Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah
Multikultural Modern
Abstrak: Pertukaran kebudayaan adalah suatu
hal yang kerap kali terjadi bahkan sejak dahulu kala, proses ini tak terelakkan
lagi karena sejatinya proses ini terjadi karena adanya pertemuan seseorang
dengan orang lain yang memiliki segala macam perbedaan yang dibawanya. Siapapun
yang datang dari suatu negara atau daerah sudah pasti tidak akan terlepas dari
budaya di mana ia lahir dan dibesarkan. Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya,
ia harus berbagi ruang dengan orang lain dan dari budaya lain juga. Pertukaran
budaya ini, mungkin saja menimbulkan konflik. Konflik bisa diredam dengan
lahirnya sebuah kesadaran bahwa setiap orang harus bisa memahami, menghargai,
menghormati setiap perbedaan budaya yang dibawa orang lain dengan dirinya.
Proses komunikasi yang berlangsung antara orang-orang berbeda budaya tersebut
biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: The Act (Perbuatan), The Scene
(Adegan), The Agent (Pelaku), The Agency (Perantara), dan The Purpose (Tujuan).
Faktor-faktor tersebut di atas juga menjadi salah satu penentu sebuah proses
komunikasi itu berjalan efektif. Berdasarkan hal itu pula akan diketahui apa
saja hambatan yang dapat membendung terjadinya Komunikasi Lintas Budaya
dalam Dakwah Multikultural Modern. Sehingga proses Komunikasi dakwah
multikultural ini dapat berjalan dengan baik sehingga terwujudkannya tujuan
dakwah yang diinginkan.
Kata Kunci: Hambatan, Komunikasi Lintas
Budaya, Dakwah, Dakwah Multikultural Modern.
Globalisasi terjadi karena perkembangan
teknologi yang begitu pesat. Teknologi informasi yang semakin canggih
memungkinkan setiap orang mengenggam infromasi. Kecanggihan teknologi
transportasi memungkinkan setiap orang berkunjung ke setiap negara berbeda
hanya dalam waktu beberapa jam. Pertukaran kebudayaan adalah hal yang sangat
mungkin terjadi, karena siapapun yang datang dari suatu negara atau daerah
sudah pasti tidak akan terlepas dari budaya di mana ia lahir dan dibesarkan.
Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya, ia harus berbagi ruang dengan
orang dari budaya lain (berbeda darinya). Pertukaran budaya ini, mungkin saja
menimbulkan konflik. Konflik bisa diredam dengan lahirnya sebuah kesadaran
bahwa setiap orang harus bisa memahami budaya orang lain yang berbeda budaya
dengan dirinya. Menurut Deddy Mulyana bahwa budaya-budaya yang sangat berbeda
memiliki sistem- sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan
hidup yang berbeda. Cara kita berkomunikasi sangat bergantung pada budaya kita:
bahasa, aturan, dan norma kita masing-masing.[1]
Berbeda budaya berarti berbeda dalam
menyampaikan ide, gagasan, dan berbeda dalam perilaku keseharian. Berbeda
budaya berarti berbeda dalam strategi komunikasi. Seorang yang hanya mengerti
bahasa daerah tidak akan bisa mengerti bila menerima pesan dalam bahasa
Indonesia. Seorang yang budayanya begitu santun kepada orang tua tidak akan
menerima orang yang tidak hormat terhadap orang yang dituakan. Seorang yang
dalam kebudayaannya terbiasa bersikap apa adanya tidak akan menerima budaya
yang penuh kepura-puraan. Candio Elliot mencontohkan, gaya promosi diri mungkin
sangat sedikit ditampilkan oleh penduduk asli Amerika (native) termasuk orang
Asia umumnya, disusul orang Hispanik, dan gaya seperti itu kebanyakan digunakan
oleh orang Afrika. Gaya berpakaian formal mungkin sedikit ditunjukkan oleh
orang Hispanik dan penduduk asli orang Afrika, namun sangat banyak dipamerkan
oleh orang-orang Anglo (Amerika Campuran).[2]
Komunikasi Lintas Budaya & Dakwah Multikultural
Modern
Mengenai apa itu komunikasi lintas budaya
sebenarnya sudah dijelaskan pada artikel atau pembahasan sebelumnya, namun
dalam pembahasan ini akan dipaparkan kembali secara singkat tentang apa itu
komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas
budaya adalah proses dimana
dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya
dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait
atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk
sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau
bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau
lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru).
Dakwah secara umum dapat diartikan upaya
seseorang atau lembaga yang mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan
kebenaran serta mencegah dari keburukan. Sehingga dakwah bermakna ajakan untuk
memahami, mempercayai (mengimani), dan mengamalkan ajaran Islam, juga mengajak
kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, yang mempunyai tujuan pokok yaitu
tercapainya sebuah kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat. Sebagaimana
telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Imron ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ
يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari
yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Sedang Multikulturalisme sendiri dapat
dipahami sebagai sebuah perspektif atau cara pandang yang mengakui dan
mengagungkan perbedaan dan fenomena kemajemukan budaya, bangsa, etnis, suku,
ras, golongan, dan agama untuk berinteraksi atau bahkan berkontestasi di dalam
batas-batas wilayah sebuah negara.[3]
Jadi dapat disimpulkan jika Dakwah Multikultural adalah upaya seseorang
atau lembaga yang mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan kebenaran
serta mencegah dari keburukan. Sehingga dakwah bermakna ajakan kepada seluruh
umat manusia tanpa membedakan suku bangsa, ras, gender dan umur untuk memahami,
mempercayai (mengimani) dan mengamalkan ajaran Islam, juga mengajak kepada
kebaikan dan mencegah kemunkaran. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah
para pendukung kebudayaan, baik secara individual maupun secara kelompok dengan
bergandengan tangan saling mendukung dengan proses-proses kesederajatan pelaku
secara individual. Lalu apa itu dakwah multikultural modern?
