Tujuan, Fungsi dan
Peranan Dakwah dalam Komunikasi Antarbudaya
Abstrak: Esensi dakwah adalah mengubah segala macam kepercayaan
dan penyembahan kepada selain Allah kepada yang Tauhid, mengubah semua jenis
kondisi kehidupan yang timpang ke arah kondisi yang penuh dengan ketenangan
batin dan kesejahteraan lahir berdasarkan nilai-nilai ke-Islaman. Hal ini dapat
dilihat dari beberapa aspek, yakni: pertama, komunikasi antarbudaya sangat
mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan
segala variasinya. Kedua, dakwah Islam menghadapi pergeseran tata nilai harus
mampu mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam faktor-faktor penyebab
terjadinya pergeseran nilai, meliputi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan
pemerintah, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar.
Ketiga, prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan
mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu sosio-ekonomis,
sains dan teknologi, dan etis-religius. Dalam situasi yang demikian,
mempelajari masalah-masalah komunikasi antarbudaya jelas menjadi semakin
penting. Karena apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya mempunyai
perbedaan dalam aspek-aspek tertentu, akan menimbulkan kesadaran yaitu
kesadaran internasional, kesadaran domestik atau dalam negeri dan kesadaran
pribadi. Oleh karena itu, mengetahui fungsi, tujuan, serta peranan dakwah dalam
komunikasi antarbudaya sangatlah penting untuk menghindari maupun mengatasi
suatu masalah atau kesalahpahaman yang akan terjadi di kemudian hari.
Kata Kunci: Peranan Dakwah, Komunikasi Antar Budaya
Islam merupakan ajaran yang diturunkan untuk manusia agar
bersosialisasi kepada masyarakat lainnya. Kemudian melahirkan suatu kebudayaan
dalam masyarakat tersebut. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial
dan wahana aktualisasi amal saleh. Banyak ayat al-Qur’an yang membahas peranan
manusia di tengah manusia lainnya menempatkan Islam sebagai agama yang paling
manusiawi di bandingkan agama lainnya (Aripudin, 2012:55). Sementara pandangan
orang-orang barat menempatkan manusia sebagai subjek bebas dari nilai-nilai
yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu nilai-nilai yang
berkembang dari waktu ke waktu bergantung pada kesepakatan yang ada dalam
masyarakat. Adapun Islam datang menempatkan manusia sebagai subjek yang tunduk
dan patuh pada nilai-nilai ilahiah, bukan nilai-nilai yang hanya sekedar
berkembang dalam masyarakat saat ini (Yusuf, 2002:55).
Masyarakat dipandang sebagai wahana pengaktualisasian
nilai-nilai ilahiah sehingga membentuk kultur agama. Sebaliknya kultur yang
telah berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut dibina dan dikembangkan
serta diwarnai oleh nilai-nilai ilahiah. Islam memiliki konsep strategis pada
masyarakat yang menjadi harapannya dan hendak diwujudkan dalam kehidupan antar
budaya. Konsep masyarakat ideal dikenal dengan istilah masyarakat marhamah,
yaitu tatanan masyarakat yang memiliki hubungan erat antara anggota
masyarakatnya berdasarkan rasa kasih dan sayang antar budaya tersebut. Tatanan
pada konsep dakwah ini berupaya membangun strategi dakwah yang lebih ramah dan
damai, hal ini merupakan ijtihad yang sangat signifikan dengan tuntutan zaman.
Meskipun dalam praktiknya pelaksanaan dakwah yang lebih santun dan damai
merupakan senjata jitu seperti yang dilakukan Rasulallah tempo dulu. Suatu
upaya yang bisa kita renungkan dan kita apresiasi terhadap perkembangan budaya
pada satu sisi dan perkembangan budaya lokal yang menjadi khasanah kearifan
dakwah karena dalam telaah dakwah antar budaya, dakwah tidak hanya dipahami as
the transfer of Islamic values atau hanya transfer nilai-nilai Islam yang
luhur kepada masyarakat di muka bumi akan tetapi dakwah Islam hendaknya mampu
mengupayakan kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya positif secara
kritis tanpa terbelenggu oleh latar belakang budaya formal suatu masyarakat.
Untuk memahami Islam sebagai sistem nilai diperlukan
pengetahuan dan pemahaman yang memadai perihal keyakinan dan pandangan dasar
Islam mengenai kehidupan. Tujuan utama diturunkan al-Qur’an adalah mempengaruhi
dan memberi pedoman bagi tingkah laku manusia. Senada dengan itu menurut Fazlur
Rahman, tidak heran kalau al-Qur’an berulang-ulang mengecam tindakan menyembah
selain Allah atau menyekutukan Allah. Namun, Seiring berjalannya waktu dengan
berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat
bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan, mulai berkembang
menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang
efektif menjadi keinginan semua orang. dengan komunikasi efektif tersebut,
pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan
sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ
رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
Sebelum membahas yang lebih dalam kita perlu mengerti dan
paham aka apa yang dimaksud dakwah antar budaya ‘kan? Lalu apasih dakwah antar
budaya itu?
Dakwah antar budaya merupakan
proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek,
objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi
pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat
tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai.
Setelah memahami apa yang dimaksud
dengan dakwah antar budaya, pasti dalam benak kita sudah terarah atau sudah
tersusun maksud dari dakwah antar budaya. Benar, Dakwah antar budaya adalah terapan dakwah yang
dilakukan antar dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, dakwah ini
sama halnya dengan dakwah biasanya yakni dengan pertukaran pesan-pesan yang
disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang.
Namun yang membedakan dakwah ini dengan dakwah biasanya terletak pada perbedaan
latar belakang dan budayanya. Dakwah antar budaya merupakan dakwah dengan pengalihan informasi dari
seseorang berkebudayaan tertentu kepada seseorang yang berkebudayaan lain.
Fungsi dakwah antar Budaya
Menurut Litvi, fungsi dari komunikasi antar budaya memiliki sifat
kognitif dan afektif. Maksudnya yakni mempelajari keterampilan komunikasi yang
membuat seseorang mampuh menerima gaya dan isi komunikasi itu sendiri.
Tujuan dakwah antar budaya
a.
Mengajarkan
dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat luas
b.
Menjelaskan
secara sistematis fenomena yang berkembang yang berkaitan dengan proses dakwah
dalam masyarakat yang lebih luas
c.
Menjadi
perantara dalam proses berkomunikasi antar budaya
d.
Mengawasi
problem komunikasi antar budaya dimana komunikator dan komunikan yang memiliki
perbedaan kebudayaan.
Sekian terimakasih 😊
Referensi:
Nur Ahmad, 2015, “Mewujudkan Dakwah Antar Budaya dalam Perspektif Islam”, AT-TABSYIR:
Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 3, No.1 Juni 2015, hal. 25-28.
Asep
Aripudin, Dakwah Antar Budaya, (Jakarta: Rosda, 2012).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar