Selasa, 01 Oktober 2019

Kisah-kisah dalam al Qur'an



KISAH-KISAH DALAM AL QUR’AN


Dosen Pengampu: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag

Asisten Dosen: Ati’ Nursyafa’ah M.Kom.I

KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2019


KATA PENGANTAR

   Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta junjungan besar Nabi Muhammad SAW sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “KisahKisah Dalam Al Qur’an” ini tepat pada waktunya.
    Kemudian dari pada itu, saya selaku penyusun makalah ini mengucapkan terimakasih atas bantuan, dukungan  serta bimbingan dalam pembuatan makalah ini. Mengingat hal itu, dengan segala hormat saya sampaikan rasa terimakasih kepada : 
1.       Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen pengampuh  penyusunan makalah ini. 
2.       Teman-teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. Atas bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut saya hanya dapat berterimahkasih dan berdoa memohon pada yang maha kuasa semoga jerih payah mereka menjadi amal sholeh di mata Allah SWT. Amin.   
    Dan dalam penyusunan makalah ini saya sadar betul bahwa masih terdapat banyak  kesalahan dan kekeliruan serta perlu adanya perbaikan . Oleh karena itu,saya mengharapkan adanya saran serta kritik yang membangun. 
   Saya tetap berharap bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi seluruh pembaca. Amin Ya  Robbal’Alamin. 
       
Surabaya, 31 Agustus 2019 

Penyusun

   DAFTAR ISI






BAB I

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kisah 

   Kisah berasal dari kata “al qashashtu atsarahu” yang artinya “saya mengikuti atau mencari jejaknya”. Kata al qashash adalah bentuk masdar. 
 Seperti firman Allah Swt. Dalam surat al kahfi : 64. 
قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبۡغِۚ فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا
    Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduannya kembali, mengikuti jejak mereka semula.[1] Qashash adalah mashdar dari qashsha yang berarti mencari bekasan atau mengikuti bekasan (jejak). Qashash bermakna urusan, berita, khabar dan keadaan. Qashash juga berarti berita-berita yang berurutan [2]
   Sedangkan menurut terminology, Qashashul Quran adalah pemberitaan al-Quran tentang nabi-nabi terdahulu, umat yang telah lalu, pribadi atau tokoh pada masa lalu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa yang lalu termasuk yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW.[3]
  Adapun maksud dari pengulangan kisah dalam al quran adalah  pemberitaan al quran tentang hal yang terjadi oleh umat yang telah lalu.  
Al quran banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Kisah dalam al quran lebih mengedepankan aspek pelajaran dibanding peristiwanya. Karena tidak ada kisah yang terperinci dalam al quran. Disamping  itu, kisah-kisah al quran juga berfungsi untuk meluruskan kesalahan kisa-kisah dalam kitab taurat dan injil karena ulah ahli agama mereka. Beberapa kisah telah  disebutkan dalam taurat, injil serta al quran. Namun, ada kisah yang hanya di sebutkan dalam al quran, seperti kisah Ashabul kahfi. [4] Al Quran memiliki susunan gaya Bahasa yang sangat indah yang berlainan dengan susunan dalam Bahasa arab. Susunan gaya Bahasa dalam al Quran Karim tidak bisa disamai oleh apapun. Al Quran bukan syair dan bukan pula susunan prosa. Hal itu telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh sastra dan para ahli pidato, seperti Walid bin Mughirah, Uthbah bin Rabi’ah, dan sastrawan lain yang terkenal.[5]

