KISAH-KISAH
DALAM AL QUR’AN
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen: Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I
KOMUNIKASI
DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, serta junjungan besar Nabi Muhammad SAW sehingga saya
dapat menyelesaikan makalah dengan judul “KisahKisah Dalam Al Qur’an” ini tepat
pada waktunya.
Kemudian
dari pada itu, saya selaku penyusun makalah ini mengucapkan terimakasih atas
bantuan, dukungan serta bimbingan dalam
pembuatan makalah ini. Mengingat hal itu, dengan segala hormat saya sampaikan
rasa terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. Moh. Ali
Aziz, M.Ag selaku dosen pengampuh
penyusunan makalah ini.
2. Teman-teman dan
seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. Atas
bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut saya hanya dapat berterimahkasih dan
berdoa memohon pada yang maha kuasa semoga jerih payah mereka menjadi amal
sholeh di mata Allah SWT. Amin.
Dan
dalam penyusunan makalah ini saya sadar betul bahwa masih terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan serta perlu adanya
perbaikan . Oleh karena itu,saya mengharapkan adanya saran serta kritik yang
membangun.
Saya
tetap berharap bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi seluruh pembaca.
Amin Ya Robbal’Alamin.
Surabaya, 31 Agustus
2019
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kisah
Kisah
berasal dari kata “al qashashtu atsarahu” yang artinya “saya mengikuti atau
mencari jejaknya”. Kata al qashash adalah bentuk masdar.
Seperti
firman Allah Swt. Dalam surat al kahfi : 64.
قَالَ
ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا
Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”.
Lalu keduannya kembali, mengikuti jejak mereka semula.[1]
Qashash adalah mashdar dari qashsha yang berarti mencari bekasan atau
mengikuti bekasan (jejak). Qashash bermakna urusan, berita, khabar dan
keadaan. Qashash juga berarti berita-berita yang berurutan [2]
Sedangkan menurut terminology, Qashashul Quran adalah pemberitaan
al-Quran tentang nabi-nabi terdahulu, umat yang telah lalu, pribadi atau tokoh
pada masa lalu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa yang lalu
termasuk yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW.[3]
Adapun maksud dari pengulangan kisah dalam al
quran adalah pemberitaan al quran
tentang hal yang terjadi oleh umat yang telah lalu.
Al quran
banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah
bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta
peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan
cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam
gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Kisah dalam al
quran lebih mengedepankan aspek pelajaran dibanding peristiwanya. Karena tidak
ada kisah yang terperinci dalam al quran. Disamping itu, kisah-kisah al quran juga berfungsi
untuk meluruskan kesalahan kisa-kisah dalam kitab taurat dan injil karena ulah
ahli agama mereka. Beberapa kisah telah disebutkan
dalam taurat, injil serta al quran. Namun, ada kisah yang hanya di sebutkan
dalam al quran, seperti kisah Ashabul kahfi. [4] Al
Quran memiliki susunan gaya Bahasa yang sangat indah yang berlainan dengan
susunan dalam Bahasa arab. Susunan gaya Bahasa dalam al Quran Karim tidak bisa
disamai oleh apapun. Al Quran bukan syair dan bukan pula susunan prosa. Hal itu
telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh sastra dan para ahli pidato, seperti Walid
bin Mughirah, Uthbah bin Rabi’ah, dan sastrawan lain yang terkenal.[5]
B.
Pengulangan Kisah dalam Al qur an
Allah
SWT menurunkan al Qur’an untuk menjadi undang-undang bagi umat manusia, menjadi
petunjuk, sebagai tanda atas kebesaran Rasul, serta penjelasan atas kenabian
dan kerasulannya. Juga sebagai dalil yang kuat di hari kemudian dimana akan
dikatakan bahwa al Qur’an itu benar-benar diturunkan dari Dzat Yang Maha
Bijaksana lagi Terpuji.[6]
Al quran
mengandung segala aspek yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Alquran bukan
hanya memuat tentang kisah-kisah umat terdahulu saja, diantaranya menurut
manna' al qattan ada 3 macam : Kisah
para nabi, kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi
pada masa lalu dan orang-orang yang tidak di pastikan kenabiannya, serta
kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah
saw.[7]
Pertama:
Kisah para nabi
Kisah
ini mengandung ajakan kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh
allah kepada mereka untuk menperkuat kenabiannya, menghentikan orang-orang yang
menentangnya.
a. Kisah nabi Nuh dalam surat Hud: 41 dan 48– 49
وَقَالَ ٱرۡكَبُواْ فِيهَا بِسۡمِ ٱللَّهِ
مَجۡرٜىٰهَا وَمُرۡسَىٰهَآۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ
Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke
dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya".
Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
قِيلَ يَٰنُوحُ ٱهۡبِطۡ بِسَلَٰمٖ مِّنَّا
وَبَرَكَٰتٍ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ أُمَمٖ مِّمَّن مَّعَكَۚ وَأُمَمٞ سَنُمَتِّعُهُمۡ
ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ. تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهَآ
إِلَيۡكَۖ مَا كُنتَ تَعۡلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوۡمُكَ مِن قَبۡلِ هَٰذَاۖ
فَٱصۡبِرۡۖ إِنَّ ٱلۡعَٰقِبَةَ لِلۡمُتَّقِينَ
Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan
selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat
(mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dałam kehidupan dunia), kemudian mereka akan
ditimpa azab Kami yang pedih.” Itulah sebagian dari berita-berita ghaib
yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad).
Tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka
bersabarlah, sungguh kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.
b. Kisah nabi Muhammad saw dalam surat Al-
‘Ankabūt ayat 48
وَمَا
كُنتَ تَتۡلُواْ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَٰبٖ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِيَمِينِكَۖ إِذٗا لَّٱرۡتَابَ
ٱلۡمُبۡطِلُونَ
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca
sesuatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab
dengan tangan kananmu, sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya
ragu orang-orang yang mengingkarinya”.
a.
Kisah
nabi Ibrahim dalam surat Al-Anbiya: 69
قُلۡنَا
يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ
Kami berfirman: "Hai api menjadi
dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",
b. Kisah nabi Musa dalam surat Asy-Syu’ara Ayat 63
فَأَوۡحَيۡنَآ
إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ
فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah
lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap
belahan adalah seperti gunung yang besar.
Kedua : Kisah-kisah yang berhubungan dengan
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak di
pastikan kenabiannya.
a. Kisah dua orang putera Adam dalam surat al
maidah ayat 27
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَيۡ ءَادَمَ
بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ
يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ
ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera
Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan
korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak
diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti
membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima
(korban) dari orang-orang yang bertakwa".
b. Kisah Qarun dalam surat al-Qashash ayat 81
فَخَسَفۡنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلۡأَرۡضَ فَمَا
كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٖ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ
ٱلۡمُنتَصِرِينَ
“Maka
Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya
suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia
termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”
Ketiga : kisah-kisah yang berhubungan dengan
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw.
1. perang badar
2. Perang Tabuk dalam surat at Taubah ayat 81
فَرِحَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ بِمَقۡعَدِهِمۡ خِلَٰفَ
رَسُولِ ٱللَّهِ وَكَرِهُوٓاْ أَن يُجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي
سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَالُواْ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ
أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut
perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah,
dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah
dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam
panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat
panas(nya)" jika mereka mengetahui.
3. Isra' Mi'raj dalam al Quran surat al Isra’ ayat
1
سُبۡحَٰنَ
ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى
ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ
ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan
hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang
telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha
Melihat.”
C.
Manfaat Kisah-Kisah dalam al Qur an
Al quran
banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah
bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta
peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan
cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam
gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Dengan jelas
al Qur’an menunjukkan fakta bahwa Sang Pencipta segala rupa dan bentuk itulah
yang berada di balik setiap urusan di dunia ini[8]
Dalam al quran terkandung banyak kisah dalam
segala aspek kehidupan yang dapat kita ambil ibrah, manfaat serta faedahnya
untuk kita terapkan dalam kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan. Bukan hanya
kisah para utusan Allah SWT. serta umat terdahulu yang dapat kita pakai serta
tiru dan mengeksploitasi kisah tersebut agar mendarah daging dalam kehidupan
kita. Namun, dalam mushaf yang diturunkan pada Nabi saw. tersebut berisi tentang
berbagai cabang ilmu pengetahuan yang banyak di teliti oleh generasi yang haus
akan ilmu pengetahuan.
