Senin, 28 Juni 2021

Budaya dan Kearifan Dakwah

 

Budaya dan Kearifan Dakwah

Abstrak: Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Manusia secara fisik hampir tak memiliki perbedaan yang mencolok antara yang satu dengan yang lainnya. Kemudian dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap objek dakwah. Dari masa ke masa kegiatan dakwah selalu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan kondisi budaya dan situasi lingkungan. Dakwah menjadi tugas setiap muslim dalam pengertian yang sederhana dalam skala mikro sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Namun dalam pengertian dakwah secara ideal dan makro, baik yang dilakukan oleh individu terkhusus oleh kelompok dakwah harus dilakukan dengan menguasai berbagai aspek, baik metode, materi, media dan menguasai sasaran dakwah. Munculnya permasalahan dalam dakwah semakin kompleks, apalagi pada zaman yang modern seperti sekarang ini. Para da’i dituntut harus bisa mengetahui gambaran dakwah atau uraian yang mengandung berbagai keterangan, informasi, dan data yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun suatu rencana kegiatan dakwah secara sistematis dan terinci tentang daerah atau batasan geografis yang nantinya akan mewujudkan dakwah antar budaya oleh sang da’i. Oleh karenanya dibutuhkan aktivitas dakwah agar senantiasa mampu mewujudkan dakwah antar budaya saling rukun, saling menghormati dan menghargai diantara sesama serta mampu menjalin hidup yang toleran dengan kearifan budaya yang ada. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai.

Kata Kunci: Budaya, Kearifan, Dakwah

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan (Enjang, 2009. 24-34). Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi tergantung pada budaya: Bahasa, aturan, dan norma masing-masing (Liliweri, 2011. 9). Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam bukunya “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu sebagai interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2009. 12-13). Dalam bukunya, Abraham Laswell mengatakan bahwa komunikasi adalah who says what to whom in this channel with what effect. Efek disini merupakan sikap dan tingkah laku hasil berkomunikasi tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa komunikasi adalah proses proses pertukaran pesan dari komunikator dan komunikan yang menghasilkan efek. Adapun unsur-unsur komunikasi antaralain: komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek.[1]

Seiring dengan berjalannya waktu dengan berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan mulai berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang efektif menjadi keinginan semua orang. Dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125 yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang bijaksana. Sesungguhnya Allah dialah yang lebih baik mengetahui tentang siap yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui dari orang-orang yang mendapat petunjuk” (Aang, 2009:5).

Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari segala macam kesibukan. Selama mereka masih hidup dan ingin memenuhi kebutuhannya maka aktivitas mereka tidak akan berhenti. Tindakan yang mereka lakukan tentu saja sesuai dengan tujuan masing-masing dan hal ini harus ada solusi maupun jalan keluarnya. Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang juga berbudaya adalah manusia itu tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain, dari lahir sampai mati juga tetap memerlukan bantuan dari orang lain (tidak terbatas pada keluarga, saudara, maupun teman). Oleh karena itu manusia diciptakan dengan beberapa kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang berbeda-beda untuk saling melengkapi, dikomunikasikan dan saling menolong. Usaha dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya.[2]

Budaya adalah bagian dari dakwah. Sebuah kebudayaan tak bisa terpisahkan dari dakwah, karena dakwah berhembus dan mengalir sepanjang budaya ada, dakwah tak pernah memilih kemana dia akan menyeruh, dia akan datang dan mengalir begitu saja seperti angin segar bagi semua orang.  Sebagai sebuah gerakan suci yang bersifat universal dan fleksibel, dakwah senantiasa berkembang sesuai dengan ritme perkembangan zaman dan kebudayaan yang menyertainya. Pemikiran dakwah sebagai suatu konstruk akal-budi merupakan hasil bentukan dari konteks budaya yang menjadi latar belakangnya (culturally constructed). Ia senantiasa terbangun oleh unsur-unsur kebudayaan tempat setiap figur pemikir dan pelaku dakwah bertumbuh kembang. Unsur kebudayaan dalam hal ini tercermin pada konteks sosio-politik, lingkungan akademik, dan organisasi dakwah yang menjadi tempat figur dakwah itu dibesarkan.[3]

Tujuan utama dari dakwah adalah adanya sebuah perubahan sosial dan setiap da`i harus memiliki tanggungjawab terhadap perubahan tersebut. Pada kenyataannya belum terjadi perubahan sosial secara revolusioner, padahal dakwah dengan gencar dilakukan dimana-mana, baik di perkotaan maupun ke pelosok pedesaan, baik melalui media elektronik ataupun media cetak. Problema dakwah menjadi tantangan tersendiri bagi pada da`i, selain masih adanya fanatisme, masalah patologi sosial semakin merajalela, kriminalitas yang tingggi, pelecehan seksual, pelacuran, perjudian, mewabahnya korupsi yang terjadi. Bahkan problema sosial lainnya seperti semakin terbukanya penyakit seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Kondisi seperti diatas merupakan tantangan dakwah yang harus dicari jalan keluarnya. Dakwah bukan sekedar soal perencanaan dan strategi, tetapi dakwah harus mampu mengikuti irama yang terus berkembang dari waktu ke waktu, namun harus kita akui dengan semakin maraknya aktivitas dakwah tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kehidupan masyarakat, bahkan meningkatnya pengetahuan agama tidak berbanding lurus pula dengan perilaku. Bukan hanya sekedar masyarakat, banyak pula para da`i yang hanya menjadi pemuja popularitas dan uang, sama sekali mereka tidak pernah peduli dan mengevaluasi hasil dakwahnya di masyarakat.

Kearifan lokal lebih menggambarkan satu fenomena spesifik yang biasanya menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut, misalnya Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok, kudu ngindung ka waktu mi bapa ka jaman (masyarakat Jawa Barat). Alon alon asal kelakon (Masyarakat Jawa Tengah), rawe-rawe rantas malang-malang putung (masyarakat jawa Timur), dan sebagainya.

Menurut Anjar Nugroho, selama ini ketegangan antara agama (terutama Islam) dengan budaya lokal berakibat pada pudarnya nilai-nilai kearifan lokal. Ia mencoba mengkaji dialektika antara agama dan kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberikan kekayaan terhadap agama. Akan tetapi, terkadang dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran ilahiah yang bersifat absolut, perlu adanya gagasan pribumisasi Islam. Hal ini karena pribumi Islam menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, tetapi berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuk yang otentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya.[4]

Jadi, jika Berbicara mengenai budaya dan kearifan dakwah maka bayangan pertama yang terpikir oleh kita adalah dakwah yang dilakukan wali songo, bagaimana mereka menyerukan nafas-nafas Islam yang masing asing bagi masyarakat pribumi hingga saat ini budaya-budaya keislaman menjadi makanan sehari-hari. Budaya dan kearifan dakwah yang terjadi saat ini merupakan bentuk akulturasi budaya yang terjadi sedikit demi sedikit  seiring berjalannya waktu. Salah satu bentuk kearifan dakwah yang adalah adanya kegiatan kenduri pada saat-saat tertentu, dll.



[1] Masykurotus Syarifah, “Budaya dan Kearifan Dakwah”, al-balagh Vol. 1, No. 1, 2016, hal. 24-25.

[2] Nur Ahmad, “Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. Vol. 3, No.1, 2015, hal. 31-32.

[3] Didin Solahudin dan Ahmad Sarbini, “Kajian Dakwah Multiperspektif Sebuah Pendahuluan” (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2014), hlm,7.

[4] Anjar Nugroho, http//pemikiranislam,word press.com/2007/08/14/Islam-dan-kebudayaan-lokal/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...