Senin, 28 Juni 2021

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

 

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

(Ujian Akhir Semester)

 

 

 



 

Disusun Oleh:

Alfa Chumaidah

NIM: B71219057

 

Dosen Pengampu:

Abu Amar Bustomi, M.Si

 

Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Surabaya

2021

 


 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur saya haturkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah serta inayah-Nya sehingga pada kesempatan ini penulis masih diberikan kesehatan jasmani serta rohani sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas UAS Mini Book ini tepat pada waktunya.

Mini Book ini disusun berdasarkan analisis serta pemahaman yang penulis susun dengan teliti. Disamping itu, Mini Book ini bertujuan untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya.

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi tercapainya penulisan yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini senantiasa bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi penulis.

 

Surabaya, 27 Juni 2021


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. II

DAFTAR ISI. III

BAB I: DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA.. 1

A.    Pengertian Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya. 1

B.    Unsur-unsur Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya. 2

C.    Ruang Lingkup Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya. 3

BAB II: T BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL.. 7

BAB III: TUJUAN, FUNGSI DAN PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA   8

A.    Pengertian Pengertian Dakwah Antar Budaya. 8

B.    Fungsi Dakwah Antar Budaya. 9

C.    Tujuan Dakwah Antar Budaya. 9

BAB IV: DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS, DAN BANGSA.. 11

A.    Pengertian Komunikasi Antarbudaya  11

B.    Pandangan Islam Terhadap Budaya Masyarakat Yang Beragam  12

BAB V: DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA.. 14

A.    Pengertian Komunikasi Lintas Budaya. 14

B.    Efektivitas Komunikasi Antarbudaya  15

C.    Prinsip Komunikasi Antarbudaya  16

BAB VI: AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON-VERBAL DALAM ILMU DAKWAH.. 18

A.    Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya  18

BAB VII: HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN.. 20

BAB VIII: DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS, DAN BANGSA..

. 23

DAFTAR PUSTAKA

 


 

BAB I

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Islam adalah agama yang damai, merambah ke berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang maupun status sosial. Agama Islam di bawa dan disebar luarkan dengan tujuan membawa manusia kembali ke jalan Sang Maha Kuasa, Allah SWT. Melalui dakwah ajaran Islam dapat tersampaikan ke berbagai belahan dunia, menerobos listas benua, negara, bahkan SARA. Begitupun dakwah yang tersebar ke berbagai kalangan tak luput dari Komunikasi yang tersampaikan. Al Quran dan Hadits merupakan bentuk rujukan dari komunikasi itu sendiri.

Setiap budaya yang berbeda tentu saja memiliki perbedaan, keunikan, dan ciri khas mereka sendiri. Oleh karena itu dalam menjalankan Dakwah Multikulturan dan Komunikasi Lintas Budaya kita perlu mengidentifikasi dan memahami secara dasar apa budaya tersebut, dengan tujuan agar dakwah yang dilakukan dapat tersampaikan dengan baik tanpa menyinggung suatu kelompok, golongan, atau Lembaga yang menjadi objek proses dari dakwah. Karena setiap budaya pastinya memberi identitas kepada kelompoknya sehingga jika kita ingin lebih muda memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam masing-masing budaya guna melancarkan proses dakwah yang terjadi maka, paling tidak kita harus mampu untuk mengidentifikasi identitas dari masing-masing budaya, melalui:

1.       Komunikasi dan Bahasa

2.       Makanan dan Kebiasaan

3.       Nilai dan Norma

A.       Pengertian Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

a.       Dakwah Multikultural

Ditinjau dari segi Bahasa, dakwah berasal dari Bahasa Arab ‘da’wah’ yang memiliki arti memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, mendatangkan, mendoakan, menangisi, dan meratapi (Ahmad Warson Munawwir, 1997: 406). Sedangkan Multikultural memiliki arti kebudayaan. Istilah Multikultur atau Multi budaya jika ditelaah asal-usulnya mulai dikenal sejak tahun 1960-an, setelah adanya gerakan hak-hak sipil sebagai koreksi terhadap kebijakan asimilasi kelompok minoritas terhadap melting pot yang sudah berjalan lama tentang kultur dominan Amerika khususnya di New York dan California.[1]

Jadi, Dakwah Multikultural merupakan upaya seseorang, golongan, atau Lembaga yang mengajak atau menyeru kepada kebaikan serta mencega keburukan kepada semua orang, dakwah ini bersifat menyeluruh tanpa memandang gender, batas usia, maupun SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) untuk mengenal, mempercayai, memahami, mempelajari, dan mengamalkan Agama Islam dalam kehidupan.

b.      Komunikasi Lintas Budaya

Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris), berasal dari bahasa latin, communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Secara sederhana dapatlah diartikan bahwa komunikasi merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan tujuan menyamakan makna dari seseorang/lembaga (komunikator) kepada orang lain/audiens (komunikan)[2]. Sedangkan menurut KBBI lintas budaya memiliki arti pertemuan antara dua budaya atau lebih yang berlangsung secara cepat. Maka dapat dipahami bahwa komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru)".

B.      Unsur-unsur Komunikasi

a.       Da’I atau komunikator

Orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u

b.       Mad’u atau komunikan

Orang yang menjadi sasaran dakwah atau orang yang akan menerima pesan dakwah dari Da’I 

c.       Materi / pesan dakwah

Isi pesan yang akan disampaikan da’I kepada mad’u

d.       Media dakwah

Alat yang dipakai dalam menyampaikan pesan dakwha dari Da’I kepada mad’u

e.       Feedback

Umpan balik, akibat atau efek dari proses dakwah. Metode yakni cara yang digunakan da’I untuk menyampaikan pesan dakwah untuk mencapaikan tujuan dari dakwah.

