Senin, 14 Juni 2021

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern

 

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern

Abstrak: Pertukaran kebudayaan adalah suatu hal yang kerap kali terjadi bahkan sejak dahulu kala, proses ini tak terelakkan lagi karena sejatinya proses ini terjadi karena adanya pertemuan seseorang dengan orang lain yang memiliki segala macam perbedaan yang dibawanya. Siapapun yang datang dari suatu negara atau daerah sudah pasti tidak akan terlepas dari budaya di mana ia lahir dan dibesarkan. Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya, ia harus berbagi ruang dengan orang lain dan dari budaya lain juga. Pertukaran budaya ini, mungkin saja menimbulkan konflik. Konflik bisa diredam dengan lahirnya sebuah kesadaran bahwa setiap orang harus bisa memahami, menghargai, menghormati setiap perbedaan budaya yang dibawa orang lain dengan dirinya. Proses komunikasi yang berlangsung antara orang-orang berbeda budaya tersebut biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: The Act (Perbuatan), The Scene (Adegan), The Agent (Pelaku), The Agency (Perantara), dan The Purpose (Tujuan). Faktor-faktor tersebut di atas juga menjadi salah satu penentu sebuah proses komunikasi itu berjalan efektif. Berdasarkan hal itu pula akan diketahui apa saja hambatan yang dapat membendung terjadinya Komunikasi Lintas Budaya dalam Dakwah Multikultural Modern. Sehingga proses Komunikasi dakwah multikultural ini dapat berjalan dengan baik sehingga terwujudkannya tujuan dakwah yang diinginkan.

Kata Kunci: Hambatan, Komunikasi Lintas Budaya, Dakwah, Dakwah Multikultural Modern.

Globalisasi terjadi karena perkembangan teknologi yang begitu pesat. Teknologi informasi yang semakin canggih memungkinkan setiap orang mengenggam infromasi. Kecanggihan teknologi transportasi memungkinkan setiap orang berkunjung ke setiap negara berbeda hanya dalam waktu beberapa jam. Pertukaran kebudayaan adalah hal yang sangat mungkin terjadi, karena siapapun yang datang dari suatu negara atau daerah sudah pasti tidak akan terlepas dari budaya di mana ia lahir dan dibesarkan. Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya, ia harus berbagi ruang dengan orang dari budaya lain (berbeda darinya). Pertukaran budaya ini, mungkin saja menimbulkan konflik. Konflik bisa diredam dengan lahirnya sebuah kesadaran bahwa setiap orang harus bisa memahami budaya orang lain yang berbeda budaya dengan dirinya. Menurut Deddy Mulyana bahwa budaya-budaya yang sangat berbeda memiliki sistem- sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara kita berkomunikasi sangat bergantung pada budaya kita: bahasa, aturan, dan norma kita masing-masing.[1]

Berbeda budaya berarti berbeda dalam menyampaikan ide, gagasan, dan berbeda dalam perilaku keseharian. Berbeda budaya berarti berbeda dalam strategi komunikasi. Seorang yang hanya mengerti bahasa daerah tidak akan bisa mengerti bila menerima pesan dalam bahasa Indonesia. Seorang yang budayanya begitu santun kepada orang tua tidak akan menerima orang yang tidak hormat terhadap orang yang dituakan. Seorang yang dalam kebudayaannya terbiasa bersikap apa adanya tidak akan menerima budaya yang penuh kepura-puraan. Candio Elliot mencontohkan, gaya promosi diri mungkin sangat sedikit ditampilkan oleh penduduk asli Amerika (native) termasuk orang Asia umumnya, disusul orang Hispanik, dan gaya seperti itu kebanyakan digunakan oleh orang Afrika. Gaya berpakaian formal mungkin sedikit ditunjukkan oleh orang Hispanik dan penduduk asli orang Afrika, namun sangat banyak dipamerkan oleh orang-orang Anglo (Amerika Campuran).[2]

Komunikasi Lintas Budaya & Dakwah Multikultural Modern

Mengenai apa itu komunikasi lintas budaya sebenarnya sudah dijelaskan pada artikel atau pembahasan sebelumnya, namun dalam pembahasan ini akan dipaparkan kembali secara singkat tentang apa itu komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru).

