Senin, 28 Juni 2021

Budaya dan Kearifan Dakwah

 

Budaya dan Kearifan Dakwah

Abstrak: Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Manusia secara fisik hampir tak memiliki perbedaan yang mencolok antara yang satu dengan yang lainnya. Kemudian dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap objek dakwah. Dari masa ke masa kegiatan dakwah selalu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan kondisi budaya dan situasi lingkungan. Dakwah menjadi tugas setiap muslim dalam pengertian yang sederhana dalam skala mikro sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Namun dalam pengertian dakwah secara ideal dan makro, baik yang dilakukan oleh individu terkhusus oleh kelompok dakwah harus dilakukan dengan menguasai berbagai aspek, baik metode, materi, media dan menguasai sasaran dakwah. Munculnya permasalahan dalam dakwah semakin kompleks, apalagi pada zaman yang modern seperti sekarang ini. Para da’i dituntut harus bisa mengetahui gambaran dakwah atau uraian yang mengandung berbagai keterangan, informasi, dan data yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun suatu rencana kegiatan dakwah secara sistematis dan terinci tentang daerah atau batasan geografis yang nantinya akan mewujudkan dakwah antar budaya oleh sang da’i. Oleh karenanya dibutuhkan aktivitas dakwah agar senantiasa mampu mewujudkan dakwah antar budaya saling rukun, saling menghormati dan menghargai diantara sesama serta mampu menjalin hidup yang toleran dengan kearifan budaya yang ada. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai.

Kata Kunci: Budaya, Kearifan, Dakwah

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan (Enjang, 2009. 24-34). Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi tergantung pada budaya: Bahasa, aturan, dan norma masing-masing (Liliweri, 2011. 9). Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam bukunya “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu sebagai interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2009. 12-13). Dalam bukunya, Abraham Laswell mengatakan bahwa komunikasi adalah who says what to whom in this channel with what effect. Efek disini merupakan sikap dan tingkah laku hasil berkomunikasi tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa komunikasi adalah proses proses pertukaran pesan dari komunikator dan komunikan yang menghasilkan efek. Adapun unsur-unsur komunikasi antaralain: komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek.[1]

Seiring dengan berjalannya waktu dengan berbagai perkembangan manusia, maka komunikasi yang sebelumnya menjadi alat bantu bagi manusia untuk menyampaikan gagasan dan keinginan mulai berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat multi-disipliner. Komunikasi yang efektif menjadi keinginan semua orang. Dengan komunikasi efektif tersebut, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya memperoleh manfaat sesuai yang diinginkan sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125 yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang bijaksana. Sesungguhnya Allah dialah yang lebih baik mengetahui tentang siap yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui dari orang-orang yang mendapat petunjuk” (Aang, 2009:5).

Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari segala macam kesibukan. Selama mereka masih hidup dan ingin memenuhi kebutuhannya maka aktivitas mereka tidak akan berhenti. Tindakan yang mereka lakukan tentu saja sesuai dengan tujuan masing-masing dan hal ini harus ada solusi maupun jalan keluarnya. Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang juga berbudaya adalah manusia itu tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain, dari lahir sampai mati juga tetap memerlukan bantuan dari orang lain (tidak terbatas pada keluarga, saudara, maupun teman). Oleh karena itu manusia diciptakan dengan beberapa kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang berbeda-beda untuk saling melengkapi, dikomunikasikan dan saling menolong. Usaha dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya.[2]

Budaya adalah bagian dari dakwah. Sebuah kebudayaan tak bisa terpisahkan dari dakwah, karena dakwah berhembus dan mengalir sepanjang budaya ada, dakwah tak pernah memilih kemana dia akan menyeruh, dia akan datang dan mengalir begitu saja seperti angin segar bagi semua orang.  Sebagai sebuah gerakan suci yang bersifat universal dan fleksibel, dakwah senantiasa berkembang sesuai dengan ritme perkembangan zaman dan kebudayaan yang menyertainya. Pemikiran dakwah sebagai suatu konstruk akal-budi merupakan hasil bentukan dari konteks budaya yang menjadi latar belakangnya (culturally constructed). Ia senantiasa terbangun oleh unsur-unsur kebudayaan tempat setiap figur pemikir dan pelaku dakwah bertumbuh kembang. Unsur kebudayaan dalam hal ini tercermin pada konteks sosio-politik, lingkungan akademik, dan organisasi dakwah yang menjadi tempat figur dakwah itu dibesarkan.[3]