C.     Ruang Lingkup Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya

Ruang lingkup dakwah multikultural dan komunikasi lintas budaya dapat ditelusuri dengan cara mengintegrasi berbagai konseptualisasi tentang dimensi kebudayaan dalam konteks komunikasi lintas budaya. Adapun dimensi yang perlu diperhatikan adalah:

a.       Tingkat masyarakat kelompok budaya dari para pelaku komunikasi

b.       Konteks sosial tenpat terjadinya komunikasi lintas budaya

c.       Saluran komunikasi antarbudaya, baik yang bersifat verbal maupun non-verbal.


 

BAB II

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL

Perkembangan dakwah di Indonesia hingga saat ini telah diwarnai oleh berbagai macam kondisi sosial dan budaya. Terjadinya percampuran budaya (akulturasi budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antarbudaya) tak bisa dihindarkan apalagi dengan hadirnya kemajuan tekonologi dan informasi. Perkembangan teknologi komunikasi ikut membangun sebuah pola dakwah yang bisa digunakan pada era sekarang ini. Beragam budaya, agama, etnis dan golongan membutuhkan model pengelolaan yang sesuai, supaya dakwah tidak melenceng dari citacita luhurnya. Substansi dakwah multikulturalisme dikembangkan sebagai respon atas kondisi yang dilatarbelakangi oleh keragaman budaya atau masyarakat multikultural, utamanya yakni masyarakat yang sudah maju. Dakwah multikulturalime secara konsepsional mempunyai dua pandangan dengan makna yang saling berkatian. Pertama, multikultural sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan atau pluralisme budaya dari suatu masyarakat. Kondisi ini diasumsikan dapat membentuk sikap toleransi. Kedua, multikulturalisme merupakan seperangkat kebijakan pemerintah pusat yang dirancang sedemikian rupa agar seluruh masyarakat dapat memberikan perhatian kepada kebudayaan dari semua kelompok etnik atau suku bangsa. Hal ini beralasan, karena bagaimanapun juga, semua kelompok etnik atau suku bangsa telah memberi kontribusi bagi pembentukan dan pembangunan suatu bangsa. (Liliweri, 2005:69).

Dakwah Multikultural merupakan upaya seseorang, golongan, atau Lembaga yang mengajak atau menyeru kepada kebaikan serta mencega keburukan kepada semua orang, dakwah ini bersifat menyeluruh tanpa memandang gender, batas usia, maupun SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) untuk mengenal, mempercayai, memahami, mempelajari, dan mengamalkan Agama Islam dalam kehidupan. Multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk pada basis atau dasar dari dakwah multikultural, maka kita bisa Kembali pada Al Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihatnya melalui QS. Al-Hujurat: 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ 

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Secara global, ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya kaum muslim. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan saja, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Dihadapan Allah mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Allah Swt menciptakan manusia berbeda-beda suku, ras, dan bangsanya supaya saling mengenal. Melalui perkenalan itu mereka saling belajar, saling memahami, saling mengerti dan saling memperoleh manfaat, baik moral maupun materiil. Perkenalan itu niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.[3] Berdasarkan kebinekaan, tidak seorang pun berhak memaksakan keseragaman dalam hal apapun, termasuk dalam aspek keyakinan. Dalam surat Yunus ayat 99-100 Allah menegaskan prinsip dasar tersebut.

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab kepada orang yang tidak mengerti.”[4]

Ayat di atas menerangkan bahwa jika Allah berkehendak agar seluruh manusia beriman kepada-Nya, maka hal itu akan terlaksana, karena untuk melakukan yang demikian adalah mudah bagi-Nya, tetapi Dia tidak menghendaki yang demikian, Allah berkehendak melaksanakan sunnah-Nya di dalam penciptaan-Nya ini.

Kalau Allah Swt. berhendak menjadikan semua manusia sama, tanpa perbedaan, maka Dia menciptakan manusia seperti binatang tidak dapat berkreasi dan melakukan perkembangan, baik terhadap dirinya apalagi lingkungannya. Tapi itu tidak dihendaki Allah, karena Dia menugaskan manusia menjadi khalifah. Dengan perbedaan itu, manusia dapat berlomba-lomba dalam kebajikan, dan dengan demikian akan terjadi kreatifitas dan peningkatan kualitas. Karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang sehat, kedua hal itu akan tercapai. Untuk itulah manusia dianugerahi-Nya kebebasan bertindak, memilah dan memilih.[5]

Dari firman Allah tersebut dapat dipahami bahwa perbedaan manusia yang diterima tanpa menimbulkan perselisihan merupakan rahmat Allah yang membawa kebahagiaan, sedangkan yang diterima dengan permusuhan dan perselisihan akan menjadi pangkal kesengsaraan. Kesediaan menerima perbedaan dengan rahmat Allah itu juga merupakan pangkal persaudaraan dan persatuan. Dari sini, ketika terjadi perbedaan dan ketegangan diantara sesama umat manusia, harus dilakukan dialog untuk mencari kebenaran universal yang memiliki tujuan antara lain:

1. Untuk saling mengenal (al-ta’aruf)

2. Untuk saling mengerti (al-tafahum)

3. Untuk saling mengasihi (al-tarahum)

4. Untuk membangun solidaritas (al-tadhamun)

5. Untuk hidup bersama secara damai (al-ta’ayusy al-silmi).

Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa dakwah multikultural mengajukan lima macam pendekatan, antara lain:

a)       Pendekatan dakwah multikultural dengan menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit (berbelit-belit) dalam meng-Islamkan umat non-muslim. Lebih dari itu, pendekatan dakwah multikultural menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal, dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal. Berbeda dengan pendekatan konvensional, pendekatan dakwah multikultural, seperti dinyatakan menilai fenomena konversi non-muslim menjadi muslim adalah efek samping dari tujuan dakwah, dan bukan tujuan utama dari dakwah itu sendiri. Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa cara pandang multikultural mencoba membedakan antara Islam sebagai sikap hidup (islam’amm), dan Islam sebagai sebuah agama yang terinstitusi (islam khashsh). Pembedaan antar keduanya banyak ditemukan dalam pemikiran cendekiawan muslim Nurcholish Madjid, menegaskan bahwa Islam sebagai sikap hidup dapat dijumpai dalam keyakinan semua agama-agama, dan bukan hanya monopoli agama Islam par excellence.

