Senin, 05 April 2021

Tujuan, Fungsi dan Peranan Dakwah dalam Komunikasi Antarbudaya


Abstrak: Esensi dakwah adalah mengubah segala macam kepercayaan dan penyembahan kepada selain Allah kepada yang Tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang ke arah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahteraan lahir berdasarkan nilai-nilai ke-Islaman. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yakni: pertama, komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya. Kedua, dakwah Islam menghadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai, meliputi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan pemerintah, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar. Ketiga, prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu sosio-ekonomis, sains dan teknologi, dan etis-religius. Dalam situasi yang demikian, mempelajari masalah-masalah komunikasi antarbudaya jelas menjadi semakin penting. Karena apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya mempunyai perbedaan dalam aspek-aspek tertentu, akan menimbulkan kesadaran yaitu kesadaran internasional, kesadaran domestik atau dalam negeri dan kesadaran pribadi. Oleh karena itu, mengetahui fungsi, tujuan, serta peranan dakwah dalam komunikasi antarbudaya sangatlah penting untuk menghindari maupun mengatasi suatu masalah atau kesalahpahaman yang akan terjadi di kemudian hari.

Kata Kunci: Peranan Dakwah, Komunikasi Antar Budaya

Islam merupakan ajaran yang diturunkan untuk manusia agar bersosialisasi kepada masyarakat lainnya. Kemudian melahirkan suatu kebudayaan dalam masyarakat tersebut. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial dan wahana aktualisasi amal saleh. Banyak ayat al-Qur’an yang membahas peranan manusia di tengah manusia lainnya menempatkan Islam sebagai agama yang paling manusiawi di bandingkan agama lainnya (Aripudin, 2012:55). Sementara pandangan orang-orang barat menempatkan manusia sebagai subjek bebas dari nilai-nilai yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu nilai-nilai yang berkembang dari waktu ke waktu bergantung pada kesepakatan yang ada dalam masyarakat. Adapun Islam datang menempatkan manusia sebagai subjek yang tunduk dan patuh pada nilai-nilai ilahiah, bukan nilai-nilai yang hanya sekedar berkembang dalam masyarakat saat ini (Yusuf, 2002:55).

Masyarakat dipandang sebagai wahana pengaktualisasian nilai-nilai ilahiah sehingga membentuk kultur agama. Sebaliknya kultur yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut dibina dan dikembangkan serta diwarnai oleh nilai-nilai ilahiah. Islam memiliki konsep strategis pada masyarakat yang menjadi harapannya dan hendak diwujudkan dalam kehidupan antar budaya. Konsep masyarakat ideal dikenal dengan istilah masyarakat marhamah, yaitu tatanan masyarakat yang memiliki hubungan erat antara anggota masyarakatnya berdasarkan rasa kasih dan sayang antar budaya tersebut. Tatanan pada konsep dakwah ini berupaya membangun strategi dakwah yang lebih ramah dan damai, hal ini merupakan ijtihad yang sangat signifikan dengan tuntutan zaman. Meskipun dalam praktiknya pelaksanaan dakwah yang lebih santun dan damai merupakan senjata jitu seperti yang dilakukan Rasulallah tempo dulu. Suatu upaya yang bisa kita renungkan dan kita apresiasi terhadap perkembangan budaya pada satu sisi dan perkembangan budaya lokal yang menjadi khasanah kearifan dakwah karena dalam telaah dakwah antar budaya, dakwah tidak hanya dipahami as the transfer of Islamic values atau hanya transfer nilai-nilai Islam yang luhur kepada masyarakat di muka bumi akan tetapi dakwah Islam hendaknya mampu mengupayakan kesadaran nurani agar mengusung setiap budaya positif secara kritis tanpa terbelenggu oleh latar belakang budaya formal suatu masyarakat.

Untuk memahami Islam sebagai sistem nilai diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang memadai perihal keyakinan dan pandangan dasar Islam mengenai kehidupan. Tujuan utama diturunkan al-Qur’an adalah mempengaruhi dan memberi pedoman bagi tingkah laku manusia. Senada dengan itu menurut Fazlur Rahman, tidak heran kalau al-Qur’an berulang-ulang mengecam tindakan menyembah selain Allah atau menyekutukan Allah. Namun, Seiring berjalannya waktu dengan berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan, mulai berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang efektif menjadi keinginan semua orang. dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Sebelum membahas yang lebih dalam kita perlu mengerti dan paham aka apa yang dimaksud dakwah antar budaya ‘kan? Lalu apasih dakwah antar budaya itu?

Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai.

Setelah memahami apa yang dimaksud dengan dakwah antar budaya, pasti dalam benak kita sudah terarah atau sudah tersusun maksud dari dakwah antar budaya. Benar, Dakwah antar budaya adalah terapan dakwah yang dilakukan antar dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, dakwah ini sama halnya dengan dakwah biasanya yakni dengan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang. Namun yang membedakan dakwah ini dengan dakwah biasanya terletak pada perbedaan latar belakang dan budayanya. Dakwah antar budaya merupakan dakwah dengan pengalihan informasi dari seseorang berkebudayaan tertentu kepada seseorang yang berkebudayaan lain.

Fungsi dakwah antar Budaya

Menurut Litvi, fungsi dari komunikasi antar budaya memiliki sifat kognitif dan afektif. Maksudnya yakni mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampuh menerima gaya dan isi komunikasi itu sendiri.

Tujuan dakwah antar budaya

a.       Mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat luas

b.       Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang yang berkaitan dengan proses dakwah dalam masyarakat yang lebih luas

c.       Menjadi perantara dalam proses berkomunikasi antar budaya

d.       Mengawasi problem komunikasi antar budaya dimana komunikator dan komunikan yang memiliki perbedaan kebudayaan.

 

Sekian terimakasih 😊




Referensi:

Nur Ahmad, 2015, “Mewujudkan Dakwah Antar Budaya dalam Perspektif Islam”, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Vol. 3, No.1 Juni 2015, hal. 25-28.

Asep Aripudin, Dakwah Antar Budaya, (Jakarta: Rosda, 2012).

 

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...