Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non-Verbal
dalam Ilmu Dakwah
Abstrak: Setiap manusia yang hidup dalam masyarakat tidak akan pernah lepas dari
komunikasi. Karena sejatinya komunikasi merupakan bagian dari proses aktivitas
dasar manusia. Komunikasi dapat terjadi apabila ada komunikator (orang yang
menyampaikan pesan atau informasi) dan komunikan (orang yang menerima pesan). Begitupun
dalam Ilmu Dakwah, dalam berdakwah tentu saja kita akan bertukar pesan dan informasi
pada orang lain, entah dari budaya sama ataupun berbeda. Oleh karena itu komunikasi
sangat berperan besar dalam berjalannya aktivitas dakwah. Masalah dalam komunikasi lintas
budaya biasanya datang dari transmisi pesan. Dalam komunikasi antara
orang-orang dari budaya yang sama, orang yang menerima pesan menafsirkannya
berdasarkan pada nilai-nilai, keyakinan, dan harapan untuk perilaku yang mirip
dengan orang-orang yang mengirim pesan. Ketika ini terjadi, cara pesan yang
ditafsirkan oleh penerima cukup mirip dengan apa yang dimaksudkan oleh sang
pembicara. Namun, ketika penerima pesan adalah orang dari budaya yang
berbeda, penerima menggunakan informasi dari budaya sang pembicara untuk
menafsirkan pesan. Pesan yang ditafsirkan mungkin sangat berbeda dari apa yang
pembicara maksudkan.
Kata Kunci: Komunikasi, Aktivitas, Komunikasi
Lintas Budaya, Komunikasi Verbal, Komunikasi Non-Verbal, Dakwah.
Pengertian Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya
Aktivitas menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sebuah keaktifan, kegiatan-kegiatan,
kesibukan, atau bisa juga berarti kerja atau salah satu kegiatan kerja yang
dilaksanakan tiap bagian dalam tiap suatu organisasi atau Lembaga. Atau dapat
diartikan sebagai bentuk keatifan dan kegiatan.[1]
Sedangkan menurut
Kamus Besar Ilmu Pengetahuan aktivitas berasal dari kata activity yang
berarti aktivitas, bertindak. Yakni tindakan pada diri setiap eksistensi atau
makhluk yang membuat atau menghasilkan sesuatu dengan aktivitasnya, ini
menandai bahwa hubungan khusus antara manusia dengan dunia.
Berbicara tentang
Komunikasi mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Ya, Komunikasi
adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada
pihak lain. Istilah
komunikasi mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris), berasal
dari bahasa latin, communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian
(dalam sesuatu), pertukaran, dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau
jawaban dari pendengarnya.
Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat
dimengerti oleh kedua belah pihak. Namun apabila tidak ada bahasa verbal yang
dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan
menggunakan gestur tubuh (non-verbal) dengan menunjukkan sikap tertentu,
misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara ini (komunikasi
non-verbal) biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki perbedaan yang membuat
adanya miskomunikasi, biasanya masalah ini terjadi pada komunikator dan
komunikan yang memiliki perbedaan, keterbatasan bahasa, dll. Sehingga memaksa
mereka untuk menggunakan Bahasa non-verbal untuk memberikan pengertian maksud
yang dikatakan.
Sedangkan menurut KBBI Lintas Budaya memiliki
arti pertemuan antara dua budaya atau lebih yang berlangsung secara cepat.
Jadi, Komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya
ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan
sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau
lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk
sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau
bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau
lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru). Berkenaan dengan komunikasi lintas
budaya yang tepat, dengan mempelajari situasi di mana orang-orang dari latar
belakang budaya yang berbeda saling berinteraksi. Selain bahasa,
komunikasi lintas budaya berfokus pada atribut sosial, pola pikir, dan budaya
dari kelompok-kelompok yang berbeda dari orang-orang. Hal ini juga melibatkan
pemahaman budaya yang berbeda, bahasa, dan adat istiadat orang-orang dari
negara-negara lain. Komunikasi lintas budaya berperan dalam ilmu-ilmu sosial
seperti antropologi, studi budaya, linguistik, psikologi dan ilmu komunikasi.
Komunikasi Verbal
dan Non-Verbal
Komunikasi
verbal
adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik itu secara lisan maupun
tulisan. Komunikasi verbal paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia,
untuk mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, fakta, data, dan
informasi serta menjelaskannya, saling bertukar, perasaan dan pemikiran, saling
berdebat dan bertengkar, dll.[2] Dalam
komunikasi dakwah komunikasi verbal ini biasanya digunakan oleh para pendakwah
dalam menyampaikan pesan dakwahnya kepada mad’u. Terdapat beberapa unsur dalam
komunikasi verbal ini, antaralaian: kata dan Bahasa.[3]
Komunikasi
non-verbal adalah komunikasi dengan menggunakan semua isyarat yang bukan
kata-kata. Pesan-pesan nonverbal sangat berpengaruh terhadap komunikasi. Pesan
atau simbol-simbol non-verbal sangat sulit untuk ditafsirkan dari pada simbol
verbal. Bahasa verbal sealur dengan bahasa nonverbal, contoh ketika kita
mengatakan “ya” pasti kepala kita mengangguk. Komunikasi nonverbal lebih jujur
mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan.[4] Komunikasi
nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Komunikasi
nonverbal bersifat tetap dan selalu ada.
Bentuk komunikasi non-verbal
adalah perilaku kinesik. Perilaku kinesik adalah komunikasi melalui gerakan
tubuh—misalnya, postur, gerak tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata. Makna dari
perilaku tersebut bervariasi antar negara dan mempengaruhi komunikasi lintas
budaya. Bentuk komunikasi nonverbal secara kinesik adalah kontak mata dan
menggunakan mata untuk menyampaikan pesan. Secara keseluruhan, komunikasi
nonverbal memberikan petunjuk untuk apa yang dikatakan secara verbal dengan
penggambaran fisik. Komunikasi nonverbal telah ditunjukkan untuk
memperhitungkan antara 65% dan 93% dari ditafsirkannya proses komunikasi.
Seperti yang kita ketahui bahwa Masalah dalam komunikasi lintas budaya
biasanya datang dari transmisi pesan. Dalam komunikasi antara orang-orang dari
budaya yang sama, orang yang menerima pesan menafsirkannya berdasarkan pada
nilai-nilai, keyakinan, dan harapan untuk perilaku yang mirip dengan
orang-orang yang mengirim pesan. Ketika ini terjadi, cara pesan yang
ditafsirkan oleh penerima cukup mirip dengan apa yang dimaksudkan oleh sang
pembicara. Namun, ketika penerima pesan adalah orang dari budaya yang berbeda,
penerima menggunakan informasi dari budaya sang pembicara untuk menafsirkan
pesan. Pesan yang ditafsirkan mungkin sangat berbeda dari apa yang pembicara
maksudkan. Oleh karena itu Komunikasi yang efektif bergantung pada
pengertian informal antara pihak-pihak yang terlibat yang didasarkan pada
kepercayaan yang berkembang di antara mereka. Ketika kepercayaan itu ada,
implisit pengertian dalam komunikasi dan perbedaan budaya dapat diabaikan, dan
masalah-masalah dapat ditangani dengan lebih mudah. Arti dari kepercayaan dan
bagaimana hal ini dikembangkan serta dikomunikasikan berbeda-beda di
masyarakat. Demikian pula, beberapa budaya memiliki kecenderungan yang lebih
dipercaya dibandingkan dengan yang lain.
Jadi
mengenai “Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan
Non-Verbal dalam Ilmu Dakwah” dapat dipahami bahwa Proses berdakwah adalah
bentuk aktivitas komunikasi. Komunikasi dalam dakwah umumnya menggunakan bentuk
komunikasi verbal, namun tak jarang komunikasi non-verbal akan disisipkan di
dalamnya guna mendukung atau memberikan pemahaman lebih kepada mad’u terlebih
dengan adalah komunikasi lintas budaya. Aktivitas dakwah lintas budaya tentu sudah
banyak terjadi, terlebih di zaman yang serba canggih seperti saat ini. Mad’u
dakwah tak terbatas pada Kalangan tertentu, orang dengan budaya tertentu, atau wilayah
tertentu.
Referensi:
Departemen Pendidikan
Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2022)
Desak Putu Yuli
Kurniati, Modul Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Universitas Udayana, 2016),
hal. 7-8
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu
Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007)
Widyo Nugroho, Modul Teori Komunikasi
Verbal dan Nonverbal
[1] Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2022)
[2] Desak
Putu Yuli Kurniati, Modul Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Universitas
Udayana, 2016), hal. 7-8
[3] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu
Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007)
[4] Widyo Nugroho, Modul Teori
Komunikasi Verbal dan Nonverbal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar