Jumat, 29 November 2019

SHALAT OBAT DARI SEGALA OBAT



SHALAT OBAT DARI SEGALA OBAT
PENDALAMAN TERAPI SHALAT BAHAGIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Trainer “Pendalaman Terapi Shalat Bahagia”

Sholat merupakan obat dari segala obat. Mengapa demikian? Karena sholat merupakan obat dari suatu masalah. Entah itu masalah jasmani maupun rohani. Sholat dapat membuat kita tenang, meredam amarah, tempat segala curahan larah, tempat cucuran air mata, tempat mengadu suatu masalah. Karena sholat merupakan bentuk interaksi hamba dengan sang pencipta.
 Dalam Islam, shalat terbagi dua; shalat yang wajib atau biasa disebut shalat fardhu dan shalat sunnah". Shalat yang wajib ialah shalat yang lima waktu; Shubuh, Dzuhur, „Ashar, Maghrib, dan Isya‟. Allah berfirman dalam al-Qur‟an
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. an Nisa: 103)
Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratan yang ada. Dalam kesempatan lain dia juga menjelaskan tentang apa itu shalat. Dalam kajian ini Mohammad Ali Aziz (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”), mengatakan: “Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam, itu shalat mbak, adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, secara yang mendatangkan takut kepadanya serta menumbuhkan didalam jiwanya rasa kebesaran, kesempurnaan dan kesuasaannya atau mendahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua-duanya”.
Islam adalah adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta ini. Dalam islam kita diperkenalkan adanya sebuah kepercayaan, kewajiban, larangan, serta berbagai pelajaran yang dapat kita tuangkan dalam kehidupan ini. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran islam, maka akan sungguh indah dan damainya dunia ini.
Shalat merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Menunaikan sholat adalah salah satu bentuk keimanan yang ditunjukkan  seorang Muslim kepada sang penciptanya. Meninggalkannya jelas merupakan kerugian besar, karena hal tersebut merupakan rukun Islam yang tak lain adalah dasar keimanan. Perintah melaksanakan shalat secara langsung diperintahkan Allah SWT. kepada Rasulullah Saw saat perjalanan isra’ mi’raj. Hal tersebut juga sudah tertuang dalam kitab suci al Quran. Kita semua diperintahkan untuk mengerjakan shalat, namun bukan hanya sekedar melaksanakan shalat, akan tetapi Iqamu Ash-Shalat (mendirikan shalat), karena ayat-ayat perintah shalat ratarata memerintahkan untuk Iqamu Ash-Shalat. Seperti contoh ayat berikut ini.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang rukuk.(QS. al-Baqarah: 43)
Menurut Ibnu Abbas: “Iqamu Ash-Shalat itu menyempurkan rukuk, sujud, tilawah, kekhusyukan, dan tetap dalam keadaan seperti itu.” Adapun menurut Dhohak: “Iqamu ash-Shalat itu menjaga waktu-waktu shalat, wudlu, rukuk, dan sujudnya.” Adapun menurut Asy-Syaukany Iqamu ash-Shalat itu bermakna alMudawamah (berkesinambungan) melaksanakan shalat. Mungkin, itulah sebabnya mengapa Allah menyatakan,
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ
“Celakalah orang-orang yang shalat.” (QS. al-Ma‟un: 4).
 Perlu kita cermati bahwa yang akan celaka pada ayat ini yaitu orang-orang yang hanya sekedar melakukan shalat tanpa Iqamu ash-Shalat. Hal ini diperjelas pada ayat selanjutnya yang berbunyi:
الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ  فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ۙ
“Yaitu orang-orang Saahuun (yang lalai) dari shalatnya, mereka pun berbuat riya (dalam melakukannya).” (QS. al-Ma‟un: 5-6)
Ayat diatas menjelaskan bahwa Kata Saahuun pada ayat tersebut bisa bermakna lalai ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, pikiran dan hatinya tidak berkonsentrasi atau tidak khusyuk, ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang shalat, akibat godaan setan. Nabi saw besabda, “Apabila dikumandangkan adzan, setan lari terbirit-birit, bahkan terkentut-kentut, sampai ia tidak mendengar adzan itu. Apabila adzan selesai, setan datang lagi. Dan apabila dikumandangkan iqamat, setan lari lagi. Dan apabila selesai iqamat, setan datang lagi dan menyelinap dalam jiwa manusia dan berkata, “Ingatlah ini, ingatan itu.” Sehingga orang itu tidak tahu lagi berapa raka‟at ia shalat” (HR. al-Bukhari). Saahuun juga bisa bermakna melalaikan tata laksana shalat, tidak mengikuti contoh yang ditujukan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana sabda Nabi saw: “Shalatlah kalian seperti kalian melihat (mendapatkan) aku shalat” (HR Bukhari). Menurut Ibnu Abbas Saahuun bisa dimaknai shalatnya orang-orang munafik yaitu mereka hanya shalat jika terlihat oleh orang lain.