Tujuan utama dari dakwah adalah adanya sebuah perubahan sosial dan setiap da`i harus memiliki tanggungjawab terhadap perubahan tersebut. Pada kenyataannya belum terjadi perubahan sosial secara revolusioner, padahal dakwah dengan gencar dilakukan dimana-mana, baik di perkotaan maupun ke pelosok pedesaan, baik melalui media elektronik ataupun media cetak. Problema dakwah menjadi tantangan tersendiri bagi pada da`i, selain masih adanya fanatisme, masalah patologi sosial semakin merajalela, kriminalitas yang tingggi, pelecehan seksual, pelacuran, perjudian, mewabahnya korupsi yang terjadi. Bahkan problema sosial lainnya seperti semakin terbukanya penyakit seksual seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Kondisi seperti diatas merupakan tantangan dakwah yang harus dicari jalan keluarnya. Dakwah bukan sekedar soal perencanaan dan strategi, tetapi dakwah harus mampu mengikuti irama yang terus berkembang dari waktu ke waktu, namun harus kita akui dengan semakin maraknya aktivitas dakwah tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kehidupan masyarakat, bahkan meningkatnya pengetahuan agama tidak berbanding lurus pula dengan perilaku. Bukan hanya sekedar masyarakat, banyak pula para da`i yang hanya menjadi pemuja popularitas dan uang, sama sekali mereka tidak pernah peduli dan mengevaluasi hasil dakwahnya di masyarakat.

Kearifan lokal lebih menggambarkan satu fenomena spesifik yang biasanya menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut, misalnya Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok, kudu ngindung ka waktu mi bapa ka jaman (masyarakat Jawa Barat). Alon alon asal kelakon (Masyarakat Jawa Tengah), rawe-rawe rantas malang-malang putung (masyarakat jawa Timur), dan sebagainya.

Menurut Anjar Nugroho, selama ini ketegangan antara agama (terutama Islam) dengan budaya lokal berakibat pada pudarnya nilai-nilai kearifan lokal. Ia mencoba mengkaji dialektika antara agama dan kebudayaan. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberikan kekayaan terhadap agama. Akan tetapi, terkadang dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran ilahiah yang bersifat absolut, perlu adanya gagasan pribumisasi Islam. Hal ini karena pribumi Islam menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan, tetapi berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuk yang otentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya.[4]

Jadi, jika Berbicara mengenai budaya dan kearifan dakwah maka bayangan pertama yang terpikir oleh kita adalah dakwah yang dilakukan wali songo, bagaimana mereka menyerukan nafas-nafas Islam yang masing asing bagi masyarakat pribumi hingga saat ini budaya-budaya keislaman menjadi makanan sehari-hari. Budaya dan kearifan dakwah yang terjadi saat ini merupakan bentuk akulturasi budaya yang terjadi sedikit demi sedikit  seiring berjalannya waktu. Salah satu bentuk kearifan dakwah yang adalah adanya kegiatan kenduri pada saat-saat tertentu, dll.



[1] Masykurotus Syarifah, “Budaya dan Kearifan Dakwah”, al-balagh Vol. 1, No. 1, 2016, hal. 24-25.

[2] Nur Ahmad, “Mewujudkan Dakwah Antar Budaya Dalam Perspektif Islam”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. Vol. 3, No.1, 2015, hal. 31-32.

[3] Didin Solahudin dan Ahmad Sarbini, “Kajian Dakwah Multiperspektif Sebuah Pendahuluan” (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2014), hlm,7.

