Dakwah dalam
Komunikasi Antar Etnik, Ras, dan Bangsa
Abstrak: Berbicara mengenai
komunikasi tentu tidak akan ada habisnya, apalagi komunikasi yang bergandengan
dengan dakwah. Pada dasarnya komunikasi adalah bagian dari dakwah. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi-informasi,
pesan-pesan, gagasan-gagasan atau pengertian-pengertian dengan menggunakan lambang-lambang
yang mengandung arti atau makna, baik secara verbal maupun nonverbal dari
seseorang atau sekelompok orang, kepada seseorang atau sekelompok orang lain
dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan bersama (T. May Rudi, 2005: 1). Salah satu
tujuan dari dakwah ada dalam komunikasi, yakni menyampaikan pesan informasi
kepada orang lain dengan tujuan tersalurkannya pesan dakwah Islam. Namun dalam
konsepnya tentu saja ada hambatan atau rintangan yang memicu komunikasi dakwah
agar lebih peka terhadap mad’u atau komunikannya, yakni perbedaan. Perbedaan yang
ada dalam komunikasi adalah hal yang wajar, perbedaan SARA (suku, agama, ras,
dan antar golongan) bukanlah penghambat terwujudnya komunikasi, namun dengan
adanya perbedaan tersebut membuat komunikator atau Da’I lebih memiliki
pandangan, wawasan yang lebih luas dalam menyampaikan pesan dakwahnya.
Kata Kunci: Dakwah, Komunikasi antar budaya
Komunikasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan sehari-hari manusia, baik secara individu maupun
sosial/masyarakat. Komunikasi adalah salah satu aktivitas yang sangat
fundamental dan vital dalam kehidupan manusia. Hal ini, bisa dibuktikan dengan
kebutuhan manusia untukber hubungan dengan Tuhan (Allah), dan sesamanya. Disamping
itu, komunikasi sebagai sesuatu yang urgen dalam kehidupan umat manusia. Oleh
karenanya, kedudukan komunikasi dalam Islam mendapat perhatian yang cukup kuat
bagi manusia sebagai anggota masyarakat. Komunikasi dakwah adalah komunikasi
yang unsur-unsurnya disesuaikan dengan visi dan misi dakwah. Menurut Toto
Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas
dimana seorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai
dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat
amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.[1]
Setelah membahas tentang komunikasi dakwah tentu saja akan
berhubungan dengan budaya dan perbedaan. Kerana pada hakikatnya komunikasi antar
budaya yang terdiri dari etnis, ras, dan bangsa selalu menjunjung tinggi asas
kesetaraan antara komunikator dan komunikan. Bahkan adanya perbedaan latar
belakang budaya antara komunikator dan komunikan harus disikapi secara arif
sehingga tidak menimbulkan kesenjangan, tetapi justru dapat memperkaya
pengalaman.[2]
Lalu, apasih komunikasi antar budaya itu?
Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau
sosio-ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan
adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta
berlangsung dari generasi ke generasi.[3] Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya
sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional
dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama
lain.[4] Sedangkan Fred E.
Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara
orang-orang yang berbeda budayanya.[5]
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi
antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang
membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya
sebagai kelompok.[6]
Setelah mengetahui tentang pengertian dakwah dan komunikasi antar budaya
di mana di dalamnya memuat etnik, ras dan bangsa lalu bagaimana pandangan Islam
terhadap budaya masyarakat yang beragam?
Seperti yang kita tahu bahwa Islam merupakan ajaran yang
diturunkan untuk manusia agar bersosialisasi kepada masyarakat lainnya.
Kemudian melahirkan suatu kebudayaan dalam masyarakat tersebut, entah melalu
percampuran, atau memakai budaya dari salah satunya lalu meninggalkan budaya
lainnya. Sebagai ajaran yang datang dari Allah SWT, Islam tidak bertentangan
dengan manusia karena Allah merupakan sumber ajaran dan pencipta manusia dan
alam seisinya. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial dan wahana
aktualisasi amal saleh.
Banyak ayat al-Qur’an yang membahas peranan manusia di
tengah manusia lain yang menempatkan Islam sebagai agama yang paling manusiawi
di bandingkan agama lainnya (Aripudin, 2012:55). Sementara pandangan
orang-orang barat menempatkan manusia sebagai subjek bebas dari nilai-nilai yang
bersumber dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu nilai-nilai yang
berkembang dari waktu ke waktu bergantung pada kesepakatan yang ada dalam
masyarakat. Adapun Islam datang menempatkan manusia sebagai subjek yang tunduk
dan patuh pada nilai-nilai ilahiah, bukan nilai-nilai yang hanya sekedar
berkembang dalam masyarakat saat ini (Yusuf, 2002:55). Masyarakat dipandang
sebagai wahana pengaktualisasian nilai-nilai ilahiah sehingga membentuk kultur
agama. Sebaliknya kultur yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat
tersebut dibina dan dikembangkan serta diwarnai oleh nilai-nilai ilahiah. Islam
memiliki konsep strategis pada masyarakat yang menjadi harapannya dan hendak
diwujudkan dalam kehidupan antar budaya. Konsep masyarakat ideal dikenal dengan
istilah masyarakat marhamah, yaitu tatanan masyarakat yang memiliki
hubungan erat antara anggota masyarakatnya berdasarkan rasa kasih dan sayang
antar budaya tersebut.[7]
Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan
bahwa, dakwah dalam komunikasi antar budaya ( antar etnik, ras, dan bangsa)
tidak akan menghalangi proses dalam berdakwah. Namun hal tersebut malah
mendorong komunikator atau Da’I untuk lebih banyak mengulas apa-apa saja yang
berhubungan dengan komunikannya atau mad’unya, dengan tujuan agar pesan-pesan
dakwah dapat tersampaikan dengan baik tanpa adanya hambatan atau halangan dalam
bentuk perbedaan kebudayaan sekalipun. Perbedaan budaya yang ada bukanlah
penghalang dakwah Islam mandek, namun dari perbedaan budaya itu dapat
mengantarkan masyarakat, kaum muslimin khususnya untuk tahu lebih jauh
pengetahuan yang ada, baik pengetahuan keagamaan maupun adat dan kebiasaan dari
sosial kemasyarakatan.
[1] Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan
Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni
2016, hal. 112
[2] Suranto, “Implementasi Teori Komunikasi Sosial Budaya dalam
Pembangunan Integrasi Bangsa”, INFORMASI Kajian Ilmu Komunikasi
Volume 45. Nomor 1. Juni 2015, hal 70.
[3] Stewart L. Tubbs dan
Sylvia Moss. Human Communication:Konteks-konteks Komunikasi. 1996. Bandung. Remaja
Rosdakarya. Hal. 236-238
[4] Andrik Purwasito. Komunikasi Multikultural. 2003. Surakarta.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal. 123
[5] Fred E. Jandt. Intercultural Communication, An Introduction. 1998. London. Sage Publication.
Hal. 36
[6] Alo Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. 2003. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal. 11-12
[7] Nur Ahmad,
“Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam
Perspektif Islam”, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi
Penyiaran Islam Vol. 3, No.1 Juni 2015, 25-26