Dakwah secara umum dapat diartikan upaya seseorang atau lembaga yang mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan kebenaran serta mencegah dari keburukan. Sehingga dakwah bermakna ajakan untuk memahami, mempercayai (mengimani), dan mengamalkan ajaran Islam, juga mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, yang mempunyai tujuan pokok yaitu tercapainya sebuah kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Imron ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Sedang Multikulturalisme sendiri dapat dipahami sebagai sebuah perspektif atau cara pandang yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dan fenomena kemajemukan budaya, bangsa, etnis, suku, ras, golongan, dan agama untuk berinteraksi atau bahkan berkontestasi di dalam batas-batas wilayah sebuah negara.[3] Jadi dapat disimpulkan jika Dakwah Multikultural adalah upaya seseorang atau lembaga yang mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan kebenaran serta mencegah dari keburukan. Sehingga dakwah bermakna ajakan kepada seluruh umat manusia tanpa membedakan suku bangsa, ras, gender dan umur untuk memahami, mempercayai (mengimani) dan mengamalkan ajaran Islam, juga mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan, baik secara individual maupun secara kelompok dengan bergandengan tangan saling mendukung dengan proses-proses kesederajatan pelaku secara individual. Lalu apa itu dakwah multikultural modern?

Dakwah Multikultural Modern adalah aktivitas dakwah multikultural dengan  mengikuti zaman modern ini (globalisasi) di mana proses dakwah sendiri dibuat to the point (tidak berbelit-belit, langsung pada apa yang dituju). Dalam perkembangannya dakwah semacan ini dirasa lebih efisien karena lebih mudah dilakukan. Dakwah ini dilakukan dengan memanfaatkan media teknologi informasi yang saat ini sudah masuk pada ranah kehidupan yang sangat individual. Misalnya teknologi Handphone. Melalui alat tersebut semua lapisan masyarakat bisa mengakses berbagai informasi apa saja yang di inginkan.

Namun dalam setiap proses komunikasi, unsur hambatan tidak pernah ketinggalan, karena komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dapat mengatasi hambatan-hambatan selama melakukan proses komunikasi tersebut. Hambatan-hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern, antaralain:

1)      Etnosentrisme

Sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa budaya sendiri lebih unggul dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah budaya lain, dan tidak mau mengakui keunikan budaya lain sebagai suatu ciri khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang dan mengukur budaya lain berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap berlawanan dan berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri. Sikap ini dapat mengakibatkan adanya pembatasan pergaulan dengan individu yang memiliki budaya yang berbeda. Contohnya kecenderungan orang Indonesia yang mengganggap budaya ‘barat’ yang vulgar berlawanan dengan budaya ‘timur’ yang santun. Hal tersebut menimbulkan ketakutan akan tercemarnya budaya lokal oleh budaya asing, sehingga pergaulan dengan orang barat akan dibatasi.

2)      Stereotipe

Sikap yang menggeneralisasi atau menyamaratakan sekelompok orang tanpa mempertimbangkan kepribadian atau keunikan masing-masing individu. Stereotipe mengelompokkan individu berdasarkan keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak memandang individu dalam kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik individual mereka diabaikan, dianggap homogen. Sikap ini bersifat negative karena dapat menghambat berjalannya proses komunikasi lintas budaya yang efektif dan harmonis.

3)      Rasialisme,

Prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap RAS tertentu.  Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya, prilaku ini bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda dengan sikap rasis, rasialisme merujuk pada gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial.

4)      Prasangka

Persepsi yang keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka mirip dengan streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil, menyimpang, dan intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada umumnya bersifat negatif, adanya prasangka dapat  membuat seseorang memandang rendah dan bahkan memusuhi orang atau kelompok lain. Hadirnya prasangka berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara pemilik prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa, seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan membuat komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap orang pasti akan lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan dirinya dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi.

5)      Jarak Sosial

Berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, buka perbedaan kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial membagi individu dalam kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan jarak sosial membagi individu individu dalam suatu kelompok secara horizontal, berdasarkan peradaban. Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi. Misalnya jarak sosial antara peradaban modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di digitalisasi secara online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara manual. 

6)      Persepsi

Proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang ketika berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda.  Persepsi negatif dapat berdampak buruk bagi kefektifan komunikasi lintas budaya.

7)      Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang menghasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

8)      Paralinguistik

Gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat.

Adapun faktor lain yang dapat menghambat adanya komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern antaralain yakni fisik, budaya, motivasi, pengalaman, emosi, bahasa (verbal), nonverbal, dan kompetisi.

 

 

 

Referensi:

Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)

Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, (Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197

Aziz, 2009, Multikulturalisme: Wawasan Alternatif Mengelola Kemajemukan Bangsa, dalam Jurnal Titik-Temu, Volume 2, Nomor 1. h. 105

 

 

 



[1] Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)

[2] Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, (Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197

[3] Aziz, 2009, Multikulturalisme: Wawasan Alternatif Mengelola Kemajemukan Bangsa, dalam Jurnal Titik-Temu, Volume 2, Nomor 1. h. 105

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...