Penjelasan diatas menjelaskan bahwa pentingnya sholat dalam sebuah kehidupan. Melaksanakan sholat saja tidaklah cukup apabila kita tidak menerapkan ajaran yang telah diajarkan nabi. Kita semua tahu, bahkan mungkin kita semua sering melakukannya secara tidak sengaja. Saat kita melaksanakan ibadah sholat banyak hal-hal yang lewat begitu saja dalam pikiran kita. Apa yang kita lupa terkadang muncul dalam ingatakan kita saat kita melakukan ibadah sholat, banyak hal-hal yang melintas lewat sehingga membuat sholat kita merasa kurang khitmat dan menikmati komunikasi kita dengan sang Khaliq. Oleh karena itu, perlu adanya usaha serta niat dalam diri kita untuk mengubah sebuah kebiasaan kecil yang sengaja maupun tidak itu, agar kita dapat merasakan luar biasanya nikmat melakukan komunikasi dengan Allah SWT. Salah satunya dengan melaksanakan Pendalaman Terapi Shalat, seperti yang diajarkan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”)
Dalam shalat bahagia beliau juga menekankan bahwa shalat adalah salah satu cara dimana seseorang dapat mengingat segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita, begitu pula dalam shalat bahagia ini, yang mana dalam shalat yang paling utama adalah tidak mengesampingkan syarat-syarat sah, rukun-rukun shalat, sarat wajib shalat, sebab kualitas shalat juga sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Kemudian dalam shalat juga di utamkan seseorang yang menjalankannya harus dengan khusyuk sekaligus tumakninah. Shalat bahagia juga dapat diartikan sebagai usaha seorang hamba untuk mengingat Allah SWT. Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa jumlah orang yang kurang bahagia tidak berkurang sekalipun kesejahteraan lahiriah meningkat. Ada saja yang mengganggu pikiran. Dalam hal ini beliau Muhammad Ali Aziz menggolongkan atau menamai kriteria-kriteria sebuah kebahagian dengan menggunakan shalat sebagai metode mencapai kebahagiaan dengan T2Q (Tawakal, Tumakninah, dan Qana‟ah) dan hal itu merupakan terapi mental yang ditekankan pada Shalat Bahagia.
Pada umumnya peshalat yang khusyuk dijamin hidup bahagia, sebab seorang yang menghadapi semua cuaca kehidupan dengan keimanan, kepasrahan dan penuh keriangan (ridla) atas semua takdir Allah. Dengan pembiasaan shalat secara tumakninah: tenang, sabar dan tidak tergesa-gesa, peshalat khusyuk bisa menghadapi semua gelombang kehidupan dengan tumakninah pula. Muslim yang benar adalah muslim periang, karena ia hidup dengan qanaah (menerima yang ada), tidak tersiksa oleh deretan daftar keinginan. Kebahagiaan bersifat subyektif. Jika peshalat khusyuk misalnya terkena suatu penyakit, atau orang tersebut ditakdirkan buta, secara obyektif ia menderita, karena tidak bisa bekerja dan menikmati hidup.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha:14)
Shalat Bahagia memberikan jalan keluar. Terapi Shalat Bahagia merupakan cara seseorang untuk mencapai sebuah kebahagiaan melalui shalat. Seperti halnya jika kita menghayati bunyi adzan yakni hayyaala shalah (mari kita melaksanakan shalat) kemudian hayyaalah falah (mari kita meraih kebahagiaan). Jadi, disitu sudah jelas bahwa memang shalat menghantarkan kita menuju kebahagiaan. Oleh karena itu, didalam Terapi Shalat Bahagia ini terdapat beberapa doa dan renungan dalam gerakan shalat. Secara garis besar, ada enam garis gerakan utama dalam shalat yaitu; berdiri, rukuk, bangun dari rukuk, sujud, duduk diantara dua sujud dan tasyadud. Masing-masing gerakan ini harus dilakukan dengan tenang dan penuh penghayatan atau T2Q (Tawakkal, Tuma‟ninah dan Qana‟ah). Penghayatan dilakukan dengan cara diam sejenak sebelum dan sesudah membaca doa untuk merenungi tiap-tiap doa pada setiap gerakan. Tarik nafas, tahan sebentar, keluarkan nafas pelan-pelan. Setelah berhasil meresapi berbagai penghayatan secara mendalam, baru dilanjutkan gerakan shalat berikutnya Berikut ini adalah poin-poin penghayatan dan renungan pada setiap gerakan shalat:
1.      Takbiratul ikhram (berdiri)
Memiliki kata kunci SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul ikhram merupakan awal dari aktifitas ibadah. Pada posisi ini, perokaat membaca doa pembuka (iftitah), surat al-Fatihah dan beberapa ayat al-Qur‟an. Setelah selesai dari pemujaan doa dan pengesahan Allah, disyariatkan bagi pelaku shalat untuk memohon jaminan dari Allah agar dikabulkan semua permintaan dan sembahan dengan membaca amin sebagaistempel pengesahan sekaligus penutup
