagian dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedang makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntunan keadaan.[11]
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Mukjizat yang di maksud disini bukan hanya tentang segala macam kejadian yang termuat di dalamnya. Namun juga mukjizat dalam penyusunan bahasa serta kalimat yang tak dapat di tandingi sastrawan manapun. Kisah-kisah dalam al Qur’an merupakan salah satu cara yang dipakai al Qur’an untuk mewujudkan tujuan yang bersifat agama. Sebab al Qur’an itu juga sebagai kitab dakwah agama dan kisah menjadi salah satu medianya untuk menyampaikan dan memantapkan dakwah tersebut. Oleh karena tujuan-tujuan yang bersifat religius ini, maka keseluruhan kisah dalam al Qur’an tunduk pada tujuan agama baik tema-temanya, cara-cara pengungkapannya maupun penyebutan peristiwanya.[12]

Kesimpulan

Al quran banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Kisah-kisah dalam al Qur'an di jelaskan dengan begitu detailnya, menyeluruh dalam segala bidang kehidupan. Oleh karena itu, Sungguh  sangat beruntungnya kita sebagai umat islam, umat yang di manjakan Allah Swt. dengan ilmu pengetahuan, umat yang di karuniahi utusan-utusan dari para nabi dan rosul pilihan untuk membimbing jalan kita dari gelapnya kebodohan ke dalam masa kejayaan yang terang akan sifat dan budi pekerti serta ilmu pengetahuan agama maupun umum, umat yang dikaruniahi pegangan hidup dengan banyak kisah dari para pendahulu serta berbagai pendapat dalam hadist, ijma' maupun qiyas yang memperjelas pemahaman kita pada al quran.

 al Qaththan, Syaikh manna. Pengantar  Studi Ilmu al Qur’an. Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar. 2006.  386-389
 al Qattan, Manna’ Khalil. Mabahis Ulumil Qur’an. Bogor: Litera AntarNusa. 2016. 439-440
Ash Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu al Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia. 1998. 138 
ash-Shiddieqy, Teungku M. Hasbi. Ilmu-Ilmu al Qur’an. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. 2009. 179
Aziz, Moh. Ali. Mengenal Tuntas al Qur’an. Surabaya: Imtiyas. 2018. 127-128
 Ghazali, Abd Moqsith. dkk. Metodologi Studi al Qur’an. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2009. 21
Hafidhuddin, Didin. M.SC. Ensiklopediana Ilmu dalam al Qur’an. Bandung: PT. Mizan Pustaka. 2007. 47
Hamid, Abdul. Pengantar Studi al Qur’an, Jakarta: Prenamedia Group 2016. 29
Hanifa, A.  Segi-segi Kesusteraan pada Kisah-Kisah Qur’an. Jakarta: Pustaka al Husna. 1983. 68
Ilyas, Yunahar. Kuliah Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Itqan Publishing. 2014. 228
Musyafa’ah, Sauqiyah. Dkk. Studi al Qur’an. Surabaya: Uin Sunan Ampel Press. 2013. 275-276
Studi Al-Quran. Reviewer. UIN Sunan Ampel Press. 2014 
Studi Al-Quran. Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya. 2013 




[1] Syaikh manna al qaththan, Pengantar  Studi Ilmu al Qur’an (Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2006),  386-387
[2] Teungku M. Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu al Qur’an (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2009), 179
[3] Yunahar Ilyas, Kuliah Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Itqan Publishing, 2014), 228
[4] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas al Qur’an (Surabaya: Imtiyas, 2018), 127-128
[5] Muhammad Ali Ash Shaabuuniy, Studi Ilmu al Qur’an (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), 138 
 [7] Sauqiyah Musyafa’ah, dkk, Studi al
Qur’an (Surabaya: Uin Sunan Ampel Press, 2013),275-276
[8] Didin Hafidhuddin, Ensiklopediana Ilmu dalam al Qur’an (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2007), 47
[9] Abd Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al Qur’an (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), 21
[10] Syaikh Manna al Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al Qur’an (Jakarta Timur: Pustaka al Kautsar, 2015), 388-389
[11] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis Ulumil Qur’an (Bogor: Litera AntarNusa, 2016), 439-440
[12] A. Hanifa, Segi-segi Kesusteraan pada Kisah-Kisah Qur’an (Jakarta: Pustaka al Husna, 1983), 68

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...