Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya
Abstrak:
Indonesia memiliki
masyarakat dengan berbagai macam keberagaman yang ada, seperti suku, agama,
ras, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Indonesia terkenal dengan
keberagaman budayanya, untuk itu diperlukan suatu yang dapat menyatukannya,
yakni komunikasi. Komunikasi diperlukan
untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan
berkomunikasi seseorang dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan
yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya
menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan
budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam
kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya, pengalaman yang berbeda dan
mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya. Berkomunikasi merupakan
kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa
komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka
manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.
Kata Kunci: Dakwah,
Komunikasi, Lintas Budaya
Berbicara
tentang dakwah dalam kajian pola lintas budaya khususnya di Indonesia maka kita
dapat mengarah pada kiblat sampainya agama Islam di Indonesia, dimana Islam
lahir dan menyebar di Indonesia tak luput dari sebuah komunikasi lintas budaya.
Sejarah mencatat agama Islam dibawah masuk ke Indonesia lewat 3 (tiga) teori: Teori
Gujarat (abad ke-13) oleh orang-orang Gujarat (India), Teori Makkah
(abad ke-7) oleh orang-orang Arab (Makkah), dan Teori Persia (abad ke-
13) oleh orang-orang Persia (Irak) tentunya dengan berbagai macam bukti
penelitian dan berbagai macam peninggalan yang ditemukan.
Agama Islam
masuk di Indonesia dibawah oleh cendikiawan, pendakwah, pedagang, hamba sahaya
dan lain sebagainya dengan cara yang damai, tanpa paksaan dan iming-iming
sesuatu yang menggiurkan. Cara penyebaran agama Islam di Indonesia sendiri
tergolong beragam, mulai dari pernikahan pendakwah dan warga pribumi, atau
putri-putri kerajaan, melalui perdagangan, Pendidikan, akulturasi budaya,
politik dan masih banyak lagi. Sebelum membahas lebih jauh akan lenih baik
untuk kita memahami terlebih dahulu maksud dari topik yang akan kita bahas.
Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama
(common, commoness: Inggris), berasal dari bahasa latin, communicatio yang
berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si
pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Menurut Toto
Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas
dimana seorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai
dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat
amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.[1] Secara sederhana dapatlah diartikan bahwa komunikasi
merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan tujuan menyamakan makna dari
seseorang/lembaga (komunikator) kepada orang lain/audiens (komunikan).[2] Sedangkan
menurut KBBI lintas budaya memiliki arti pertemuan antara dua budaya atau lebih
yang berlangsung secara cepat. Jadi, Komunikasi
lintas budaya adalah Maka dapat dipahami bahwa komunikasi lintas budaya
adalah proses dimana
dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya
dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait
atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk
sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau
bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau
lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru)".
Unsur-unsur Komunikasi
1. Da’I atau komunikator
Orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u
2. Mad’u atau komunikan
Orang yang menjadi sasaran dakwah atau orang yang akan
menerima pesan dakwah dari Da’I
3. Materi / pesan dakwah
Isi pesan yang akan disampaikan da’I kepada mad’u
4. Media dakwah
Alat yang dipakai dalam menyampaikan pesan dakwha dari
Da’I kepada mad’u
5. Feedback
Umpan balik, akibat atau efek dari proses dakwah.
Metode yakni cara yang digunakan da’I untuk menyampaikan pesan dakwah untuk
mencapaikan tujuan dari dakwah.
Efektifitas Komunikasi Lintas Budaya
Seluruh
proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat
ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan memberikan
makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Itulah yang dikatakan sebagai
komunikasi lintas budaya yang efektif, sering disebut pula dengan efektivitas
komunikasi lintas budaya. Kata Gudykunst, jika dua orang atau lebih
berkomunikasi lintas budaya secara efektif maka mereka akan berurusan dengan
satu atau lebih pesan yang ditukar (dikirim & diterima) mereka harus bisa
memberikan makna yang sama atas pesan. Singkat kata, komunikasi yang efektif
adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan komunikasi
lantaran mereka berhasil menekan sekecil mungkin kesalahpahaman.[3]
Everet
Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya yang
efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling
memahami. Yang dimaksudkan dengan saling memahami adalah keadaan dimana
seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan
yang dikirim dan menyandi balik pesan yang diterima. Satu hal yang patut
diingat bahwa pemahaman timbal balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju,
tetapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesan yang
dipertukarkan itu.
Lebih
lanjut Schramm mengemukakan, komunikasi lintas budaya yang benar-benar efektif
harus memperhatikan empat syarat, yaitu:[4]
a. Menghormati
anggota budaya lain sebagai manusia
b. Menghormati
budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang di kehendaki.
c. Menghormati
hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara bertindak.
d. Komunikator
lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari
budaya yang lain.