B.     Pengulangan Kisah dalam Al qur an 

Allah SWT menurunkan al Qur’an untuk menjadi undang-undang bagi umat manusia, menjadi petunjuk, sebagai tanda atas kebesaran Rasul, serta penjelasan atas kenabian dan kerasulannya. Juga sebagai dalil yang kuat di hari kemudian dimana akan dikatakan bahwa al Qur’an itu benar-benar diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Terpuji.[6]
Al quran mengandung segala aspek yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Alquran bukan hanya memuat tentang kisah-kisah umat terdahulu saja, diantaranya menurut manna' al qattan ada 3 macam :  Kisah para nabi, kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak di pastikan kenabiannya, serta kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw.[7]
Pertama: Kisah para nabi 
Kisah ini mengandung ajakan kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang diberikan oleh allah kepada mereka untuk menperkuat kenabiannya, menghentikan orang-orang yang menentangnya. 
a.       Kisah nabi Nuh dalam surat Hud: 41 dan 48– 49
وَقَالَ ٱرۡكَبُواْ فِيهَا بِسۡمِ ٱللَّهِ مَجۡرٜىٰهَا وَمُرۡسَىٰهَآۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ
Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya". Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
   قِيلَ يَٰنُوحُ ٱهۡبِطۡ بِسَلَٰمٖ مِّنَّا وَبَرَكَٰتٍ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ أُمَمٖ مِّمَّن مَّعَكَۚ وَأُمَمٞ سَنُمَتِّعُهُمۡ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ. تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهَآ إِلَيۡكَۖ مَا كُنتَ تَعۡلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوۡمُكَ مِن قَبۡلِ هَٰذَاۖ فَٱصۡبِرۡۖ إِنَّ ٱلۡعَٰقِبَةَ لِلۡمُتَّقِينَ
Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan  (dałam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.” Itulah sebagian dari berita-berita ghaib yang  kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.
b.      Kisah nabi Muhammad saw dalam surat Al- ‘Ankabūt ayat 48 
وَمَا كُنتَ تَتۡلُواْ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَٰبٖ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِيَمِينِكَۖ إِذٗا لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ
“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya”. 
a.            Kisah nabi Ibrahim dalam surat Al-Anbiya: 69
قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",
b.      Kisah nabi Musa dalam surat Asy-Syu’ara Ayat 63
فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ
Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. 
Kedua : Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak di pastikan kenabiannya.
a.       Kisah dua orang putera Adam dalam surat al maidah ayat 27  
وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَيۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
b.      Kisah Qarun dalam surat al-Qashash ayat 81
فَخَسَفۡنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلۡأَرۡضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٖ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُنتَصِرِينَ
 “Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).”  
Ketiga : kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah saw.
1.       perang badar 
2.       Perang Tabuk dalam surat at Taubah ayat 81 
فَرِحَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ بِمَقۡعَدِهِمۡ خِلَٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ وَكَرِهُوٓاْ أَن يُجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَالُواْ لَا تَنفِرُواْ فِي ٱلۡحَرِّۗ قُلۡ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّٗاۚ لَّوۡ كَانُواْ يَفۡقَهُونَ
 Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui. 
3.       Isra' Mi'raj dalam al Quran surat al Isra’ ayat 1 
سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” 

C.      Manfaat Kisah-Kisah dalam al Qur an 

Al quran banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Dengan jelas al Qur’an menunjukkan fakta bahwa Sang Pencipta segala rupa dan bentuk itulah yang berada di balik setiap urusan di dunia ini[8]
Dalam al quran terkandung banyak kisah dalam segala aspek kehidupan yang dapat kita ambil ibrah, manfaat serta faedahnya untuk kita terapkan dalam kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan. Bukan hanya kisah para utusan Allah SWT. serta umat terdahulu yang dapat kita pakai serta tiru dan mengeksploitasi kisah tersebut agar mendarah daging dalam kehidupan kita. Namun, dalam mushaf yang diturunkan pada Nabi saw. tersebut berisi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang banyak di teliti oleh generasi yang haus akan ilmu pengetahuan.
Dalam suatu ayat al Qur’an dikatakan bahwa di setiap masyarakat, Tuhan mengutus nabi-nabinya sendiri.[9]
Oleh karena itu, sungguh sangat beruntungnya kita ini sebagai umat islam, umat yang di manjakan Allah Swt. dengan ilmu pengetahuan, umat yang di karuniahi utusan-utusan dari para nabi dan rosul pilihan untuk membimbing jalan kita dari gelapnya kebodohan ke dalam masa kejayaan yang terang akan sifat dan budi pekerti serta ilmu pengetahuan agama maupun umum, umat yang dikaruniahi pegangan hidup dengan banyak kisah dari para pendahulu serta berbagai pendapat dalam hadist, ijma' maupun qiyas yang memperjelas pemahaman kita pada al quran.  
Diantara manfaat kisah-kisah dalam al quran antara lain: 
1.        Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah swt dan menjelaskan pokok-pokok syariat yang di bawa oleh para nabi. QS. al anbiya': 25
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". 
2.      Meneguhkan hati Rasulullah dan umatnya atas agama Allah swt. memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya. Surat Hud: 120
وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ
Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. 
3.      Membenarkan para nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya.  

4.      Menampilkan kebenaran muhammad dalam dakwanya dengan apa yang diberitakannya tentang hal ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi 
5.      Menyingkap kebodohan ahli kitab dengn cara membeberkan keterangan yang semula mereka sembunyikan, kemudian menantang mereka dengan menggunakan ajaran kitab mereka sendiri yang masih asli, yaitu sebelum kitab itu di ubah dan diganti. Misalnya firman allah :  
كُلُّ ٱلطَّعَامِ كَانَ حِلّٗا لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسۡرَٰٓءِيلُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ مِن قَبۡلِ أَن تُنَزَّلَ ٱلتَّوۡرَىٰةُۚ قُلۡ فَأۡتُواْ بِٱلتَّوۡرَىٰةِ فَٱتۡلُوهَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’kub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum Taurat), maka bawahlah Taurat itu, lalu bacalahia jika kamu orangorang yang benar.” (Ali Imran: 93) 
6.      Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar, mempengaruhi jiwa Firman Allah dalam surat Yusuf: 111
لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.[10]

