Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

Abstrak: Indonesia memiliki masyarakat dengan berbagai macam keberagaman yang ada, seperti suku, agama, ras, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya, untuk itu diperlukan suatu yang dapat menyatukannya, yakni komunikasi. Komunikasi diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan berkomunikasi seseorang dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya, pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya. Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.

Kata Kunci: Dakwah, Komunikasi, Lintas Budaya

Berbicara tentang dakwah dalam kajian pola lintas budaya khususnya di Indonesia maka kita dapat mengarah pada kiblat sampainya agama Islam di Indonesia, dimana Islam lahir dan menyebar di Indonesia tak luput dari sebuah komunikasi lintas budaya. Sejarah mencatat agama Islam dibawah masuk ke Indonesia lewat 3 (tiga) teori: Teori Gujarat (abad ke-13) oleh orang-orang Gujarat (India), Teori Makkah (abad ke-7) oleh orang-orang Arab (Makkah), dan Teori Persia (abad ke- 13) oleh orang-orang Persia (Irak) tentunya dengan berbagai macam bukti penelitian dan berbagai macam peninggalan yang ditemukan.

Agama Islam masuk di Indonesia dibawah oleh cendikiawan, pendakwah, pedagang, hamba sahaya dan lain sebagainya dengan cara yang damai, tanpa paksaan dan iming-iming sesuatu yang menggiurkan. Cara penyebaran agama Islam di Indonesia sendiri tergolong beragam, mulai dari pernikahan pendakwah dan warga pribumi, atau putri-putri kerajaan, melalui perdagangan, Pendidikan, akulturasi budaya, politik dan masih banyak lagi. Sebelum membahas lebih jauh akan lenih baik untuk kita memahami terlebih dahulu maksud dari topik yang akan kita bahas.

Pengertian Komunikasi Lintas Budaya

Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris), berasal dari bahasa latin, communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Menurut Toto Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.[1] Secara sederhana dapatlah diartikan bahwa komunikasi merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan tujuan menyamakan makna dari seseorang/lembaga (komunikator) kepada orang lain/audiens (komunikan).[2] Sedangkan menurut KBBI lintas budaya memiliki arti pertemuan antara dua budaya atau lebih yang berlangsung secara cepat. Jadi, Komunikasi lintas budaya adalah Maka dapat dipahami bahwa komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru)".

Unsur-unsur Komunikasi

1. Da’I atau komunikator

Orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u

2. Mad’u atau komunikan

Orang yang menjadi sasaran dakwah atau orang yang akan menerima pesan dakwah dari Da’I 

3. Materi / pesan dakwah

Isi pesan yang akan disampaikan da’I kepada mad’u

4. Media dakwah

Alat yang dipakai dalam menyampaikan pesan dakwha dari Da’I kepada mad’u

5. Feedback

Umpan balik, akibat atau efek dari proses dakwah. Metode yakni cara yang digunakan da’I untuk menyampaikan pesan dakwah untuk mencapaikan tujuan dari dakwah.

Efektifitas Komunikasi Lintas Budaya

Seluruh proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Itulah yang dikatakan sebagai komunikasi lintas budaya yang efektif, sering disebut pula dengan efektivitas komunikasi lintas budaya. Kata Gudykunst, jika dua orang atau lebih berkomunikasi lintas budaya secara efektif maka mereka akan berurusan dengan satu atau lebih pesan yang ditukar (dikirim & diterima) mereka harus bisa memberikan makna yang sama atas pesan. Singkat kata, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan komunikasi lantaran mereka berhasil menekan sekecil mungkin kesalahpahaman.[3]

Everet Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya yang efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksudkan dengan saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan menyandi balik pesan yang diterima. Satu hal yang patut diingat bahwa pemahaman timbal balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju, tetapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesan yang dipertukarkan itu.

Lebih lanjut Schramm mengemukakan, komunikasi lintas budaya yang benar-benar efektif harus memperhatikan empat syarat, yaitu:[4]

a.       Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia

b.       Menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang di kehendaki.

c.       Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara bertindak.

d.       Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain.

Yang paling penting sebagai hasil komunikasi adalah kebersamaan dalam makna itu. Bukan sekedar hanya komunikatornya, isi pesanya, media atau saluranya. Maka, agar maksud komunikasi dipahami dan diterima serta dilaksankan bersama, harus dimungkinkan adanya peran serta untuk mempertukarkan dan merundingkan makna diantara semua pihak dan unsur dalam komunikasi yang pada akhinya akan menghasilkan keselarasan dan keserasian.

Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya

Hambatan-Hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya terjadi karena alasan yang bermacam-macam karena komunikasi mencakup pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima secara berganti-ganti maka hambatanhambatan tersebut dapat terjadi dari semua pihak antara lain:

a.       Keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikasi.

Masalah komunikasi sering terjadi karena alasan dan motivasi untuk berkomunikasi yang berbeda-beda, dalam situasi antarbudaya perbedaan ini dapat menimbulkan masalah.

b.       Etnosentrisme, banyak orang yang menganggap caranya melakukan persepsi terhadap hal-hal disekelilingnya adalah satu-satunya yang paling tepat dan benar, padahal harus disadari bahwa setiap orang memiliki sejarah masa lalunya sendiri sehingga apa yang dianggapnya baik belum tentu sesuai dengan persepsi orang lain.[5] Etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri karena etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya.

c.       Tidak adanya kepercayaan karena sifatnya yang khusus, komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidak percayaan antara pihak-pihak yang terlibat.

d.       Penarikan diri komunikasi tidak mungkin terjadi bila salah satu pihak secara psikologis menarik diri dari pertemuan yang seharusnya terjadi. Ada dugaan bahwa macam-macam perkembangan saat ini antara lain meningkatnya urbanisasi, perasaan-perasaan orang untuk menarik diri dan apatis semakin banyak pula.

Namun Menurut Barna & Rubenm hambatan-hambatan komunikasi lintas budaya dibagi menjadi 5 yaitu: [6]

a.       Mengabaikan Perbedaan Antara Anda dan Kelompok yang Secara Kultural Berbeda

b.       Mengabaikan perbedaan Antara Kelompok Kultural yang Berbeda

c.       Mengabaikan Perbedaan dalam Makna

d.       Melanggar Adat Kebiasaan Kultural

e.       Menilai Perbedaan Secara Negatif

Prinsip Komunikasi Lintas Budaya

Ada beberapa prinsip yang harus  diketahui dalam menjalankan komunikasi lintas budaya, antaralain:[7]

a.       Relativitas Bahasa

Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

b.       Bahasa Sebagai Cermin Budaya

Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat non-verbal. Makin besar perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).

c.       Mengurangi Ketidak-pastian

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidakpastian dam ambiguitas dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena ketidak-pastian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.

d.       Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya

Makin besar perbedaan suatu budaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat lebih waspada. ini mencegah mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.

e.       Memaksimalkan Hasil Interaksi

Dalam komunikasi lintas budaya seperti dalam semua komunikasi, berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan.

 

 

Referensi:

Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112

Hamid, Farid. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa. Jakarta; Kencana. 2011.

Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.

Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 171.

Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional Books, 1996) hlm. 490.

 

 

 



[1] Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112

[2] Hamid, Farid. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa. Jakarta; Kencana. 2011.

[3] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.

[4] Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 171.

[5] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 15

[6] Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional Books, 1996) hlm. 490.

[7] Ibid, Hal. 488

1 komentar:

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...