Yang
paling penting sebagai hasil komunikasi adalah kebersamaan dalam makna itu.
Bukan sekedar hanya komunikatornya, isi pesanya, media atau saluranya. Maka,
agar maksud komunikasi dipahami dan diterima serta dilaksankan bersama, harus
dimungkinkan adanya peran serta untuk mempertukarkan dan merundingkan makna
diantara semua pihak dan unsur dalam komunikasi yang pada akhinya akan
menghasilkan keselarasan dan keserasian.
Hambatan-hambatan
dalam Komunikasi Lintas Budaya
Hambatan-Hambatan
dalam Komunikasi Lintas Budaya terjadi karena alasan yang bermacam-macam karena
komunikasi mencakup pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima
secara berganti-ganti maka hambatanhambatan tersebut dapat terjadi dari semua pihak
antara lain:
a.
Keanekaragaman dari tujuan-tujuan
komunikasi.
Masalah komunikasi sering terjadi karena alasan dan motivasi untuk berkomunikasi
yang berbeda-beda, dalam situasi antarbudaya perbedaan ini dapat menimbulkan
masalah.
b.
Etnosentrisme, banyak orang yang
menganggap caranya melakukan persepsi terhadap hal-hal disekelilingnya adalah
satu-satunya yang paling tepat dan benar, padahal harus disadari bahwa setiap
orang memiliki sejarah masa lalunya sendiri sehingga apa yang dianggapnya baik
belum tentu sesuai dengan persepsi orang lain.[5] Etnosentrisme
cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang
budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri karena etnosentrisme biasanya
dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran,
sehingga sulit untuk melacak asal usulnya.
c.
Tidak adanya kepercayaan karena
sifatnya yang khusus, komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran
informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidak percayaan antara
pihak-pihak yang terlibat.
d.
Penarikan diri komunikasi tidak
mungkin terjadi bila salah satu pihak secara psikologis menarik diri dari
pertemuan yang seharusnya terjadi. Ada dugaan bahwa macam-macam perkembangan
saat ini antara lain meningkatnya urbanisasi, perasaan-perasaan orang untuk
menarik diri dan apatis semakin banyak pula.
Namun
Menurut Barna & Rubenm hambatan-hambatan komunikasi lintas budaya dibagi
menjadi 5 yaitu: [6]
a.
Mengabaikan Perbedaan Antara Anda
dan Kelompok yang Secara Kultural Berbeda
b.
Mengabaikan perbedaan Antara
Kelompok Kultural yang Berbeda
c.
Mengabaikan Perbedaan dalam Makna
d.
Melanggar Adat Kebiasaan Kultural
e.
Menilai Perbedaan Secara Negatif
Prinsip Komunikasi
Lintas Budaya
Ada beberapa
prinsip yang harus diketahui dalam
menjalankan komunikasi lintas budaya, antaralain:[7]
a.
Relativitas Bahasa
Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling
banyak disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an
dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa
memengaruhi proses kognitif. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda
dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk
mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda
dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
b.
Bahasa Sebagai Cermin Budaya
Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin
perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat non-verbal.
Makin besar perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan
komunikasi), makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat
mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak
kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah
persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).
c.
Mengurangi Ketidak-pastian
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidakpastian
dam ambiguitas dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi berusaha mengurangi
ketidak-pastian ini sehingga dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan
menjelaskan perilaku orang lain. Karena ketidak-pastian dan ambiguitas yang
lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi
ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.
d.
Kesadaran Diri dan Perbedaan
Antarbudaya
Makin besar perbedaan suatu budaya, makin besar kesadaran diri
(mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi
positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat lebih
waspada. ini mencegah mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau
tidak patut. Negatifnya, ini membuat terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan
kurang percaya diri.
e.
Memaksimalkan Hasil Interaksi
Dalam komunikasi lintas budaya seperti dalam semua komunikasi,
berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh
Sunnafrank mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya.
Sebagai contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan
akan memberikan hasil positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda
mungkin menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara
dengan rekan.
Referensi:
Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa
Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal.
112
Hamid, Farid. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa.
Jakarta; Kencana. 2011.
Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.
Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 171.
Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional
Books, 1996) hlm. 490.
[1] Mubasyaroh,
“DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112
[2] Hamid, Farid.
Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa. Jakarta; Kencana. 2011.
[3] Alo Liliweri,
Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.
[4] Alo Liliweri,
Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset,
2001), hlm. 171.
[5] Alo Liliweri,
Makna Budaya dalam…hlm. 15
[6] Joseph A.
DeVito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional Books, 1996) hlm. 490.
[7] Ibid, Hal. 488

difokuskan pada topik akan lebih bermakna...
BalasHapus