b)      Dalam ranah kebijakan publik dan politik

Dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas. Tujuan dari program dakwah ini, terutama dimaksudkan agar seluruh kelompok etnis dan keyakinan mendapat pengakuan legal dari negara dari satu aspek, dan bebasnya penindasan atas nama dominasi mayoritas dari aspek yang lain. Untuk kepentingan ini pula, pendekatan dakwah multikultural berusaha memberi dukungan moral dan legislatif atas budaya politik demokrasi. Melalui budaya demokrasi ini, dakwah multikultural berusaha agar kebijakan atau produk politik yang biasanya etno-religius dapat dieliminasi dan digantikan dengan kebijakan-kebijakan politik yang ramah dan peka terhadap keragaman etnis dan keyakinan masyarakat.

c)       Dalam ranah sosial,

Dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy). Seperti telah disinggung, bahwa pendekatan multikultural sejatinya merupakan kelanjutan dari pendekatan dakwah kultural dengan perbedaan pada tingkat keragaman dan pluralitasnya. Dalam masyarakat multikultural, sepanjang terbebas dari kepentingan politik, keragaman keyakinan dan budaya itu sesungguhnya merupakan fakta yang dapat diterima oleh semua pihak. Adapun konflik yang sering terjadi antar-keyakinan dan agama, sejatinya adalah efek negatif dari perebutan kepentingan dalam ranah politik. Untuk tujuan ini, dakwah multikultural memang berbeda dan kurang sepaham dengan pemikiran dakwah yang mengedepankan Islam sebagai manhaj hayah, dan Islam sebagai din, dunya dan daulah, seperti digagas dan dikedepankan oleh Sayyid Quthub dan tokoh-tokoh Ikhwan yang lain. Demikian itu, karena kedua ide di atas berpotensi melahirkan radikalisme agama yang eksklusivistik, dan dinilai tidak sejalan dengan perkembangan masyarakat global-multikultural yang inklusif dan plural. Berlawanan dengan di atas, dakwah multikultural memilih pendekatan kultural yang mengedepankan strategi sosialisasi Islam sebagai bagian integral umat, dan bukan sesuatu yang asing melalui pengembangan gagasan Islam sebagai sistem moral (al-islam huwa al-nizham alakhlaqiyyah).

d)      Dalam konteks pergaulan global

Dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding). Dalam merespons fenomena globalisasi yang sedikit demi sedikit menghapus sekat-sekat antar-budaya dan agama sekarang ini, dakwah multikultural, seperti diusulkan Mulkan, merasa perlu membangun “etika global” yang digali dari sumber etika kemanusiaan universal yang terdapat dalam seluruh ajaran agama. Untuk tujuan tersebut, pendekatan dakwah multikultural melalui agendanya, antara lain dengan menafsir ulang sejumlah teks-teks keagamaan yang biasanya eksklusivisme, misalnya dengan metode hermeneutika.

e)       Dalam konteks penyegarkan kembali pehamaman doktrin-doktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.[6]


 

BAB III

Tujuan, Fungsi dan Peranan Dakwah dalam Komunikasi Antarbudaya

Islam merupakan ajaran yang diturunkan untuk manusia agar bersosialisasi kepada masyarakat lainnya. Kemudian melahirkan suatu kebudayaan dalam masyarakat tersebut. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial dan wahana aktualisasi amal saleh. Banyak ayat al-Qur’an yang membahas peranan manusia di tengah manusia lainnya menempatkan Islam sebagai agama yang paling manusiawi di bandingkan agama lainnya (Aripudin, 2012:55). Sementara pandangan orang-orang barat menempatkan manusia sebagai subjek bebas dari nilai-nilai yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu nilai-nilai yang berkembang dari waktu ke waktu bergantung pada kesepakatan yang ada dalam masyarakat. Adapun Islam datang menempatkan manusia sebagai subjek yang tunduk dan patuh pada nilai-nilai ilahiah, bukan nilai-nilai yang hanya sekedar berkembang dalam masyarakat saat ini (Yusuf, 2002:55).

Masyarakat dipandang sebagai wahana pengaktualisasian nilai-nilai ilahiah sehingga membentuk kultur agama. Sebaliknya kultur yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut dibina dan dikembangkan serta diwarnai oleh nilai-nilai ilahiah. Islam memiliki konsep strategis pada masyarakat yang menjadi harapannya dan hendak diwujudkan dalam kehidupan antar budaya. Konsep masyarakat ideal dikenal dengan istilah masyarakat marhamah, yaitu tatanan masyarakat yang memiliki hubungan erat antara anggota masyarakatnya berdasarkan rasa kasih dan sayang antar budaya tersebut. Tatanan pada konsep dakwah ini berupaya membangun strategi dakwah yang lebih ramah dan damai, hal ini merupakan ijtihad yang sangat signifikan dengan tuntutan zaman. Meskipun dalam praktiknya pelaksanaan dakwah yang lebih santun dan damai merupakan senjata jitu seperti yang dilakukan Rasulallah tempo dulu. Suatu upaya yang bisa kita renungkan dan kita apresiasi terhadap perkembangan budaya pada satu sisi dan perkembangan budaya lokal yang menjadi khasanah kearifan dakwah karena dalam telaah dakwah antar budaya, dakwah tidak hanya dipahami as the transfer of Islamic values atau hanya transfer nilai-nilai Islam yang luhur kepada masyarakat di muka bumi akan tetapi dakwah Islam hendaknya mampu mengupayakan kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya positif secara kritis tanpa terbelenggu oleh latar belakang budaya formal suatu masyarakat.

