Budaya dan Kearifan
Dakwah
Abstrak: Manusia adalah makhluk yang berbudaya.
Manusia secara fisik hampir tak memiliki perbedaan yang mencolok antara yang satu
dengan yang lainnya. Kemudian dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan secara
terus-menerus terhadap objek dakwah. Dari masa ke masa kegiatan dakwah selalu
mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan kondisi budaya dan situasi
lingkungan. Dakwah menjadi tugas setiap muslim dalam pengertian yang sederhana
dalam skala mikro sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Namun dalam
pengertian dakwah secara ideal dan makro, baik yang dilakukan oleh individu
terkhusus oleh kelompok dakwah harus dilakukan dengan menguasai berbagai aspek,
baik metode, materi, media dan menguasai sasaran dakwah. Munculnya permasalahan
dalam dakwah semakin kompleks, apalagi pada zaman yang modern seperti sekarang
ini. Para da’i dituntut harus bisa mengetahui gambaran dakwah atau uraian yang
mengandung berbagai keterangan, informasi, dan data yang dapat dijadikan bahan
pertimbangan untuk menyusun suatu rencana kegiatan dakwah secara sistematis dan
terinci tentang daerah atau batasan geografis yang nantinya akan mewujudkan
dakwah antar budaya oleh sang da’i. Oleh karenanya dibutuhkan aktivitas dakwah
agar senantiasa mampu mewujudkan dakwah antar budaya saling rukun, saling menghormati
dan menghargai diantara sesama serta mampu menjalin hidup yang toleran dengan
kearifan budaya yang ada. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah
yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta
keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan
antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara
situasi dan kondisi dengan damai.
Kata Kunci: Budaya, Kearifan, Dakwah
Komunikasi antar
budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda
latar belakang kebudayaan (Enjang, 2009. 24-34). Budaya-budaya yang berbeda
memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup
yang berbeda. Cara berkomunikasi tergantung pada budaya: Bahasa, aturan, dan
norma masing-masing (Liliweri, 2011. 9). Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua
konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah
dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok
sosial. Alo liliweri dalam bukunya “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya”
menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu sebagai interaksi dan komunikasi
antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang
kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2009. 12-13). Dalam bukunya, Abraham Laswell
mengatakan bahwa komunikasi adalah who says what to whom in this channel
with what effect. Efek disini merupakan sikap dan tingkah laku hasil
berkomunikasi tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa komunikasi adalah proses
proses pertukaran pesan dari komunikator dan komunikan yang menghasilkan efek. Adapun
unsur-unsur komunikasi antaralain: komunikator, komunikan, pesan, media, dan
efek.[1]
Seiring dengan berjalannya waktu dengan
berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat
bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan mulai berkembang
menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang
efektif menjadi keinginan semua orang. Dengan komunikasi efektif tersebut,
pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan
sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125 yang artinya: “Serulah
(manusia) kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang bijaksana. Sesungguhnya Allah dialah yang
lebih baik mengetahui tentang siap yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui dari orang-orang yang mendapat petunjuk” (Aang, 2009:5).
Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak
lepas dari segala macam kesibukan. Selama mereka masih hidup dan ingin memenuhi
kebutuhannya maka aktivitas mereka tidak akan berhenti. Tindakan yang mereka
lakukan tentu saja sesuai dengan tujuan masing-masing dan hal ini harus ada
solusi maupun jalan keluarnya. Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang
juga berbudaya adalah manusia itu tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan
orang lain, dari lahir sampai mati juga tetap memerlukan bantuan dari orang
lain (tidak terbatas pada keluarga, saudara, maupun teman). Oleh karena itu
manusia diciptakan dengan beberapa kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang
berbeda-beda untuk saling melengkapi, dikomunikasikan dan saling menolong. Usaha
dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat
berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi
antar budaya.[2]
Budaya adalah bagian dari dakwah. Sebuah kebudayaan
tak bisa terpisahkan dari dakwah, karena dakwah berhembus dan mengalir sepanjang
budaya ada, dakwah tak pernah memilih kemana dia akan menyeruh, dia akan datang
dan mengalir begitu saja seperti angin segar bagi semua orang. Sebagai sebuah gerakan suci yang bersifat universal
dan fleksibel, dakwah senantiasa berkembang sesuai dengan ritme perkembangan
zaman dan kebudayaan yang menyertainya. Pemikiran dakwah sebagai suatu konstruk
akal-budi merupakan hasil bentukan dari konteks budaya yang menjadi latar
belakangnya (culturally constructed). Ia senantiasa terbangun oleh
unsur-unsur kebudayaan tempat setiap figur pemikir dan pelaku dakwah bertumbuh
kembang. Unsur kebudayaan dalam hal ini tercermin pada konteks sosio-politik,
lingkungan akademik, dan organisasi dakwah yang menjadi tempat figur dakwah itu
dibesarkan.[3]
Tujuan utama dari dakwah adalah adanya sebuah
perubahan sosial dan setiap da`i harus memiliki tanggungjawab terhadap
perubahan tersebut. Pada kenyataannya belum terjadi perubahan sosial secara
revolusioner, padahal dakwah dengan gencar dilakukan dimana-mana, baik di
perkotaan maupun ke pelosok pedesaan, baik melalui media elektronik ataupun
media cetak. Problema dakwah menjadi tantangan tersendiri bagi pada da`i, selain
masih adanya fanatisme, masalah patologi sosial semakin merajalela,
kriminalitas yang tingggi, pelecehan seksual, pelacuran, perjudian, mewabahnya
korupsi yang terjadi. Bahkan problema sosial lainnya seperti semakin terbukanya
penyakit seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Kondisi
seperti diatas merupakan tantangan dakwah yang harus dicari jalan keluarnya.
Dakwah bukan sekedar soal perencanaan dan strategi, tetapi dakwah harus mampu
mengikuti irama yang terus berkembang dari waktu ke waktu, namun harus kita
akui dengan semakin maraknya aktivitas dakwah tidak berbanding lurus dengan
meningkatnya kehidupan masyarakat, bahkan meningkatnya pengetahuan agama tidak
berbanding lurus pula dengan perilaku. Bukan hanya sekedar masyarakat, banyak
pula para da`i yang hanya menjadi pemuja popularitas dan uang, sama sekali
mereka tidak pernah peduli dan mengevaluasi hasil dakwahnya di masyarakat.
Kearifan lokal lebih menggambarkan satu
fenomena spesifik yang biasanya menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut,
misalnya Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Cikaracak ninggang batu
laun-laun jadi legok, kudu ngindung ka waktu mi bapa ka jaman (masyarakat
Jawa Barat). Alon alon asal kelakon (Masyarakat Jawa Tengah), rawe-rawe
rantas malang-malang putung (masyarakat jawa Timur), dan sebagainya.
Menurut Anjar Nugroho, selama ini ketegangan
antara agama (terutama Islam) dengan budaya lokal berakibat pada pudarnya
nilai-nilai kearifan lokal. Ia mencoba mengkaji dialektika antara agama dan
kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan
kebudayaan memberikan kekayaan terhadap agama. Akan tetapi, terkadang
dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal berubah menjadi
ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering
dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran ilahiah yang bersifat
absolut, perlu adanya gagasan pribumisasi Islam. Hal ini karena pribumi Islam
menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, tetapi berwujud dalam
pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuk yang otentik dari agama,
serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama
dan budaya.[4]
Jadi, jika Berbicara mengenai budaya dan
kearifan dakwah maka bayangan pertama yang terpikir oleh kita adalah dakwah
yang dilakukan wali songo, bagaimana mereka menyerukan nafas-nafas Islam yang
masing asing bagi masyarakat pribumi hingga saat ini budaya-budaya keislaman
menjadi makanan sehari-hari. Budaya dan kearifan dakwah yang terjadi saat ini
merupakan bentuk akulturasi budaya yang terjadi sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu. Salah satu bentuk kearifan
dakwah yang adalah adanya kegiatan kenduri pada saat-saat tertentu, dll.
[1] Masykurotus Syarifah, “Budaya dan Kearifan Dakwah”,
al-balagh Vol. 1, No. 1, 2016, hal. 24-25.
[2] Nur Ahmad,
“Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, Jurnal Komunikasi
Penyiaran Islam Vol. Vol. 3, No.1, 2015, hal. 31-32.
[3] Didin
Solahudin dan Ahmad Sarbini, “Kajian Dakwah Multiperspektif Sebuah Pendahuluan”
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2014), hlm,7.
[4] Anjar
Nugroho, http//pemikiranislam,word press.com/2007/08/14/Islam-dan-kebudayaan-lokal/




