Senin, 19 April 2021

Dakwah dan Komunikasi dalam Etnik, Ras, dan Bangsa



Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras, dan Bangsa

Abstrak: Berbicara mengenai komunikasi tentu tidak akan ada habisnya, apalagi komunikasi yang bergandengan dengan dakwah. Pada dasarnya komunikasi adalah bagian dari dakwah. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi-informasi, pesan-pesan, gagasan-gagasan atau pengertian-pengertian dengan menggunakan lambang-lambang yang mengandung arti atau makna, baik secara verbal maupun nonverbal dari seseorang atau sekelompok orang, kepada seseorang atau sekelompok orang lain dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan bersama (T. May Rudi, 2005: 1). Salah satu tujuan dari dakwah ada dalam komunikasi, yakni menyampaikan pesan informasi kepada orang lain dengan tujuan tersalurkannya pesan dakwah Islam. Namun dalam konsepnya tentu saja ada hambatan atau rintangan yang memicu komunikasi dakwah agar lebih peka terhadap mad’u atau komunikannya, yakni perbedaan. Perbedaan yang ada dalam komunikasi adalah hal yang wajar, perbedaan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) bukanlah penghambat terwujudnya komunikasi, namun dengan adanya perbedaan tersebut membuat komunikator atau Da’I lebih memiliki pandangan, wawasan yang lebih luas dalam menyampaikan pesan dakwahnya.

Kata Kunci: Dakwah, Komunikasi antar budaya

Komunikasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia, baik secara individu maupun sosial/masyarakat. Komunikasi adalah salah satu aktivitas yang sangat fundamental dan vital dalam kehidupan manusia. Hal ini, bisa dibuktikan dengan kebutuhan manusia untukber hubungan dengan Tuhan (Allah), dan sesamanya. Disamping itu, komunikasi sebagai sesuatu yang urgen dalam kehidupan umat manusia. Oleh karenanya, kedudukan komunikasi dalam Islam mendapat perhatian yang cukup kuat bagi manusia sebagai anggota masyarakat. Komunikasi dakwah adalah komunikasi yang unsur-unsurnya disesuaikan dengan visi dan misi dakwah. Menurut Toto Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.[1]

Setelah membahas tentang komunikasi dakwah tentu saja akan berhubungan dengan budaya dan perbedaan. Kerana pada hakikatnya komunikasi antar budaya yang terdiri dari etnis, ras, dan bangsa selalu menjunjung tinggi asas kesetaraan antara komunikator dan komunikan. Bahkan adanya perbedaan latar belakang budaya antara komunikator dan komunikan harus disikapi secara arif sehingga tidak menimbulkan kesenjangan, tetapi justru dapat memperkaya pengalaman.[2]

Lalu, apasih komunikasi antar budaya itu?

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosio-ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.[3] Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.[4] Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.[5]

Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.[6]

Setelah mengetahui tentang pengertian dakwah dan komunikasi antar budaya di mana di dalamnya memuat etnik, ras dan bangsa lalu bagaimana pandangan Islam terhadap budaya masyarakat yang beragam?

Seperti yang kita tahu bahwa Islam merupakan ajaran yang diturunkan untuk manusia agar bersosialisasi kepada masyarakat lainnya. Kemudian melahirkan suatu kebudayaan dalam masyarakat tersebut, entah melalu percampuran, atau memakai budaya dari salah satunya lalu meninggalkan budaya lainnya. Sebagai ajaran yang datang dari Allah SWT, Islam tidak bertentangan dengan manusia karena Allah merupakan sumber ajaran dan pencipta manusia dan alam seisinya. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial dan wahana aktualisasi amal saleh.

Banyak ayat al-Qur’an yang membahas peranan manusia di tengah manusia lain yang menempatkan Islam sebagai agama yang paling manusiawi di bandingkan agama lainnya (Aripudin, 2012:55). Sementara pandangan orang-orang barat menempatkan manusia sebagai subjek bebas dari nilai-nilai yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu nilai-nilai yang berkembang dari waktu ke waktu bergantung pada kesepakatan yang ada dalam masyarakat. Adapun Islam datang menempatkan manusia sebagai subjek yang tunduk dan patuh pada nilai-nilai ilahiah, bukan nilai-nilai yang hanya sekedar berkembang dalam masyarakat saat ini (Yusuf, 2002:55). Masyarakat dipandang sebagai wahana pengaktualisasian nilai-nilai ilahiah sehingga membentuk kultur agama. Sebaliknya kultur yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat tersebut dibina dan dikembangkan serta diwarnai oleh nilai-nilai ilahiah. Islam memiliki konsep strategis pada masyarakat yang menjadi harapannya dan hendak diwujudkan dalam kehidupan antar budaya. Konsep masyarakat ideal dikenal dengan istilah masyarakat marhamah, yaitu tatanan masyarakat yang memiliki hubungan erat antara anggota masyarakatnya berdasarkan rasa kasih dan sayang antar budaya tersebut.[7]

Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa, dakwah dalam komunikasi antar budaya ( antar etnik, ras, dan bangsa) tidak akan menghalangi proses dalam berdakwah. Namun hal tersebut malah mendorong komunikator atau Da’I untuk lebih banyak mengulas apa-apa saja yang berhubungan dengan komunikannya atau mad’unya, dengan tujuan agar pesan-pesan dakwah dapat tersampaikan dengan baik tanpa adanya hambatan atau halangan dalam bentuk perbedaan kebudayaan sekalipun. Perbedaan budaya yang ada bukanlah penghalang dakwah Islam mandek, namun dari perbedaan budaya itu dapat mengantarkan masyarakat, kaum muslimin khususnya untuk tahu lebih jauh pengetahuan yang ada, baik pengetahuan keagamaan maupun adat dan kebiasaan dari sosial kemasyarakatan.

 

 



[1] Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112

[2] Suranto, Implementasi Teori Komunikasi Sosial Budaya dalam Pembangunan Integrasi Bangsa”, INFORMASI Kajian Ilmu Komunikasi Volume 45. Nomor 1. Juni 2015, hal 70.

[3] Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. Human Communication:Konteks-konteks Komunikasi. 1996. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal. 236-238

[4]  Andrik Purwasito. Komunikasi Multikultural. 2003. Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hal. 123

[5] Fred E. Jandt. Intercultural Communication, An Introduction. 1998. London. Sage Publication. Hal. 36

[6] Alo Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. 2003. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal. 11-12

[7] Nur Ahmad, Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 3, No.1 Juni 2015, 25-26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...