Untuk memahami Islam sebagai sistem nilai diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang memadai perihal keyakinan dan pandangan dasar Islam mengenai kehidupan. Tujuan utama diturunkan al-Qur’an adalah mempengaruhi dan memberi pedoman bagi tingkah laku manusia. Senada dengan itu menurut Fazlur Rahman, tidak heran kalau al-Qur’an berulang-ulang mengecam tindakan menyembah selain Allah atau menyekutukan Allah. Namun, Seiring berjalannya waktu dengan berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan, mulai berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang efektif menjadi keinginan semua orang. dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

A.     Pengertian Dakwah Antar Budaya

Dakwah Antar Budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai.[7] Dakwah antar budaya adalah terapan dakwah yang dilakukan antar dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, dakwah ini sama halnya dengan dakwah biasanya yakni dengan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang. Namun yang membedakan dakwah ini dengan dakwah biasanya terletak pada perbedaan latar belakang dan budayanya. Dakwah antar budaya merupakan dakwah dengan pengalihan informasi dari seseorang berkebudayaan tertentu kepada seseorang yang berkebudayaan lain.

B.      Fungsi Dakwah Antar Budaya

Menurut Litvi, fungsi dari komunikasi antar budaya memiliki sifat kognitif dan afektif. Maksudnya yakni mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampuh menerima gaya dan isi komunikasi itu sendiri.

C.     Tujuan Dakwah Antar Budaya

a.       Mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat luas

b.       Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang yang berkaitan dengan proses dakwah dalam masyarakat yang lebih luas

c.       Menjadi perantara dalam proses berkomunikasi antar budaya

d.       Mengawasi problem komunikasi antar budaya dimana komunikator dan komunikan yang memiliki perbedaan kebudayaan.


 

BAB IV

Dakwah Dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras, Dan Bangsa

Komunikasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia, baik secara individu maupun sosial/masyarakat. Komunikasi adalah salah satu aktivitas yang sangat fundamental dan vital dalam kehidupan manusia. Hal ini, bisa dibuktikan dengan kebutuhan manusia untukber hubungan dengan Tuhan (Allah), dan sesamanya. Disamping itu, komunikasi sebagai sesuatu yang urgen dalam kehidupan umat manusia. Oleh karenanya, kedudukan komunikasi dalam Islam mendapat perhatian yang cukup kuat bagi manusia sebagai anggota masyarakat. Komunikasi dakwah adalah komunikasi yang unsur-unsurnya disesuaikan dengan visi dan misi dakwah. Menurut Toto Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.[8]

Setelah membahas tentang komunikasi dakwah tentu saja akan berhubungan dengan budaya dan perbedaan. Kerana pada hakikatnya komunikasi antar budaya yang terdiri dari etnis, ras, dan bangsa selalu menjunjung tinggi asas kesetaraan antara komunikator dan komunikan. Bahkan adanya perbedaan latar belakang budaya antara komunikator dan komunikan harus disikapi secara arif sehingga tidak menimbulkan kesenjangan, tetapi justru dapat memperkaya pengalaman.[9]

A.     Pengertian Komunikasi Antarbudaya 

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosio-ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.[10] Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.[11] Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.[12]

Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.[13]

B.        Pandangan Islam Terhadap Budaya Masyarakat Yang Beragam

Seperti yang kita tahu bahwa Islam merupakan ajaran yang diturunkan untuk manusia agar bersosialisasi kepada masyarakat lainnya. Kemudian melahirkan suatu kebudayaan dalam masyarakat tersebut, entah melalu percampuran, atau memakai budaya dari salah satunya lalu meninggalkan budaya lainnya. Sebagai ajaran yang datang dari Allah SWT, Islam tidak bertentangan dengan manusia karena Allah merupakan sumber ajaran dan pencipta manusia dan alam seisinya. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial dan wahana aktualisasi amal saleh.

Banyak ayat al-Qur’an yang membahas peranan manusia di tengah manusia lain yang menempatkan Islam sebagai agama yang paling manusiawi di bandingkan agama lainnya (Aripudin, 2012:55). Sementara pandangan orang-orang barat menempatkan manusia sebagai subjek bebas dari nilai-nilai yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu nilai-nilai yang berkembang dari waktu ke waktu bergantung pada kesepakatan yang ada dalam masyarakat. Adapun Islam datang menempatkan manusia sebagai subjek yang tunduk dan patuh pada nilai-nilai ilahiah, bukan nilai-nilai yang hanya sekedar berkembang dalam masyarakat saat ini (Yusuf, 2002:55). Masyarakat dipandang sebagai wahana pengaktualisasian nilai-nilai ilahiah sehingga membentuk kultur agama. Sebaliknya kultur yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut dibina dan dikembangkan serta diwarnai oleh nilai-nilai ilahiah. Islam memiliki konsep strategis pada masyarakat yang menjadi harapannya dan hendak diwujudkan dalam kehidupan antar budaya. Konsep masyarakat ideal dikenal dengan istilah masyarakat marhamah, yaitu tatanan masyarakat yang memiliki hubungan erat antara anggota masyarakatnya berdasarkan rasa kasih dan sayang antar budaya tersebut.[14]

Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa, dakwah dalam komunikasi antar budaya (antar etnik, ras, dan bangsa) tidak akan menghalangi proses dalam berdakwah. Namun hal tersebut malah mendorong komunikator atau Da’I untuk lebih banyak mengulas apa-apa saja yang berhubungan dengan komunikannya atau mad’unya, dengan tujuan agar pesan-pesan dakwah dapat tersampaikan dengan baik tanpa adanya hambatan atau halangan dalam bentuk perbedaan kebudayaan sekalipun. Perbedaan budaya yang ada bukanlah penghalang dakwah Islam mandek, namun dari perbedaan budaya itu dapat mengantarkan masyarakat, kaum muslimin khususnya untuk tahu lebih jauh pengetahuan yang ada, baik pengetahuan keagamaan maupun adat dan kebiasaan dari sosial kemasyarakatan.


 

BAB V

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

A.       Pengertian Komunikasi lintas budaya

Komunikasi lintas budaya adalah Maka dapat dipahami bahwa komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru)".

B.        Efektifitas Komunikasi Lintas Budaya

Seluruh proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Itulah yang dikatakan sebagai komunikasi lintas budaya yang efektif, sering disebut pula dengan efektivitas komunikasi lintas budaya. Kata Gudykunst, jika dua orang atau lebih berkomunikasi lintas budaya secara efektif maka mereka akan berurusan dengan satu atau lebih pesan yang ditukar (dikirim & diterima) mereka harus bisa memberikan makna yang sama atas pesan. Singkat kata, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan komunikasi lantaran mereka berhasil menekan sekecil mungkin kesalahpahaman.[15]

Everet Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya yang efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksudkan dengan saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan menyandi balik pesan yang diterima. Satu hal yang patut diingat bahwa pemahaman timbal balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju, tetapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesan yang dipertukarkan itu.

Lebih lanjut Schramm mengemukakan, komunikasi lintas budaya yang benar-benar efektif harus memperhatikan empat syarat, yaitu:[16]

a.       Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia

b.       Menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang di kehendaki.

c.       Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara bertindak.

d.       Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain.

Yang paling penting sebagai hasil komunikasi adalah kebersamaan dalam makna itu. Bukan sekedar hanya komunikatornya, isi pesanya, media atau saluranya. Maka, agar maksud komunikasi dipahami dan diterima serta dilaksankan bersama, harus dimungkinkan adanya peran serta untuk mempertukarkan dan merundingkan makna diantara semua pihak dan unsur dalam komunikasi yang pada akhinya akan menghasilkan keselarasan dan keserasian.

C.   Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya

Hambatan-Hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya terjadi karena alasan yang bermacam-macam karena komunikasi mencakup pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima secara berganti-ganti maka hambatanhambatan tersebut dapat terjadi dari semua pihak antara lain:

a.       Keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikasi.

Masalah komunikasi sering terjadi karena alasan dan motivasi untuk berkomunikasi yang berbeda-beda, dalam situasi antarbudaya perbedaan ini dapat menimbulkan masalah.

b.       Etnosentrisme, banyak orang yang menganggap caranya melakukan persepsi terhadap hal-hal disekelilingnya adalah satu-satunya yang paling tepat dan benar, padahal harus disadari bahwa setiap orang memiliki sejarah masa lalunya sendiri sehingga apa yang dianggapnya baik belum tentu sesuai dengan persepsi orang lain.[17] Etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri karena etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya.

c.       Tidak adanya kepercayaan karena sifatnya yang khusus, komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidak percayaan antara pihak-pihak yang terlibat.

d.       Penarikan diri komunikasi tidak mungkin terjadi bila salah satu pihak secara psikologis menarik diri dari pertemuan yang seharusnya terjadi. Ada dugaan bahwa macam-macam perkembangan saat ini antara lain meningkatnya urbanisasi, perasaan-perasaan orang untuk menarik diri dan apatis semakin banyak pula.

Namun Menurut Barna & Rubenm hambatan-hambatan komunikasi lintas budaya dibagi menjadi 5 yaitu: [18]

a.       Mengabaikan Perbedaan Antara Anda dan Kelompok yang Secara Kultural Berbeda

b.       Mengabaikan perbedaan Antara Kelompok Kultural yang Berbeda

c.       Mengabaikan Perbedaan dalam Makna

d.       Melanggar Adat Kebiasaan Kultural

e.       Menilai Perbedaan Secara Negatif

D.   Prinsip Komunikasi Lintas Budaya

Ada beberapa prinsip yang harus  diketahui dalam menjalankan komunikasi lintas budaya, antaralain:[19]

a.       Relativitas Bahasa

Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

a.       Bahasa Sebagai Cermin Budaya

Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat non-verbal. Makin besar perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).

b.       Mengurangi Ketidak-pastian

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidakpastian dam ambiguitas dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena ketidak-pastian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.

c.       Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya

Makin besar perbedaan suatu budaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat lebih waspada. ini mencegah mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.

d.       Memaksimalkan Hasil Interaksi

Dalam komunikasi lintas budaya seperti dalam semua komunikasi, berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan.


 

BAB VI

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non-Verbal dalam Ilmu Dakwah

A.       Akvitas Komunikasi Lintas Budaya

a.       Komunikasi Verbal

adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik itu secara lisan maupun tulisan. Komunikasi verbal paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia, untuk mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar, perasaan dan pemikiran, saling berdebat dan bertengkar, dll.[20] Dalam komunikasi dakwah komunikasi verbal ini biasanya digunakan oleh para pendakwah dalam menyampaikan pesan dakwahnya kepada mad’u. Terdapat beberapa unsur dalam komunikasi verbal ini, antaralaian: kata dan Bahasa.[21]

b.       Komunikasi Non-Verbal

adalah komunikasi dengan menggunakan semua isyarat yang bukan kata-kata. Pesan-pesan nonverbal sangat berpengaruh terhadap komunikasi. Pesan atau simbol-simbol non-verbal sangat sulit untuk ditafsirkan dari pada simbol verbal. Bahasa verbal sealur dengan bahasa nonverbal, contoh ketika kita mengatakan “ya” pasti kepala kita mengangguk. Komunikasi nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan.[22] Komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Komunikasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada.

Bentuk komunikasi non-verbal adalah perilaku kinesik. Perilaku kinesik adalah komunikasi melalui gerakan tubuh—misalnya, postur, gerak tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata. Makna dari perilaku tersebut bervariasi antar negara dan mempengaruhi komunikasi lintas budaya. Bentuk komunikasi nonverbal secara kinesik adalah kontak mata dan menggunakan mata untuk menyampaikan pesan. Secara keseluruhan, komunikasi nonverbal memberikan petunjuk untuk apa yang dikatakan secara verbal dengan penggambaran fisik. Komunikasi nonverbal telah ditunjukkan untuk memperhitungkan antara 65% dan 93% dari ditafsirkannya proses komunikasi.

Seperti yang kita ketahui bahwa Masalah dalam komunikasi lintas budaya biasanya datang dari transmisi pesan. Dalam komunikasi antara orang-orang dari budaya yang sama, orang yang menerima pesan menafsirkannya berdasarkan pada nilai-nilai, keyakinan, dan harapan untuk perilaku yang mirip dengan orang-orang yang mengirim pesan. Ketika ini terjadi, cara pesan yang ditafsirkan oleh penerima cukup mirip dengan apa yang dimaksudkan oleh sang pembicara. Namun, ketika penerima pesan adalah orang dari budaya yang berbeda, penerima menggunakan informasi dari budaya sang pembicara untuk menafsirkan pesan. Pesan yang ditafsirkan mungkin sangat berbeda dari apa yang pembicara maksudkan. Oleh karena itu Komunikasi yang efektif bergantung pada pengertian informal antara pihak-pihak yang terlibat yang didasarkan pada kepercayaan yang berkembang di antara mereka. Ketika kepercayaan itu ada, implisit pengertian dalam komunikasi dan perbedaan budaya dapat diabaikan, dan masalah-masalah dapat ditangani dengan lebih mudah. Arti dari kepercayaan dan bagaimana hal ini dikembangkan serta dikomunikasikan berbeda-beda di masyarakat. Demikian pula, beberapa budaya memiliki kecenderungan yang lebih dipercaya dibandingkan dengan yang lain.

Jadi mengenai “Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non-Verbal dalam Ilmu Dakwah” dapat dipahami bahwa Proses berdakwah adalah bentuk aktivitas komunikasi. Komunikasi dalam dakwah umumnya menggunakan bentuk komunikasi verbal, namun tak jarang komunikasi non-verbal akan disisipkan di dalamnya guna mendukung atau memberikan pemahaman lebih kepada mad’u terlebih dengan adalah komunikasi lintas budaya. Aktivitas dakwah lintas budaya tentu sudah banyak terjadi, terlebih di zaman yang serba canggih seperti saat ini. Mad’u dakwah tak terbatas pada Kalangan tertentu, orang dengan budaya tertentu, atau wilayah tertentu.


 

BAB VII

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern

Globalisasi terjadi karena perkembangan teknologi yang begitu pesat. Teknologi informasi yang semakin canggih memungkinkan setiap orang mengenggam infromasi. Kecanggihan teknologi transportasi memungkinkan setiap orang berkunjung ke setiap negara berbeda hanya dalam waktu beberapa jam. Pertukaran kebudayaan adalah hal yang sangat mungkin terjadi, karena siapapun yang datang dari suatu negara atau daerah sudah pasti tidak akan terlepas dari budaya di mana ia lahir dan dibesarkan. Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya, ia harus berbagi ruang dengan orang dari budaya lain (berbeda darinya). Pertukaran budaya ini, mungkin saja menimbulkan konflik. Konflik bisa diredam dengan lahirnya sebuah kesadaran bahwa setiap orang harus bisa memahami budaya orang lain yang berbeda budaya dengan dirinya. Menurut Deddy Mulyana bahwa budaya-budaya yang sangat berbeda memiliki sistem- sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara kita berkomunikasi sangat bergantung pada budaya kita: bahasa, aturan, dan norma kita masing-masing.[23]

Berbeda budaya berarti berbeda dalam menyampaikan ide, gagasan, dan berbeda dalam perilaku keseharian. Berbeda budaya berarti berbeda dalam strategi komunikasi. Seorang yang hanya mengerti bahasa daerah tidak akan bisa mengerti bila menerima pesan dalam bahasa Indonesia. Seorang yang budayanya begitu santun kepada orang tua tidak akan menerima orang yang tidak hormat terhadap orang yang dituakan. Seorang yang dalam kebudayaannya terbiasa bersikap apa adanya tidak akan menerima budaya yang penuh kepura-puraan. Candio Elliot mencontohkan, gaya promosi diri mungkin sangat sedikit ditampilkan oleh penduduk asli Amerika (native) termasuk orang Asia umumnya, disusul orang Hispanik, dan gaya seperti itu kebanyakan digunakan oleh orang Afrika. Gaya berpakaian formal mungkin sedikit ditunjukkan oleh orang Hispanik dan penduduk asli orang Afrika, namun sangat banyak dipamerkan oleh orang-orang Anglo (Amerika Campuran).[24]

A.            Hambatan-Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern

a.       Etnosentrisme

Sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa budaya sendiri lebih unggul dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah budaya lain, dan tidak mau mengakui keunikan budaya lain sebagai suatu ciri khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang dan mengukur budaya lain berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap berlawanan dan berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri. Sikap ini dapat mengakibatkan adanya pembatasan pergaulan dengan individu yang memiliki budaya yang berbeda. Contohnya kecenderungan orang Indonesia yang mengganggap budaya ‘barat’ yang vulgar berlawanan dengan budaya ‘timur’ yang santun. Hal tersebut menimbulkan ketakutan akan tercemarnya budaya lokal oleh budaya asing, sehingga pergaulan dengan orang barat akan dibatasi.

b.      Stereotipe

Sikap yang menggeneralisasi atau menyamaratakan sekelompok orang tanpa mempertimbangkan kepribadian atau keunikan masing-masing individu. Stereotipe mengelompokkan individu berdasarkan keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak memandang individu dalam kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik individual mereka diabaikan, dianggap homogen. Sikap ini bersifat negative karena dapat menghambat berjalannya proses komunikasi lintas budaya yang efektif dan harmonis.

c.       Rasialisme,

Prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap RAS tertentu.  Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya, prilaku ini bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda dengan sikap rasis, rasialisme merujuk pada gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial.

d.       Prasangka

Persepsi yang keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka mirip dengan streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil, menyimpang, dan intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada umumnya bersifat negatif, adanya prasangka dapat  membuat seseorang memandang rendah dan bahkan memusuhi orang atau kelompok lain. Hadirnya prasangka berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara pemilik prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa, seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan membuat komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap orang pasti akan lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan dirinya dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi.

e.       Jarak Sosial

Berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, buka perbedaan kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial membagi individu dalam kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan jarak sosial membagi individu individu dalam suatu kelompok secara horizontal, berdasarkan peradaban. Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi. Misalnya jarak sosial antara peradaban modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di digitalisasi secara online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara manual. 

f.        Persepsi

Proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang ketika berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda.  Persepsi negatif dapat berdampak buruk bagi kefektifan komunikasi lintas budaya.

g.       Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang menghasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

h.      Paralinguistik

Gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat.

Adapun faktor lain yang dapat menghambat adanya komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern antaralain yakni fisik, budaya, motivasi, pengalaman, emosi, bahasa (verbal), nonverbal, dan kompetisi.

BAB VIII

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan (Enjang, 2009. 24-34). Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi tergantung pada budaya: Bahasa, aturan, dan norma masing-masing (Liliweri, 2011. 9). Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam bukunya “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu sebagai interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2009. 12-13). Dalam bukunya, Abraham Laswell mengatakan bahwa komunikasi adalah who says what to whom in this channel with what effect. Efek disini merupakan sikap dan tingkah laku hasil berkomunikasi tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa komunikasi adalah proses proses pertukaran pesan dari komunikator dan komunikan yang menghasilkan efek. Adapun unsur-unsur komunikasi antaralain: komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek.[25]

Seiring dengan berjalannya waktu dengan berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan mulai berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang efektif menjadi keinginan semua orang. Dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125 yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang bijaksana. Sesungguhnya Allah dialah yang lebih baik mengetahui tentang siap yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui dari orang-orang yang mendapat petunjuk” (Aang, 2009:5).

Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari segala macam kesibukan. Selama mereka masih hidup dan ingin memenuhi kebutuhannya maka aktivitas mereka tidak akan berhenti. Tindakan yang mereka lakukan tentu saja sesuai dengan tujuan masing-masing dan hal ini harus ada solusi maupun jalan keluarnya. Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang juga berbudaya adalah manusia itu tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain, dari lahir sampai mati juga tetap memerlukan bantuan dari orang lain (tidak terbatas pada keluarga, saudara, maupun teman). Oleh karena itu manusia diciptakan dengan beberapa kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang berbeda-beda untuk saling melengkapi, dikomunikasikan dan saling menolong. Usaha dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya.[26]

Budaya adalah bagian dari dakwah. Sebuah kebudayaan tak bisa terpisahkan dari dakwah, karena dakwah berhembus dan mengalir sepanjang budaya ada, dakwah tak pernah memilih kemana dia akan menyeruh, dia akan datang dan mengalir begitu saja seperti angin segar bagi semua orang.  Sebagai sebuah gerakan suci yang bersifat universal dan fleksibel, dakwah senantiasa berkembang sesuai dengan ritme perkembangan zaman dan kebudayaan yang menyertainya. Pemikiran dakwah sebagai suatu konstruk akal-budi merupakan hasil bentukan dari konteks budaya yang menjadi latar belakangnya (culturally constructed). Ia senantiasa terbangun oleh unsur-unsur kebudayaan tempat setiap figur pemikir dan pelaku dakwah bertumbuh kembang. Unsur kebudayaan dalam hal ini tercermin pada konteks sosio-politik, lingkungan akademik, dan organisasi dakwah yang menjadi tempat figur dakwah itu dibesarkan.[27]

Tujuan utama dari dakwah adalah adanya sebuah perubahan sosial dan setiap da`i harus memiliki tanggungjawab terhadap perubahan tersebut. Pada kenyataannya belum terjadi perubahan sosial secara revolusioner, padahal dakwah dengan gencar dilakukan dimana-mana, baik di perkotaan maupun ke pelosok pedesaan, baik melalui media elektronik ataupun media cetak. Problema dakwah menjadi tantangan tersendiri bagi pada da`i, selain masih adanya fanatisme, masalah patologi sosial semakin merajalela, kriminalitas yang tingggi, pelecehan seksual, pelacuran, perjudian, mewabahnya korupsi yang terjadi. Bahkan problema sosial lainnya seperti semakin terbukanya penyakit seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Kondisi seperti diatas merupakan tantangan dakwah yang harus dicari jalan keluarnya. Dakwah bukan sekedar soal perencanaan dan strategi, tetapi dakwah harus mampu mengikuti irama yang terus berkembang dari waktu ke waktu, namun harus kita akui dengan semakin maraknya aktivitas dakwah tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kehidupan masyarakat, bahkan meningkatnya pengetahuan agama tidak berbanding lurus pula dengan perilaku. Bukan hanya sekedar masyarakat, banyak pula para da`i yang hanya menjadi pemuja popularitas dan uang, sama sekali mereka tidak pernah peduli dan mengevaluasi hasil dakwahnya di masyarakat.

Kearifan lokal lebih menggambarkan satu fenomena spesifik yang biasanya menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut, misalnya Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok, kudu ngindung ka waktu mi bapa ka jaman (masyarakat Jawa Barat). Alon alon asal kelakon (Masyarakat Jawa Tengah), rawe-rawe rantas malang-malang putung (masyarakat jawa Timur), dan sebagainya.

Menurut Anjar Nugroho, selama ini ketegangan antara agama (terutama Islam) dengan budaya lokal berakibat pada pudarnya nilai-nilai kearifan lokal. Ia mencoba mengkaji dialektika antara agama dan kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberikan kekayaan terhadap agama. Akan tetapi, terkadang dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran ilahiah yang bersifat absolut, perlu adanya gagasan pribumisasi Islam. Hal ini karena pribumi Islam menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, tetapi berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuk yang otentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya.[28]

Jadi, jika Berbicara mengenai budaya dan kearifan dakwah maka bayangan pertama yang terpikir oleh kita adalah dakwah yang dilakukan wali songo, bagaimana mereka menyerukan nafas-nafas Islam yang masing asing bagi masyarakat pribumi hingga saat ini budaya-budaya keislaman menjadi makanan sehari-hari. Budaya dan kearifan dakwah yang terjadi saat ini merupakan bentuk akulturasi budaya yang terjadi sedikit demi sedikit  seiring berjalannya waktu. Salah satu bentuk kearifan dakwah yang adalah adanya kegiatan kenduri pada saat-saat tertentu, dll.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Nur. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 3, No.1 Juni 2015, 25-26

Ahmad, Nur. “Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. Vol. 3, No.1, 2015, hal. 31-32.

Aripudin, Asep Dakwah Antar Budaya, (Jakarta: Rosda, 2012).

Cangara, Hafied. Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007)

DeVito, Joseph A.  Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional Books, 1996) hlm. 490.

Hamid, Farid. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa. Jakarta; Kencana. 2011.

Ibrahim, Rustam. “Pendidikan Multikultural”, ADDIN, Vol. 7, No. 1, Februari 2013, 133-134.

Jandt, Fred E. Intercultural Communication, An Introduction. 1998. London. Sage Publication. Hal. 36

Kurniati, Desak Putu Yuli. Modul Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Universitas Udayana, 2016), hal. 7-8

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Kebinekaan (Tafsir Al-Qur’an Tematik) (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2011), p. 22

Liliweri, Alo Makna Budaya dalam…hlm. 15

Liliweri, Alo Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.

Liliweri, Alo. Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 171.

Liliweri, Alo. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. 2003. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal. 11-12

Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112

Mulyana, Deddy & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)

Mulyana, Deddy. Komunikasi Efektif, (Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197

Nugroho, Anjar. http//pemikiranislam,word press.com/2007/08/14/Islam-dan-kebudayaan-lokal/

Nugroho, Widyo. Modul Teori Komunikasi Verbal dan Nonverbal

Purwasito, Andrik. Komunikasi Multikultural. 2003. Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal. 123

Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya, p. 220

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah Vol. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), pp. 375-6

Siddik, Syaikh Abdurrahman. 2017, “Dakwah Multikultural”, Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, Vol. 8, no. 1 (2017), pp. 160-177, hal. 172-174

Solahudin, Didin dan Ahmad Sarbini, “Kajian Dakwah Multiperspektif Sebuah Pendahuluan” (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2014), hlm,7.

Suranto, Implementasi Teori Komunikasi Sosial Budaya dalam Pembangunan Integrasi Bangsa”, INFORMASI Kajian Ilmu Komunikasi Volume 45. Nomor 1. Juni 2015, hal 70.

Syarifah, Masykurotus. “Budaya dan Kearifan Dakwah”, al-balagh Vol. 1, No. 1, 2016, hal. 24-25.

Tubbs, Stewart L. dan Sylvia Moss. Human Communication:Konteks-konteks Komunikasi. 1996. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal. 236-238.

 

 

 



[1] Rustam Ibrahim, “Pendidikan Multikultural”, ADDIN, Vol. 7, No. 1, Februari 2013, 133-134.

[2] Hamid, Farid. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa. Jakarta; Kencana. 2011.

[3] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Kebinekaan (Tafsir Al-Qur’an Tematik) (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2011), p. 22

[4] Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya, p. 220

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Vol. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), pp. 375-6

[6] Syaikh Abdurrahman Siddik, 2017, “Dakwah Multikultural”, Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, Vol. 8, no. 1 (2017), pp. 160-177, hal. 172-174

[7] Asep Aripudin, Dakwah Antar Budaya, (Jakarta: Rosda, 2012).

[8] Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112

[9] Suranto, Implementasi Teori Komunikasi Sosial Budaya dalam Pembangunan Integrasi Bangsa”, INFORMASI Kajian Ilmu Komunikasi Volume 45. Nomor 1. Juni 2015, hal 70.

[10] Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. Human Communication:Konteks-konteks Komunikasi. 1996. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal. 236-238

[11]  Andrik Purwasito. Komunikasi Multikultural. 2003. Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal. 123

[12] Fred E. Jandt. Intercultural Communication, An Introduction. 1998. London. Sage Publication. Hal. 36

[13] Alo Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. 2003. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal. 11-12

[14] Nur Ahmad, Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 3, No.1 Juni 2015, 25-26

[15] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.

[16] Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 171.

[17] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 15

[18] Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional Books, 1996) hlm. 490.

[19] Ibid, Hal. 488

[20] Desak Putu Yuli Kurniati, Modul Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Universitas Udayana, 2016), hal. 7-8

[21] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007)

[22] Widyo Nugroho, Modul Teori Komunikasi Verbal dan Nonverbal

[23] Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)

[24] Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, (Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197

[25] Masykurotus Syarifah, “Budaya dan Kearifan Dakwah”, al-balagh Vol. 1, No. 1, 2016, hal. 24-25.

[26] Nur Ahmad, “Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. Vol. 3, No.1, 2015, hal. 31-32.

[27] Didin Solahudin dan Ahmad Sarbini, “Kajian Dakwah Multiperspektif Sebuah Pendahuluan” (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2014), hlm,7.

[28] Anjar Nugroho, http//pemikiranislam,word press.com/2007/08/14/Islam-dan-kebudayaan-lokal/

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...