D.    Hikmah Pengulangan Kisah dalam al Qur an

Al Qur’an banyak mengandung berbagai kisah yang diungkapkan berulang-ulang di berbagai tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebut dala Qu’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Di antara hikmahnya ialah:
1.      Menjelaskan ke-balagah-an Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Sebab di antara keistimewaan balagah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai macam bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang itu dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwahnya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.
2.      Menunjukkan kehebatan mukjizat Qur’an dalam tingkat paling tinggi
3.      Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi betapa besarnya perhatian.
4.      Perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu diungkapkan. Maka sebagian dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedang makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntunan keadaan.[11]
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Mukjizat yang di maksud disini bukan hanya tentang segala macam kejadian yang termuat di dalamnya. Namun juga mukjizat dalam penyusunan bahasa serta kalimat yang tak dapat di tandingi sastrawan manapun. Kisah-kisah dalam al Qur’an merupakan salah satu cara yang dipakai al Qur’an untuk mewujudkan tujuan yang bersifat agama. Sebab al Qur’an itu juga sebagai kitab dakwah agama dan kisah menjadi salah satu medianya untuk menyampaikan dan memantapkan dakwah tersebut. Oleh karena tujuan-tujuan yang bersifat religius ini, maka keseluruhan kisah dalam al Qur’an tunduk pada tujuan agama baik tema-temanya, cara-cara pengungkapannya maupun penyebutan peristiwanya.[12]

Kesimpulan

Al quran banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lampau, sejarah bangsa-bangsa, keadaan negeri-negeri berikut peristiwa di dalamnya, serta peninggalan atau jejak setiap umat. Ia menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan mempesona. Menampilkan kisah yang nyata, dipaparkan dalam gaya bahasa, sehingga memiliki nilai sastra yang semakin tinggi. Kisah-kisah dalam al Qur'an di jelaskan dengan begitu detailnya, menyeluruh dalam segala bidang kehidupan. Oleh karena itu, Sungguh  sangat beruntungnya kita sebagai umat islam, umat yang di manjakan Allah Swt. dengan ilmu pengetahuan, umat yang di karuniahi utusan-utusan dari para nabi dan rosul pilihan untuk membimbing jalan kita dari gelapnya kebodohan ke dalam masa kejayaan yang terang akan sifat dan budi pekerti serta ilmu pengetahuan agama maupun umum, umat yang dikaruniahi pegangan hidup dengan banyak kisah dari para pendahulu serta berbagai pendapat dalam hadist, ijma' maupun qiyas yang memperjelas pemahaman kita pada al quran.

 al Qaththan, Syaikh manna. Pengantar  Studi Ilmu al Qur’an. Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar. 2006.  386-389
 al Qattan, Manna’ Khalil. Mabahis Ulumil Qur’an. Bogor: Litera AntarNusa. 2016. 439-440
Ash Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu al Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia. 1998. 138 
ash-Shiddieqy, Teungku M. Hasbi. Ilmu-Ilmu al Qur’an. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. 2009. 179
Aziz, Moh. Ali. Mengenal Tuntas al Qur’an. Surabaya: Imtiyas. 2018. 127-128
 Ghazali, Abd Moqsith. dkk. Metodologi Studi al Qur’an. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2009. 21
Hafidhuddin, Didin. M.SC. Ensiklopediana Ilmu dalam al Qur’an. Bandung: PT. Mizan Pustaka. 2007. 47
Hamid, Abdul. Pengantar Studi al Qur’an, Jakarta: Prenamedia Group 2016. 29
Hanifa, A.  Segi-segi Kesusteraan pada Kisah-Kisah Qur’an. Jakarta: Pustaka al Husna. 1983. 68
Ilyas, Yunahar. Kuliah Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Itqan Publishing. 2014. 228
Musyafa’ah, Sauqiyah. Dkk. Studi al Qur’an. Surabaya: Uin Sunan Ampel Press. 2013. 275-276
Studi Al-Quran. Reviewer. UIN Sunan Ampel Press. 2014 
Studi Al-Quran. Tim Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya. 2013 




[1] Syaikh manna al qaththan, Pengantar  Studi Ilmu al Qur’an (Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2006),  386-387
[2] Teungku M. Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu al Qur’an (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2009), 179
[3] Yunahar Ilyas, Kuliah Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Itqan Publishing, 2014), 228
[4] Moh. Ali Aziz, Mengenal Tuntas al Qur’an (Surabaya: Imtiyas, 2018), 127-128
[5] Muhammad Ali Ash Shaabuuniy, Studi Ilmu al Qur’an (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), 138 
 [7] Sauqiyah Musyafa’ah, dkk, Studi al
Qur’an (Surabaya: Uin Sunan Ampel Press, 2013),275-276
[8] Didin Hafidhuddin, Ensiklopediana Ilmu dalam al Qur’an (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2007), 47
[9] Abd Moqsith Ghazali, dkk., Metodologi Studi al Qur’an (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009), 21
[10] Syaikh Manna al Qaththan, Pengantar Studi Ilmu al Qur’an (Jakarta Timur: Pustaka al Kautsar, 2015), 388-389
[11] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis Ulumil Qur’an (Bogor: Litera AntarNusa, 2016), 439-440
[12] A. Hanifa, Segi-segi Kesusteraan pada Kisah-Kisah Qur’an (Jakarta: Pustaka al Husna, 1983), 68

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...