[4] Anjar Nugroho, http//pemikiranislam,word press.com/2007/08/14/Islam-dan-kebudayaan-lokal/

Senin, 14 Juni 2021

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern

 

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern

Abstrak: Pertukaran kebudayaan adalah suatu hal yang kerap kali terjadi bahkan sejak dahulu kala, proses ini tak terelakkan lagi karena sejatinya proses ini terjadi karena adanya pertemuan seseorang dengan orang lain yang memiliki segala macam perbedaan yang dibawanya. Siapapun yang datang dari suatu negara atau daerah sudah pasti tidak akan terlepas dari budaya di mana ia lahir dan dibesarkan. Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya, ia harus berbagi ruang dengan orang lain dan dari budaya lain juga. Pertukaran budaya ini, mungkin saja menimbulkan konflik. Konflik bisa diredam dengan lahirnya sebuah kesadaran bahwa setiap orang harus bisa memahami, menghargai, menghormati setiap perbedaan budaya yang dibawa orang lain dengan dirinya. Proses komunikasi yang berlangsung antara orang-orang berbeda budaya tersebut biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: The Act (Perbuatan), The Scene (Adegan), The Agent (Pelaku), The Agency (Perantara), dan The Purpose (Tujuan). Faktor-faktor tersebut di atas juga menjadi salah satu penentu sebuah proses komunikasi itu berjalan efektif. Berdasarkan hal itu pula akan diketahui apa saja hambatan yang dapat membendung terjadinya Komunikasi Lintas Budaya dalam Dakwah Multikultural Modern. Sehingga proses Komunikasi dakwah multikultural ini dapat berjalan dengan baik sehingga terwujudkannya tujuan dakwah yang diinginkan.

Kata Kunci: Hambatan, Komunikasi Lintas Budaya, Dakwah, Dakwah Multikultural Modern.

Globalisasi terjadi karena perkembangan teknologi yang begitu pesat. Teknologi informasi yang semakin canggih memungkinkan setiap orang mengenggam infromasi. Kecanggihan teknologi transportasi memungkinkan setiap orang berkunjung ke setiap negara berbeda hanya dalam waktu beberapa jam. Pertukaran kebudayaan adalah hal yang sangat mungkin terjadi, karena siapapun yang datang dari suatu negara atau daerah sudah pasti tidak akan terlepas dari budaya di mana ia lahir dan dibesarkan. Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya, ia harus berbagi ruang dengan orang dari budaya lain (berbeda darinya). Pertukaran budaya ini, mungkin saja menimbulkan konflik. Konflik bisa diredam dengan lahirnya sebuah kesadaran bahwa setiap orang harus bisa memahami budaya orang lain yang berbeda budaya dengan dirinya. Menurut Deddy Mulyana bahwa budaya-budaya yang sangat berbeda memiliki sistem- sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara kita berkomunikasi sangat bergantung pada budaya kita: bahasa, aturan, dan norma kita masing-masing.[1]

Berbeda budaya berarti berbeda dalam menyampaikan ide, gagasan, dan berbeda dalam perilaku keseharian. Berbeda budaya berarti berbeda dalam strategi komunikasi. Seorang yang hanya mengerti bahasa daerah tidak akan bisa mengerti bila menerima pesan dalam bahasa Indonesia. Seorang yang budayanya begitu santun kepada orang tua tidak akan menerima orang yang tidak hormat terhadap orang yang dituakan. Seorang yang dalam kebudayaannya terbiasa bersikap apa adanya tidak akan menerima budaya yang penuh kepura-puraan. Candio Elliot mencontohkan, gaya promosi diri mungkin sangat sedikit ditampilkan oleh penduduk asli Amerika (native) termasuk orang Asia umumnya, disusul orang Hispanik, dan gaya seperti itu kebanyakan digunakan oleh orang Afrika. Gaya berpakaian formal mungkin sedikit ditunjukkan oleh orang Hispanik dan penduduk asli orang Afrika, namun sangat banyak dipamerkan oleh orang-orang Anglo (Amerika Campuran).[2]

Komunikasi Lintas Budaya & Dakwah Multikultural Modern

Mengenai apa itu komunikasi lintas budaya sebenarnya sudah dijelaskan pada artikel atau pembahasan sebelumnya, namun dalam pembahasan ini akan dipaparkan kembali secara singkat tentang apa itu komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru).

Dakwah secara umum dapat diartikan upaya seseorang atau lembaga yang mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan kebenaran serta mencegah dari keburukan. Sehingga dakwah bermakna ajakan untuk memahami, mempercayai (mengimani), dan mengamalkan ajaran Islam, juga mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, yang mempunyai tujuan pokok yaitu tercapainya sebuah kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Imron ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Sedang Multikulturalisme sendiri dapat dipahami sebagai sebuah perspektif atau cara pandang yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dan fenomena kemajemukan budaya, bangsa, etnis, suku, ras, golongan, dan agama untuk berinteraksi atau bahkan berkontestasi di dalam batas-batas wilayah sebuah negara.[3] Jadi dapat disimpulkan jika Dakwah Multikultural adalah upaya seseorang atau lembaga yang mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan kebenaran serta mencegah dari keburukan. Sehingga dakwah bermakna ajakan kepada seluruh umat manusia tanpa membedakan suku bangsa, ras, gender dan umur untuk memahami, mempercayai (mengimani) dan mengamalkan ajaran Islam, juga mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan, baik secara individual maupun secara kelompok dengan bergandengan tangan saling mendukung dengan proses-proses kesederajatan pelaku secara individual. Lalu apa itu dakwah multikultural modern?

Dakwah Multikultural Modern adalah aktivitas dakwah multikultural dengan  mengikuti zaman modern ini (globalisasi) di mana proses dakwah sendiri dibuat to the point (tidak berbelit-belit, langsung pada apa yang dituju). Dalam perkembangannya dakwah semacan ini dirasa lebih efisien karena lebih mudah dilakukan. Dakwah ini dilakukan dengan memanfaatkan media teknologi informasi yang saat ini sudah masuk pada ranah kehidupan yang sangat individual. Misalnya teknologi Handphone. Melalui alat tersebut semua lapisan masyarakat bisa mengakses berbagai informasi apa saja yang di inginkan.

Namun dalam setiap proses komunikasi, unsur hambatan tidak pernah ketinggalan, karena komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dapat mengatasi hambatan-hambatan selama melakukan proses komunikasi tersebut. Hambatan-hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern, antaralain:

1)      Etnosentrisme

Sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa budaya sendiri lebih unggul dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah budaya lain, dan tidak mau mengakui keunikan budaya lain sebagai suatu ciri khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang dan mengukur budaya lain berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap berlawanan dan berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri. Sikap ini dapat mengakibatkan adanya pembatasan pergaulan dengan individu yang memiliki budaya yang berbeda. Contohnya kecenderungan orang Indonesia yang mengganggap budaya ‘barat’ yang vulgar berlawanan dengan budaya ‘timur’ yang santun. Hal tersebut menimbulkan ketakutan akan tercemarnya budaya lokal oleh budaya asing, sehingga pergaulan dengan orang barat akan dibatasi.

2)      Stereotipe

Sikap yang menggeneralisasi atau menyamaratakan sekelompok orang tanpa mempertimbangkan kepribadian atau keunikan masing-masing individu. Stereotipe mengelompokkan individu berdasarkan keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak memandang individu dalam kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik individual mereka diabaikan, dianggap homogen. Sikap ini bersifat negative karena dapat menghambat berjalannya proses komunikasi lintas budaya yang efektif dan harmonis.

3)      Rasialisme,

Prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap RAS tertentu.  Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya, prilaku ini bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda dengan sikap rasis, rasialisme merujuk pada gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial.

4)      Prasangka

Persepsi yang keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka mirip dengan streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil, menyimpang, dan intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada umumnya bersifat negatif, adanya prasangka dapat  membuat seseorang memandang rendah dan bahkan memusuhi orang atau kelompok lain. Hadirnya prasangka berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara pemilik prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa, seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan membuat komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap orang pasti akan lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan dirinya dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi.

5)      Jarak Sosial

Berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, buka perbedaan kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial membagi individu dalam kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan jarak sosial membagi individu individu dalam suatu kelompok secara horizontal, berdasarkan peradaban. Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi. Misalnya jarak sosial antara peradaban modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di digitalisasi secara online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara manual. 

6)      Persepsi

Proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang ketika berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda.  Persepsi negatif dapat berdampak buruk bagi kefektifan komunikasi lintas budaya.

7)      Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang menghasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

8)      Paralinguistik

Gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat.

Adapun faktor lain yang dapat menghambat adanya komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern antaralain yakni fisik, budaya, motivasi, pengalaman, emosi, bahasa (verbal), nonverbal, dan kompetisi.