Dakwah Multikultural Modern adalah aktivitas
dakwah multikultural dengan mengikuti
zaman modern ini (globalisasi) di mana proses dakwah sendiri dibuat to the
point (tidak berbelit-belit, langsung pada apa yang dituju). Dalam
perkembangannya dakwah semacan ini dirasa lebih efisien karena lebih mudah
dilakukan. Dakwah ini dilakukan dengan memanfaatkan media teknologi informasi
yang saat ini sudah masuk pada ranah kehidupan yang sangat individual. Misalnya
teknologi Handphone. Melalui alat tersebut semua lapisan masyarakat bisa
mengakses berbagai informasi apa saja yang di inginkan.
Namun dalam setiap proses komunikasi, unsur
hambatan tidak pernah ketinggalan, karena komunikasi yang efektif adalah
komunikasi yang dapat mengatasi hambatan-hambatan selama melakukan proses
komunikasi tersebut. Hambatan-hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah
multikultural modern, antaralain:
1)
Etnosentrisme
Sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa
budaya sendiri lebih unggul dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah
budaya lain, dan tidak mau mengakui keunikan budaya lain sebagai suatu ciri
khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang dan mengukur budaya lain
berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap berlawanan dan
berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri. Sikap ini dapat
mengakibatkan adanya pembatasan pergaulan dengan individu yang memiliki budaya
yang berbeda. Contohnya kecenderungan orang Indonesia yang mengganggap budaya
‘barat’ yang vulgar berlawanan dengan budaya ‘timur’ yang santun. Hal tersebut
menimbulkan ketakutan akan tercemarnya budaya lokal oleh budaya asing, sehingga
pergaulan dengan orang barat akan dibatasi.
2)
Stereotipe
Sikap yang menggeneralisasi atau
menyamaratakan sekelompok orang tanpa mempertimbangkan kepribadian atau
keunikan masing-masing individu. Stereotipe mengelompokkan individu berdasarkan
keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak memandang individu dalam
kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik individual mereka
diabaikan, dianggap homogen. Sikap ini bersifat negative karena dapat
menghambat berjalannya proses komunikasi lintas budaya yang efektif dan
harmonis.
3)
Rasialisme,
Prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap
RAS tertentu. Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas
budaya, prilaku ini bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda
dengan sikap rasis, rasialisme merujuk pada gerakan sosial atau politik yang
mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah kebanggaan ras, identitas
politik, atau segregasi rasial.
4) Prasangka
Persepsi yang
keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka mirip dengan
streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya
streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil,
menyimpang, dan intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada
umumnya bersifat negatif, adanya prasangka dapat membuat seseorang memandang
rendah dan bahkan memusuhi orang atau kelompok lain. Hadirnya prasangka
berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara pemilik
prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa,
seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan
membuat komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam
pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap orang pasti akan lebih suka
berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan dirinya
dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud
prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang
terjadi.
5) Jarak Sosial
Berbicara
tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda
dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada
perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya,
buka perbedaan kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial
membagi individu dalam kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan
jarak sosial membagi individu individu dalam suatu kelompok secara horizontal,
berdasarkan peradaban. Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan
kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi. Misalnya jarak sosial antara peradaban
modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di digitalisasi secara
online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara manual.
6) Persepsi
Proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan
memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang
ketika berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda. Persepsi negatif dapat
berdampak buruk bagi kefektifan komunikasi lintas budaya.
7) Bahasa
Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang
menghasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang
satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata
yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa
jadi sangat fatal akibatnya.
8) Paralinguistik
Gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo
bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda,
misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan
yang berbicara dengan lantang dan cepat.
Adapun faktor lain yang dapat menghambat adanya komunikasi lintas budaya
dalam dakwah multikultural modern antaralain yakni fisik, budaya, motivasi, pengalaman, emosi, bahasa (verbal), nonverbal,
dan kompetisi.
Referensi:
Deddy Mulyana & Jalaluddin
Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang
Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)
Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif,
(Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197
Aziz, 2009, Multikulturalisme:
Wawasan Alternatif Mengelola Kemajemukan Bangsa, dalam Jurnal Titik-Temu,
Volume 2, Nomor 1. h. 105
[1] Deddy Mulyana
& Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan
Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)
[2] Deddy Mulyana,
Komunikasi Efektif, (Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197
[3] Aziz, 2009,
Multikulturalisme: Wawasan Alternatif Mengelola Kemajemukan Bangsa, dalam Jurnal
Titik-Temu, Volume 2, Nomor 1. h. 105

Tidak ada komentar:
Posting Komentar