Dalam suatu ayat al Qur’an dikatakan bahwa di
setiap masyarakat, Tuhan mengutus nabi-nabinya sendiri.[9]
Oleh karena itu, sungguh sangat beruntungnya
kita ini sebagai umat islam, umat yang di manjakan Allah Swt. dengan ilmu
pengetahuan, umat yang di karuniahi utusan-utusan dari para nabi dan rosul
pilihan untuk membimbing jalan kita dari gelapnya kebodohan ke dalam masa
kejayaan yang terang akan sifat dan budi pekerti serta ilmu pengetahuan agama
maupun umum, umat yang dikaruniahi pegangan hidup dengan banyak kisah dari para
pendahulu serta berbagai pendapat dalam hadist, ijma' maupun qiyas yang
memperjelas pemahaman kita pada al quran.
Diantara manfaat kisah-kisah dalam al quran
antara lain:
1.
Menjelaskan
asas-asas dakwah menuju Allah swt dan menjelaskan pokok-pokok syariat yang di
bawa oleh para nabi. QS. al anbiya': 25
وَمَآ
أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ
إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun
sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku".
2. Meneguhkan hati Rasulullah dan umatnya atas
agama Allah swt. memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya
kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya.
Surat Hud: 120
وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ
ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ
وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan
kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam
surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi
orang-orang yang beriman.
3. Membenarkan para nabi terdahulu, menghidupkan
kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya.
4. Menampilkan kebenaran muhammad dalam dakwanya
dengan apa yang diberitakannya tentang hal ihwal orang-orang terdahulu di
sepanjang kurun dan generasi
5. Menyingkap kebodohan ahli kitab dengn cara
membeberkan keterangan yang semula mereka sembunyikan, kemudian menantang
mereka dengan menggunakan ajaran kitab mereka sendiri yang masih asli, yaitu
sebelum kitab itu di ubah dan diganti. Misalnya firman allah :
كُلُّ
ٱلطَّعَامِ كَانَ حِلّٗا لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ
إِسۡرَٰٓءِيلُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ مِن قَبۡلِ أَن تُنَزَّلَ ٱلتَّوۡرَىٰةُۚ قُلۡ
فَأۡتُواْ بِٱلتَّوۡرَىٰةِ فَٱتۡلُوهَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil
melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’kub) untuk dirinya sendiri
sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan
sebelum Taurat), maka bawahlah Taurat itu, lalu bacalahia jika kamu orangorang
yang benar.” (Ali Imran: 93)
6. Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang
dapat menarik perhatian para pendengar, mempengaruhi jiwa Firman Allah dalam
surat Yusuf: 111
لَقَدۡ
كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا
يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ
وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya
dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman.[10]
D. Hikmah Pengulangan Kisah dalam al Qur an
Al Qur’an banyak mengandung berbagai kisah yang
diungkapkan berulang-ulang di berbagai tempat. Sebuah kisah terkadang berulang
kali disebut dala Qu’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Di
antara hikmahnya ialah:
1. Menjelaskan ke-balagah-an Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Sebab di antara
keistimewaan balagah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai macam
bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang itu dikemukakan di setiap tempat
dengan uslub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola
yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya,
bahkan dapat menambah ke dalam jiwahnya makna-makna baru yang tidak didapatkan
di saat membacanya di tempat yang lain.
2. Menunjukkan kehebatan mukjizat Qur’an dalam
tingkat paling tinggi
3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah
tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini
karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi betapa
besarnya perhatian.
4. Perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu
diungkapkan. Maka sebagian dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat,
karena hanya itulah yang diperlukan, sedang makna-makna lainnya dikemukakan di
tempat yang lain, sesuai dengan tuntunan keadaan.[11]
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya
dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman. Mukjizat yang di maksud disini bukan hanya tentang segala macam
kejadian yang termuat di dalamnya. Namun juga mukjizat dalam penyusunan bahasa
serta kalimat yang tak dapat di tandingi sastrawan manapun. Kisah-kisah dalam
al Qur’an merupakan salah satu cara yang dipakai al Qur’an untuk mewujudkan
tujuan yang bersifat agama. Sebab al Qur’an itu juga sebagai kitab dakwah agama
dan kisah menjadi salah satu medianya untuk menyampaikan dan memantapkan dakwah
tersebut. Oleh karena tujuan-tujuan yang bersifat religius ini, maka
keseluruhan kisah dalam al Qur’an tunduk pada tujuan agama baik tema-temanya, cara-cara
pengungkapannya maupun penyebutan peristiwanya.[12]
Kesimpulan
Al quran
banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah
bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta
peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan
cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam
gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Kisah-kisah dalam al Qur'an di jelaskan dengan begitu detailnya, menyeluruh dalam segala bidang kehidupan. Oleh karena
itu, Sungguh sangat beruntungnya kita
sebagai umat islam, umat yang di manjakan Allah Swt. dengan ilmu pengetahuan,
umat yang di karuniahi utusan-utusan dari para nabi dan rosul pilihan untuk
membimbing jalan kita dari gelapnya kebodohan ke dalam masa kejayaan yang
terang akan sifat dan budi pekerti serta ilmu pengetahuan agama maupun umum, umat yang dikaruniahi pegangan
hidup dengan banyak kisah dari para pendahulu serta berbagai pendapat dalam
hadist, ijma' maupun qiyas yang memperjelas pemahaman kita pada al quran.
al Qaththan, Syaikh manna. Pengantar Studi Ilmu al Qur’an.
Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar. 2006.
386-389
al Qattan, Manna’ Khalil. Mabahis Ulumil
Qur’an. Bogor: Litera AntarNusa. 2016. 439-440
Ash
Shaabuuniy, Muhammad
Ali. Studi Ilmu al Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia. 1998. 138
ash-Shiddieqy, Teungku M. Hasbi. Ilmu-Ilmu al Qur’an. Semarang:
PT. Pustaka Rizki Putra. 2009. 179
Aziz, Moh.
Ali. Mengenal Tuntas al Qur’an. Surabaya: Imtiyas. 2018. 127-128
Ghazali, Abd Moqsith. dkk. Metodologi Studi
al Qur’an. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2009. 21
Hafidhuddin, Didin. M.SC. Ensiklopediana Ilmu dalam al
Qur’an. Bandung: PT. Mizan Pustaka. 2007. 47
Hamid, Abdul. Pengantar Studi al Qur’an,
Jakarta: Prenamedia Group 2016. 29
Hanifa, A.
Segi-segi Kesusteraan pada
Kisah-Kisah Qur’an. Jakarta: Pustaka al Husna. 1983. 68
Ilyas, Yunahar.
Kuliah Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Itqan Publishing. 2014. 228
Musyafa’ah,
Sauqiyah. Dkk. Studi al Qur’an. Surabaya: Uin Sunan Ampel Press. 2013. 275-276
Studi
Al-Quran. Reviewer. UIN Sunan Ampel Press. 2014
Studi
Al-Quran. Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya.
2013
[1] Syaikh
manna al qaththan, Pengantar Studi Ilmu al Qur’an (Jakarta Timur:
Pustaka al-Kautsar, 2006), 386-387
[2] Teungku
M. Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu al Qur’an (Semarang: PT. Pustaka Rizki
Putra, 2009), 179
[3] Yunahar
Ilyas, Kuliah Ulumul Qur’an
(Yogyakarta: Itqan Publishing, 2014), 228
[4]
Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas al Qur’an
(Surabaya: Imtiyas, 2018), 127-128
[5]
Muhammad Ali Ash Shaabuuniy, Studi Ilmu
al Qur’an (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), 138
[9]
Abd Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al Qur’an (Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2009), 21
[10] Syaikh Manna al Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al Qur’an (Jakarta
Timur: Pustaka al Kautsar, 2015), 388-389