 

 

 

Referensi:

Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)

Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, (Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197

Aziz, 2009, Multikulturalisme: Wawasan Alternatif Mengelola Kemajemukan Bangsa, dalam Jurnal Titik-Temu, Volume 2, Nomor 1. h. 105

 

 

 



[1] Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)

[2] Deddy Mulyana, Komunikasi Efektif, (Bandung: PT Rosda Karya, 2004), hal 197

[3] Aziz, 2009, Multikulturalisme: Wawasan Alternatif Mengelola Kemajemukan Bangsa, dalam Jurnal Titik-Temu, Volume 2, Nomor 1. h. 105

Senin, 07 Juni 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non-Verbal dalam Ilmu Dakwah

 

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non-Verbal dalam Ilmu Dakwah

Abstrak: Setiap manusia yang hidup dalam masyarakat tidak akan pernah lepas dari komunikasi. Karena sejatinya komunikasi merupakan bagian dari proses aktivitas dasar manusia. Komunikasi dapat terjadi apabila ada komunikator (orang yang menyampaikan pesan atau informasi) dan komunikan (orang yang menerima pesan). Begitupun dalam Ilmu Dakwah, dalam berdakwah tentu saja kita akan bertukar pesan dan informasi pada orang lain, entah dari budaya sama ataupun berbeda. Oleh karena itu komunikasi sangat berperan besar dalam berjalannya aktivitas dakwah. Masalah dalam komunikasi lintas budaya biasanya datang dari transmisi pesan. Dalam komunikasi antara orang-orang dari budaya yang sama, orang yang menerima pesan menafsirkannya berdasarkan pada nilai-nilai, keyakinan, dan harapan untuk perilaku yang mirip dengan orang-orang yang mengirim pesan. Ketika ini terjadi, cara pesan yang ditafsirkan oleh penerima cukup mirip dengan apa yang dimaksudkan oleh sang pembicara. Namun, ketika penerima pesan adalah orang dari budaya yang berbeda, penerima menggunakan informasi dari budaya sang pembicara untuk menafsirkan pesan. Pesan yang ditafsirkan mungkin sangat berbeda dari apa yang pembicara maksudkan.

Kata Kunci: Komunikasi, Aktivitas, Komunikasi Lintas Budaya, Komunikasi Verbal, Komunikasi Non-Verbal, Dakwah.

Pengertian Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya

Aktivitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sebuah keaktifan, kegiatan-kegiatan, kesibukan, atau bisa juga berarti kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan tiap bagian dalam tiap suatu organisasi atau Lembaga. Atau dapat diartikan sebagai bentuk keatifan dan kegiatan.[1]

Sedangkan menurut Kamus Besar Ilmu Pengetahuan aktivitas berasal dari kata activity yang berarti aktivitas, bertindak. Yakni tindakan pada diri setiap eksistensi atau makhluk yang membuat atau menghasilkan sesuatu dengan aktivitasnya, ini menandai bahwa hubungan khusus antara manusia dengan dunia.

Berbicara tentang Komunikasi mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Ya, Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris), berasal dari bahasa latin, communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya.

Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Namun apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gestur tubuh (non-verbal) dengan menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara ini (komunikasi non-verbal) biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki perbedaan yang membuat adanya miskomunikasi, biasanya masalah ini terjadi pada komunikator dan komunikan yang memiliki perbedaan, keterbatasan bahasa, dll. Sehingga memaksa mereka untuk menggunakan Bahasa non-verbal untuk memberikan pengertian maksud yang dikatakan.

Sedangkan menurut KBBI Lintas Budaya memiliki arti pertemuan antara dua budaya atau lebih yang berlangsung secara cepat. Jadi, Komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru). Berkenaan dengan komunikasi lintas budaya yang tepat, dengan mempelajari situasi di mana orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda saling berinteraksi. Selain bahasa, komunikasi lintas budaya berfokus pada atribut sosial, pola pikir, dan budaya dari kelompok-kelompok yang berbeda dari orang-orang. Hal ini juga melibatkan pemahaman budaya yang berbeda, bahasa, dan adat istiadat orang-orang dari negara-negara lain. Komunikasi lintas budaya berperan dalam ilmu-ilmu sosial seperti antropologi, studi budaya, linguistik, psikologi dan ilmu komunikasi.

Komunikasi Verbal dan Non-Verbal

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik itu secara lisan maupun tulisan. Komunikasi verbal paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia, untuk mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar, perasaan dan pemikiran, saling berdebat dan bertengkar, dll.[2] Dalam komunikasi dakwah komunikasi verbal ini biasanya digunakan oleh para pendakwah dalam menyampaikan pesan dakwahnya kepada mad’u. Terdapat beberapa unsur dalam komunikasi verbal ini, antaralaian: kata dan Bahasa.[3]

Komunikasi non-verbal adalah komunikasi dengan menggunakan semua isyarat yang bukan kata-kata. Pesan-pesan nonverbal sangat berpengaruh terhadap komunikasi. Pesan atau simbol-simbol non-verbal sangat sulit untuk ditafsirkan dari pada simbol verbal. Bahasa verbal sealur dengan bahasa nonverbal, contoh ketika kita mengatakan “ya” pasti kepala kita mengangguk. Komunikasi nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan.[4] Komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Komunikasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada.

Bentuk komunikasi non-verbal adalah perilaku kinesik. Perilaku kinesik adalah komunikasi melalui gerakan tubuh—misalnya, postur, gerak tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata. Makna dari perilaku tersebut bervariasi antar negara dan mempengaruhi komunikasi lintas budaya. Bentuk komunikasi nonverbal secara kinesik adalah kontak mata dan menggunakan mata untuk menyampaikan pesan. Secara keseluruhan, komunikasi nonverbal memberikan petunjuk untuk apa yang dikatakan secara verbal dengan penggambaran fisik. Komunikasi nonverbal telah ditunjukkan untuk memperhitungkan antara 65% dan 93% dari ditafsirkannya proses komunikasi.

Seperti yang kita ketahui bahwa Masalah dalam komunikasi lintas budaya biasanya datang dari transmisi pesan. Dalam komunikasi antara orang-orang dari budaya yang sama, orang yang menerima pesan menafsirkannya berdasarkan pada nilai-nilai, keyakinan, dan harapan untuk perilaku yang mirip dengan orang-orang yang mengirim pesan. Ketika ini terjadi, cara pesan yang ditafsirkan oleh penerima cukup mirip dengan apa yang dimaksudkan oleh sang pembicara. Namun, ketika penerima pesan adalah orang dari budaya yang berbeda, penerima menggunakan informasi dari budaya sang pembicara untuk menafsirkan pesan. Pesan yang ditafsirkan mungkin sangat berbeda dari apa yang pembicara maksudkan. Oleh karena itu Komunikasi yang efektif bergantung pada pengertian informal antara pihak-pihak yang terlibat yang didasarkan pada kepercayaan yang berkembang di antara mereka. Ketika kepercayaan itu ada, implisit pengertian dalam komunikasi dan perbedaan budaya dapat diabaikan, dan masalah-masalah dapat ditangani dengan lebih mudah. Arti dari kepercayaan dan bagaimana hal ini dikembangkan serta dikomunikasikan berbeda-beda di masyarakat. Demikian pula, beberapa budaya memiliki kecenderungan yang lebih dipercaya dibandingkan dengan yang lain.

Jadi mengenai “Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non-Verbal dalam Ilmu Dakwah” dapat dipahami bahwa Proses berdakwah adalah bentuk aktivitas komunikasi. Komunikasi dalam dakwah umumnya menggunakan bentuk komunikasi verbal, namun tak jarang komunikasi non-verbal akan disisipkan di dalamnya guna mendukung atau memberikan pemahaman lebih kepada mad’u terlebih dengan adalah komunikasi lintas budaya. Aktivitas dakwah lintas budaya tentu sudah banyak terjadi, terlebih di zaman yang serba canggih seperti saat ini. Mad’u dakwah tak terbatas pada Kalangan tertentu, orang dengan budaya tertentu, atau wilayah tertentu.