2.      Rukuk
Memiliki kata kunci TURUT (Tunduk dan Menurut. Gerakan wajib berikutnya yaitu dengan membungkukkan badan dengan kedua tangan di lutut, dan wajah diarahkan ke tempat sujud. Posisi rukuk ini akan membengkokkan tulang belakang untuk menggerakkan, melembutkan otot-otot, melemaskan tulang-tulang yang kejang dan kaku, dan mengendorkan ruas-ruas tulang belakang, supaya tulang belakang kembali sesuai anatomi.
3.      I’tidal
Memiliki kata kunci HADIR (Hak pujian dan Takdir). Posisi ini adalah dengan bangkit dari rukuk) dan makna filosofinya, ada dua hal penting yang perlu dihayati dalam posisi ini, yaitu Hak pujian dan Takdir. Kita tidak dibenarkan mengharap pujian manusia dalam pekerjaan apapun. Hak pujian hanya milik Allah. Dengan demikian, menghapus harapan pujian orang berarti menutup sumber kecemasan dan kekecewaan. Begitupun dengan takdir, Tidak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semuanya terjadi atas Rencana Besar. Dengan keyakinan itu, seorang muslim memiliki daya tahan yang dahsyat menghadapi kegagalan. Ia juga bisa menahan diri dari amarah kepad orang lain yang menyebabkan kegagalan itu, sebab ia percaya dengan yakin bahwa semua yang terjadi sebagai kehendak Allah.
4.      Sujud
Memiliki kata kunci MASJID (Maaf, Sinar, Jiwa dan raga). Sujud adalah posisi paling agung dalam shalat setelah rukuk. Dalam sujud, orang tidak bisa menoleh kemanapn kecuali menghadap Allah. Rukuk adalah simbol penghambaan, sedangkan sujud simbol kedekatan. Sujud merupakan pembeda muslim dan setan, sebab setan selalu menolak melakukannya. Sujud juga posisi terdekat antara manusia dan Allah.
5.      Duduk antara dua sujud
Memiliki kata kunci  AKSI (Ampunan, Kasih, Sejahtera dan Iman). kita duduk dengan otot-otot pangkal paha. Dalam sikap duduk ini, salah satu saraf pangkal paha yang besar berada di atas kedua tumit kaki. Tumut dilapisi oleh sebuah otot yang berfungsi sebagai bantal. Dengan demikian, tumit menekan otot-otot pangkal paha serta saraf pangkal paha yang besar itu, sehingga saraf pangkal paha itu terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan dari penyakit saraf pengkal paha yang menyebabkan rasa sakit, nyeri, sehingga tidak dapat berjalan.
6.      Tasyahud
Memiliki kata kunci SOSIAL (Solawat, Persaksian dan Tawakkal). Posisi duduk ini disebut “tasyahud” karena di dalamnya ada bacaan “syahadat”, sebuah ikrar keimanan, “Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah”. Hal tersebut menjelaskan bahwa kita harus menerima apapun takdir Allah dengan ikhlas, ridla dan senang hati, serta bertawakal kepada Allah.
Dengan metode-metode dan penerapan inilah shalat bahagia itu di gunakan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dengan tanpa mengurangi nilai-nilai penting dan kesakralan sebuah ibadah sholat. Dari pembahasan di atas menunjukan bahwasanya shalat adalah sebuah kewajiaban bagi semua umat islam, pada dasarnya shalat juga sebagai sebuah prosesi ritual yang dilakukan oleh orang yang beriman sebagai wujud penghambaannya terhada Allah SWT. Dalam shalat, hal paling utama dan paling penting adalah tentang diterimanya shalat, dan hal yang menentukan shalat seseorang itu diterima ialah menjalakan rukun, syarat-syarat sah dan wajibnya shalat dengan benar sesuai syariatnya. Begitu pula dengan shalat bahagia yang ditemukan oleh Muhammad Ali Aziz, Shalat bahagia adalah sebuah metode dimana metode tersebut menggunkan shalat sebagai cara memperoleh dan mendapatkan sebuah kebahagiaan, sekaligus metode ini juga menggunakan shalat sebagai proses penyembuhan bagi seseorang yang sakit, namun dalam metode ini tidak serta merta menghilangkan atau mengindahkan nilai-nilai kesakralan sebuah prosesi shalat. Sebab dalam metode shalat bahagia ini, kebahagiaan, ketenangan, kesembuhan, keikhlasan hanyalah sebuah hadiah dari prosesi penghambaan manusia kebada Tuhannya yang benar. Dan pada dasarnya metodemetode yang digunakan dalam shalat bahagia itu bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan dalam shalat, meskipun seperti itu shalat bahagia juga mendapat ketenangan di dunia, sebab ketika seseorang manusia atau hamba itu benar dalam shalatnya, dalam ibadahnya maka benar pula dalam kehidupannya, serta dijamin pula kehidupannya oleh Allah SWT dan dilandasi dengan usaha.