Referensi:

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2022)

Desak Putu Yuli Kurniati, Modul Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Universitas Udayana, 2016), hal. 7-8

Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007)

Widyo Nugroho, Modul Teori Komunikasi Verbal dan Nonverbal

 

 

 



[1] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2022)

[2] Desak Putu Yuli Kurniati, Modul Komunikasi Verbal dan Nonverbal, (Universitas Udayana, 2016), hal. 7-8

[3] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007)

[4] Widyo Nugroho, Modul Teori Komunikasi Verbal dan Nonverbal

Senin, 17 Mei 2021

Mengenal Unsur-unsur Komunikasi Lintas Budaya dalam Berdakwah

 


Mengenal Unsur-unsur Komunikasi Lintas Budaya dalam Berdakwah


Link youtube

a. Tentang Komunikasi Lintas Budaya 

https://youtu.be/pDY1_rZX62o

https://youtu.be/QpCsUQcPhVs

https://youtu.be/NA4muabsC7U 

b. Link Referensi

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/1781/3/BAB%20II.pdf

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/17817/5/BAB%20II.pdf


Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

Abstrak: Indonesia memiliki masyarakat dengan berbagai macam keberagaman yang ada, seperti suku, agama, ras, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya, untuk itu diperlukan suatu yang dapat menyatukannya, yakni komunikasi. Komunikasi diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan berkomunikasi seseorang dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya, pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya. Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.

Kata Kunci: Dakwah, Komunikasi, Lintas Budaya

Berbicara tentang dakwah dalam kajian pola lintas budaya khususnya di Indonesia maka kita dapat mengarah pada kiblat sampainya agama Islam di Indonesia, dimana Islam lahir dan menyebar di Indonesia tak luput dari sebuah komunikasi lintas budaya. Sejarah mencatat agama Islam dibawah masuk ke Indonesia lewat 3 (tiga) teori: Teori Gujarat (abad ke-13) oleh orang-orang Gujarat (India), Teori Makkah (abad ke-7) oleh orang-orang Arab (Makkah), dan Teori Persia (abad ke- 13) oleh orang-orang Persia (Irak) tentunya dengan berbagai macam bukti penelitian dan berbagai macam peninggalan yang ditemukan.

Agama Islam masuk di Indonesia dibawah oleh cendikiawan, pendakwah, pedagang, hamba sahaya dan lain sebagainya dengan cara yang damai, tanpa paksaan dan iming-iming sesuatu yang menggiurkan. Cara penyebaran agama Islam di Indonesia sendiri tergolong beragam, mulai dari pernikahan pendakwah dan warga pribumi, atau putri-putri kerajaan, melalui perdagangan, Pendidikan, akulturasi budaya, politik dan masih banyak lagi. Sebelum membahas lebih jauh akan lenih baik untuk kita memahami terlebih dahulu maksud dari topik yang akan kita bahas.

Pengertian Komunikasi Lintas Budaya

Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris), berasal dari bahasa latin, communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Menurut Toto Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.[1] Secara sederhana dapatlah diartikan bahwa komunikasi merupakan kegiatan penyampaian pesan dengan tujuan menyamakan makna dari seseorang/lembaga (komunikator) kepada orang lain/audiens (komunikan).[2] Sedangkan menurut KBBI lintas budaya memiliki arti pertemuan antara dua budaya atau lebih yang berlangsung secara cepat. Jadi, Komunikasi lintas budaya adalah Maka dapat dipahami bahwa komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkannya ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dalam hal ini bisa terjadi antar dua kebudayaan yang terkait atau lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan yang baru)".

Unsur-unsur Komunikasi

1. Da’I atau komunikator

Orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u

2. Mad’u atau komunikan

Orang yang menjadi sasaran dakwah atau orang yang akan menerima pesan dakwah dari Da’I 

3. Materi / pesan dakwah

Isi pesan yang akan disampaikan da’I kepada mad’u

4. Media dakwah

Alat yang dipakai dalam menyampaikan pesan dakwha dari Da’I kepada mad’u

5. Feedback

Umpan balik, akibat atau efek dari proses dakwah. Metode yakni cara yang digunakan da’I untuk menyampaikan pesan dakwah untuk mencapaikan tujuan dari dakwah.

Efektifitas Komunikasi Lintas Budaya

Seluruh proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Itulah yang dikatakan sebagai komunikasi lintas budaya yang efektif, sering disebut pula dengan efektivitas komunikasi lintas budaya. Kata Gudykunst, jika dua orang atau lebih berkomunikasi lintas budaya secara efektif maka mereka akan berurusan dengan satu atau lebih pesan yang ditukar (dikirim & diterima) mereka harus bisa memberikan makna yang sama atas pesan. Singkat kata, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan komunikasi lantaran mereka berhasil menekan sekecil mungkin kesalahpahaman.[3]

Everet Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi lintas budaya yang efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksudkan dengan saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan menyandi balik pesan yang diterima. Satu hal yang patut diingat bahwa pemahaman timbal balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju, tetapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesan yang dipertukarkan itu.

Lebih lanjut Schramm mengemukakan, komunikasi lintas budaya yang benar-benar efektif harus memperhatikan empat syarat, yaitu:[4]

a.       Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia

b.       Menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang di kehendaki.

c.       Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara bertindak.

d.       Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain.

Yang paling penting sebagai hasil komunikasi adalah kebersamaan dalam makna itu. Bukan sekedar hanya komunikatornya, isi pesanya, media atau saluranya. Maka, agar maksud komunikasi dipahami dan diterima serta dilaksankan bersama, harus dimungkinkan adanya peran serta untuk mempertukarkan dan merundingkan makna diantara semua pihak dan unsur dalam komunikasi yang pada akhinya akan menghasilkan keselarasan dan keserasian.

Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya

Hambatan-Hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya terjadi karena alasan yang bermacam-macam karena komunikasi mencakup pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima secara berganti-ganti maka hambatanhambatan tersebut dapat terjadi dari semua pihak antara lain:

a.       Keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikasi.

Masalah komunikasi sering terjadi karena alasan dan motivasi untuk berkomunikasi yang berbeda-beda, dalam situasi antarbudaya perbedaan ini dapat menimbulkan masalah.

b.       Etnosentrisme, banyak orang yang menganggap caranya melakukan persepsi terhadap hal-hal disekelilingnya adalah satu-satunya yang paling tepat dan benar, padahal harus disadari bahwa setiap orang memiliki sejarah masa lalunya sendiri sehingga apa yang dianggapnya baik belum tentu sesuai dengan persepsi orang lain.[5] Etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri karena etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya.

c.       Tidak adanya kepercayaan karena sifatnya yang khusus, komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidak percayaan antara pihak-pihak yang terlibat.

d.       Penarikan diri komunikasi tidak mungkin terjadi bila salah satu pihak secara psikologis menarik diri dari pertemuan yang seharusnya terjadi. Ada dugaan bahwa macam-macam perkembangan saat ini antara lain meningkatnya urbanisasi, perasaan-perasaan orang untuk menarik diri dan apatis semakin banyak pula.

Namun Menurut Barna & Rubenm hambatan-hambatan komunikasi lintas budaya dibagi menjadi 5 yaitu: [6]

a.       Mengabaikan Perbedaan Antara Anda dan Kelompok yang Secara Kultural Berbeda

b.       Mengabaikan perbedaan Antara Kelompok Kultural yang Berbeda

c.       Mengabaikan Perbedaan dalam Makna

d.       Melanggar Adat Kebiasaan Kultural

e.       Menilai Perbedaan Secara Negatif

Prinsip Komunikasi Lintas Budaya

Ada beberapa prinsip yang harus  diketahui dalam menjalankan komunikasi lintas budaya, antaralain:[7]

a.       Relativitas Bahasa

Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

b.       Bahasa Sebagai Cermin Budaya

Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat non-verbal. Makin besar perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).

c.       Mengurangi Ketidak-pastian

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidakpastian dam ambiguitas dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena ketidak-pastian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.

d.       Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya

Makin besar perbedaan suatu budaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat lebih waspada. ini mencegah mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.

e.       Memaksimalkan Hasil Interaksi

Dalam komunikasi lintas budaya seperti dalam semua komunikasi, berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara dengan rekan.

 

 

Referensi:

Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112

Hamid, Farid. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa. Jakarta; Kencana. 2011.

Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.

Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 171.

Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional Books, 1996) hlm. 490.

 

 

 



[1] Mubasyaroh, “DAKWAH DAN KOMUNIKASI: Studi Penggunaan Media Massa Dalam Dakwah”, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4, No. 1 Juni 2016, hal. 112

[2] Hamid, Farid. Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa. Jakarta; Kencana. 2011.

[3] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 227-228.

[4] Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), hlm. 171.

[5] Alo Liliweri, Makna Budaya dalam…hlm. 15

[6] Joseph A. DeVito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta: Professional Books, 1996) hlm. 490.

[7] Ibid, Hal. 488

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)

  DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (Ujian Akhir Semester)         Disusun Oleh: Alfa Ch...