Alfa Chumaidah
Gresik, 30 November 2019

14 komentar:

  1. keren alfaa ♥️♥️♥️ senoga bisa terus memberikan manfaat orang lain 👍👍

    BalasHapus
  2. Sangatt bermanfaat sekali blog ini bisa dijadikan proses pengobatan yang baik dan bisa menolong orang banyak 👍

    BalasHapus
  3. Wah keren sekalai, pasti muridnya prof ali yaa :))

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat. Saya akan mencobanya dalam sholat saya. Terimakasih

    BalasHapus
  5. Sangat bermanfaat, semoga selalu Istiqomah dalam sholat fardhu terutama dan tepat waktu, karena sholat bukan hanya kewajiban tetapi sebagai obat dari segala obat-obatan lainnya

    BalasHapus
  6. Barakallah, bermanfaat sekali. Semangat terus kaka dlm berkarya

    BalasHapus
  7. Barakallah👍👍terus berkarya dek Alfa😄 semoga bisa memberi manfaat untuk banyak orang

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah sangat bermanfaat semoga apa yg dishare bisa kami laksanakan sesuai dengan apa yg disampaikan terima kasih:)

    BalasHapus
  9. Barokallah setelah membaca artikel ini dan menerapkan nya Alhamdulillah sekali hasilnya ☺️

    BalasHapus
  10. Isinya sudah sangat lengkap, template artikelnya juga menarik semangat menginspirasi😉

    BalasHapus
  11. masya allah,sangat membantu sekali semoga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya,dan jangan lupa untuk diterapkan dikehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  12. Masyaallah sangat bermanfaat sekali dan terus berkarya

    BalasHapus

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...